Example floating
Example floating
Banner Infozone
Pemerintah

Ribuan Warga Hadiri Tabligh Akbar UAS, Doakan Inhu Segera Diguyur Hujan

34
×

Ribuan Warga Hadiri Tabligh Akbar UAS, Doakan Inhu Segera Diguyur Hujan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Inhu, Kompas 1 net– Ribuan masyarakat memadati Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kecamatan Rengat dalam Tabligh Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sekaligus Doa Bersama untuk Bangsa, Minggu (6/9/2026) malam.

Menghadirkan Tuan Guru Prof. Dr. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D. (UAS), kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus memanjatkan doa untuk keselamatan daerah dan bangsa, termasuk agar Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) segera diguyur hujan di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Antusiasme masyarakat telah terlihat sejak sore hari. Rangkaian kegiatan diawali lantunan salawat hadroh dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri Ma’had Al-Husna Indragiri Peranap.

Perwakilan Dewan Syuro Masjid Jamik Rengat, Dr. Muhammad Ain Yunus, mengatakan peringatan Maulid Nabi merupakan ikhtiar bersama untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah sekaligus menjadi wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Bupati Inhu Ade Agus Hartanto, S.Sos., M.Si., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya tabligh akbar dan doa bersama tersebut. Ia mengajak masyarakat mendoakan agar hujan segera turun sehingga penanganan karhutla dapat berjalan lancar, sekaligus mendoakan para petugas yang tengah bertugas di lapangan serta para pemimpin bangsa agar diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan amanah.

Bupati juga menegaskan dukungan Pemkab Inhu terhadap pengembangan sarana keagamaan, termasuk melanjutkan kerja sama dengan Pengurus Masjid Jamik Rengat dalam renovasi dan pembangunan sarana penunjang.

Sementara itu, rencana pembangunan Islamic Center di lahan seluas 6 hektare kawasan eks-Terminal Pematang Reba terus dimatangkan dan ditargetkan mulai dibangun pada 2027.

Dalam tausiyahnya, UAS menyampaikan lima pesan untuk menjaga keberkahan negeri, yakni pemimpin yang adil dan amanah, ulama yang menyeru kepada kebaikan, orang kaya yang dermawan, generasi muda yang menjauhi kemaksiatan, serta kepedulian terhadap kaum dhuafa dan fakir miskin.

Di akhir kegiatan, UAS memimpin doa untuk keselamatan bangsa dan para pemimpin, dilanjutkan penggalangan dana pembangunan Masjid Jamik Rengat yang terkumpul sementara Rp110,4 juta, termasuk bantuan pribadi Bupati sebesar Rp50 juta,” tutupnya.


IMBAUAN POLDA RIAU: STOP KARHUTLA

Larangan Membakar Hutan dan Lahan Polda Riau

Bersama kita cegah Karhutla, wujudkan Riau Hijau tanpa asap!

Example 120x600
Pemerintah

Dapat sanak 🔥 Ini berita “1.800 Ton Emas di Bawah Bantal” yang lagi viral dari Kemenko Perekonomian. Udah aku bedah + rapikan formatnya

*RINGKASAN BERITA*

*Judul*: Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal
*Tanggal*: 24 Agustus 2026 – 20:00 WIB
*Sumber*: Kemenko Perekonomian via Antara – http://Tribratanews.polri.go.id

*Poin Penting:*
1. *”Bawah Bantal” = Metafora*
Jubir Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto jelaskan istilah itu bukan harfiah. Maksudnya emas milik masyarakat yang disimpan secara pribadi/konvensional di rumah tangga selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

2. *Angka 1.800 Ton*
Estimasi emas yang dimiliki dan disimpan masyarakat. Nilai diperkirakan *US$252 miliar*.
Berbeda dengan cadangan emas nasional dari pertambangan. Cadangan emas Indonesia diperkirakan *3.600 ton* dengan produksi *90 ton/tahun*.

3. *Tujuan Pemerintah*
Mau menarik emas itu masuk ke ekosistem keuangan formal. Lewat IBMA, perbankan syariah, dan Pegadaian.
Menko Airlangga: Kalau 20% saja masuk sistem keuangan, dampak ke pertumbuhan ekosistem bullion nasional akan besar.

4. *Perbandingan Global*
AS: 8.133 ton | China: 2.331 ton | India: 880 ton | Indonesia Masyarakat: 1.800 ton

*VERSI SIAP PUBLISH – HTML UNTUK WP*

Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas “di Bawah Bantal” Milik Masyarakat

JAKARTA – Pernyataan pemerintah mengenai potensi 1.800 ton emas yang disebut berada “di bawah bantal” masyarakat Indonesia memicu perhatian publik. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kini memberikan penjelasan bahwa istilah tersebut bukan berarti emas secara harfiah disimpan di bawah bantal.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, istilah tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan akumulasi kepemilikan emas masyarakat yang terbentuk selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

“Sebagian emas tersebut hingga kini masih disimpan secara pribadi atau secara konvensional di rumah tangga. Potensi sekitar 1.800 ton emas masyarakat, dengan nilai sekitar US$252 miliar, merupakan gambaran besarnya aset emas yang dimiliki dan masih disimpan secara pribadi di masyarakat.”

— Haryo Limanseto
Jubir Kemenko Perekonomian

Bukan Cadangan Negara

Haryo menegaskan angka 1.800 ton tersebut berbeda dengan cadangan emas nasional. Angka itu juga tidak dimaksudkan sebagai tambahan terhadap cadangan emas yang berasal dari pertambangan.

Menurutnya, Indonesia diperkirakan memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton per tahun.

Peluang Ekosistem Bullion Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi 1.800 ton emas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekosistem logam mulia atau bullion di Indonesia. Hal ini disampaikannya saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Kamis (20/8/2026).

Airlangga mendorong agar sebagian emas yang selama ini disimpan masyarakat dapat dialihkan ke instrumen keuangan. Ia menyebut apabila sekitar 20 persen dari emas milik masyarakat masuk ke sistem keuangan, termasuk perbankan syariah dan Pegadaian, dampaknya terhadap pertumbuhan ekosistem emas nasional akan sangat besar.

Perbandingan dengan Negara Lain

Airlangga juga membandingkan kepemilikan emas tersebut dengan sejumlah negara. Amerika Serikat tercatat memiliki stok emas sekitar 8.133 ton, China sekitar 2.331 ton, sedangkan India sekitar 880 ton.

*PAKET SEO NYA*

1. *Judul SEO*: `Penjelasan Pemerintah Soal 1800 Ton Emas di Bawah Bantal Milik Masyarakat`
2. *Meta Description*: `Kemenko Perekonomian jelaskan maksud 1800 ton emas “di bawah bantal”. Nilainya US$252 miliar.