Example floating
Example floating
Banner Infozone
Pemerintah

Media Center World Water Forum 2024 Mampu Tampung Seribu Jurnalis

105
×

Media Center World Water Forum 2024 Mampu Tampung Seribu Jurnalis

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta Pusat, Kompas 1 Net-– Kementerian Komunikasi dan Informatika menyiapkan Media Center World Water Forum ke-10 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Provinsi Bali. Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Usman Kansong meyatakan fasilitas untuk jurnalis nasional dan luar negeri itu mampu menampung hingga seribu orang.

“Media Center World Water Forum 2024 di BNDCC kapasitas 1000 jurnalis. Nanti ada masa registrasi kurang lebih sebulan buat jurnalis, dibuka April 2024 sampai seminggu sebelum acara,” ujarnya usai mendampingi Menkominfo Budi Arie Setiadi menerima kunjungan Presiden World Water Council Loic Fauchon di Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Senin (25/03/2024).

Dirjen Usman Kansong menjelaskan jurnalis atau media bisa melakukan registrasi jika telah menerima undangan yang dikirim panitia World Water Forum 2024.

“Jadi teman-teman (media) nanti harus registrasi begitu dapat undangan, kemudian dapat akreditasi,” imbuhnya.

Dirjen IKP Kementerian Kominfo menjelaskan media center itu akan memiliki berbagai fasilitas penunjang kerja jurnalis peliput World Water Forum ke-10 itu, seperti akses internet cepat dan WiFi yang.disediakan penyelenggara layanan telekomunikasi seluler nasional.

Menurut Dirjen Usman Kansong, penyediaan fasilitas infrastruktur telekomunikasi di Bali untuk jurnalis maupun peserta atau delegasi WWF 2024 dinilai bukan menjadi tantangan berarti karena BNDCC memiliki segudang pengalaman penyelenggaraan event internasional.

“Provider internet nanti (dalam WWF ke-10) adalah operator. Kita (Kominfo) mengkonsolidasikan. Di Bali infrastrukturnya sudah mantap,” jelasnya.

Lebih lanjut Dirjen Usman Kansong mengatakan, berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), forum internasional ini diprediksi akan dihadiri hingga 15.000 orang. Pesertanya terdiri atas delegasi negara, perguruan tinggi, hingga Civil Society Organization (CSO).

“Jadi ( World Water Forum ke-10) di Bali bisa (dihadiri) 15.000 orang perkiraan Kementerian PUPR. 7.000 itu delegasi, nanti dia juga bawa expert, membawa solusi untuk menyelesaikan masalah air seluruh dunia. Kepala negara yang diundang ada 44, tapi untuk tingkat Menteri ada 158 negara,” tuturnya.

Sumber: Kominfo go. id.

Srii003


IMBAUAN POLDA RIAU: STOP KARHUTLA

Larangan Membakar Hutan dan Lahan Polda Riau

Bersama kita cegah Karhutla, wujudkan Riau Hijau tanpa asap!

Example 120x600
Pemerintah

Dapat sanak 🔥 Ini berita “1.800 Ton Emas di Bawah Bantal” yang lagi viral dari Kemenko Perekonomian. Udah aku bedah + rapikan formatnya

*RINGKASAN BERITA*

*Judul*: Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal
*Tanggal*: 24 Agustus 2026 – 20:00 WIB
*Sumber*: Kemenko Perekonomian via Antara – http://Tribratanews.polri.go.id

*Poin Penting:*
1. *”Bawah Bantal” = Metafora*
Jubir Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto jelaskan istilah itu bukan harfiah. Maksudnya emas milik masyarakat yang disimpan secara pribadi/konvensional di rumah tangga selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

2. *Angka 1.800 Ton*
Estimasi emas yang dimiliki dan disimpan masyarakat. Nilai diperkirakan *US$252 miliar*.
Berbeda dengan cadangan emas nasional dari pertambangan. Cadangan emas Indonesia diperkirakan *3.600 ton* dengan produksi *90 ton/tahun*.

3. *Tujuan Pemerintah*
Mau menarik emas itu masuk ke ekosistem keuangan formal. Lewat IBMA, perbankan syariah, dan Pegadaian.
Menko Airlangga: Kalau 20% saja masuk sistem keuangan, dampak ke pertumbuhan ekosistem bullion nasional akan besar.

4. *Perbandingan Global*
AS: 8.133 ton | China: 2.331 ton | India: 880 ton | Indonesia Masyarakat: 1.800 ton

*VERSI SIAP PUBLISH – HTML UNTUK WP*

Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas “di Bawah Bantal” Milik Masyarakat

JAKARTA – Pernyataan pemerintah mengenai potensi 1.800 ton emas yang disebut berada “di bawah bantal” masyarakat Indonesia memicu perhatian publik. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kini memberikan penjelasan bahwa istilah tersebut bukan berarti emas secara harfiah disimpan di bawah bantal.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, istilah tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan akumulasi kepemilikan emas masyarakat yang terbentuk selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

“Sebagian emas tersebut hingga kini masih disimpan secara pribadi atau secara konvensional di rumah tangga. Potensi sekitar 1.800 ton emas masyarakat, dengan nilai sekitar US$252 miliar, merupakan gambaran besarnya aset emas yang dimiliki dan masih disimpan secara pribadi di masyarakat.”

— Haryo Limanseto
Jubir Kemenko Perekonomian

Bukan Cadangan Negara

Haryo menegaskan angka 1.800 ton tersebut berbeda dengan cadangan emas nasional. Angka itu juga tidak dimaksudkan sebagai tambahan terhadap cadangan emas yang berasal dari pertambangan.

Menurutnya, Indonesia diperkirakan memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton per tahun.

Peluang Ekosistem Bullion Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi 1.800 ton emas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekosistem logam mulia atau bullion di Indonesia. Hal ini disampaikannya saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Kamis (20/8/2026).

Airlangga mendorong agar sebagian emas yang selama ini disimpan masyarakat dapat dialihkan ke instrumen keuangan. Ia menyebut apabila sekitar 20 persen dari emas milik masyarakat masuk ke sistem keuangan, termasuk perbankan syariah dan Pegadaian, dampaknya terhadap pertumbuhan ekosistem emas nasional akan sangat besar.

Perbandingan dengan Negara Lain

Airlangga juga membandingkan kepemilikan emas tersebut dengan sejumlah negara. Amerika Serikat tercatat memiliki stok emas sekitar 8.133 ton, China sekitar 2.331 ton, sedangkan India sekitar 880 ton.

*PAKET SEO NYA*

1. *Judul SEO*: `Penjelasan Pemerintah Soal 1800 Ton Emas di Bawah Bantal Milik Masyarakat`
2. *Meta Description*: `Kemenko Perekonomian jelaskan maksud 1800 ton emas “di bawah bantal”. Nilainya US$252 miliar.