Example floating
Example floating
Banner Infozone
Pemerintah

Pimpin Rakor, Sekda Zulfahmi Adrian Tetapkan Inhu Siaga Darurat Hidrometeorologi 

85
×

Pimpin Rakor, Sekda Zulfahmi Adrian Tetapkan Inhu Siaga Darurat Hidrometeorologi 

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

INHU, Kompas 1 net – Wakili Bupati, Sekretaris Daerah Kabupaten Indragiri Hulu, Zulfahmi Adrian, resmi membuka Rapat Koordinasi Penetapan Status Darurat Bencana Hidrometeorologi Tahun 2025 di Auditorium Yopi Arianto lantai 4 Kantor Bupati, Kamis (11/12/2025) pagi.

Dalam sambutannya, Sekda yang membacakan arahan Bupati Inhu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta rakor. Ia berharap kegiatan ini menjadi wadah sinergi dalam menyusun evaluasi, masukan, serta langkah strategis penanggulangan bencana hidrometeorologi di Kabupaten Indragiri Hulu.

Sekda menegaskan bahwa sebagai daerah rawan bencana, risiko hidrometeorologi tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, baik yang disebabkan faktor alam maupun ulah manusia. Namun, upaya pengurangan risiko harus terus dilakukan melalui identifikasi, analisis, pencegahan, mitigasi, serta koordinasi lintas sektor yang lebih komprehensif dan terarah.

Lebih lanjut, Sekda menjelaskan bahwa Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 telah mengubah paradigma penanggulangan bencana dari yang semula responsif menjadi preventif. UU tersebut menjadi landasan hukum penting dalam integrasi penanggulangan bencana ke dalam pembangunan daerah, penguatan pendanaan pemerintah, serta peningkatan kapasitas kelembagaan.

Ia juga menginstruksikan KPBD untuk memperkuat koordinasi bersama OPD dan instansi terkait. Selain itu, para camat, lurah, dan kepala desa diminta meningkatkan pemantauan wilayah, edukasi kepada masyarakat, serta pelaporan cepat apabila ditemukan potensi bencana. “Saya minta semua lini bergerak bersama agar penanganan dan kesiapsiagaan dapat berjalan optimal,” tegasnya.

Sekda berharap melalui komitmen dan kolaborasi semua pihak, penanganan bencana hidrometeorologi di Kabupaten Indragiri Hulu dapat berlangsung lebih efektif.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang langsung dipimpin oleh Sekda.

Acara ditutup dengan penandatanganan kesepakatan penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi Kabupaten Inhu Tahun 2025.

Jaya: Kompas1net Inhu, Melaporkan


IMBAUAN POLDA RIAU: STOP KARHUTLA

Larangan Membakar Hutan dan Lahan Polda Riau

Bersama kita cegah Karhutla, wujudkan Riau Hijau tanpa asap!

Example 120x600
Pemerintah

Dapat sanak 🔥 Ini berita “1.800 Ton Emas di Bawah Bantal” yang lagi viral dari Kemenko Perekonomian. Udah aku bedah + rapikan formatnya

*RINGKASAN BERITA*

*Judul*: Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal
*Tanggal*: 24 Agustus 2026 – 20:00 WIB
*Sumber*: Kemenko Perekonomian via Antara – http://Tribratanews.polri.go.id

*Poin Penting:*
1. *”Bawah Bantal” = Metafora*
Jubir Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto jelaskan istilah itu bukan harfiah. Maksudnya emas milik masyarakat yang disimpan secara pribadi/konvensional di rumah tangga selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

2. *Angka 1.800 Ton*
Estimasi emas yang dimiliki dan disimpan masyarakat. Nilai diperkirakan *US$252 miliar*.
Berbeda dengan cadangan emas nasional dari pertambangan. Cadangan emas Indonesia diperkirakan *3.600 ton* dengan produksi *90 ton/tahun*.

3. *Tujuan Pemerintah*
Mau menarik emas itu masuk ke ekosistem keuangan formal. Lewat IBMA, perbankan syariah, dan Pegadaian.
Menko Airlangga: Kalau 20% saja masuk sistem keuangan, dampak ke pertumbuhan ekosistem bullion nasional akan besar.

4. *Perbandingan Global*
AS: 8.133 ton | China: 2.331 ton | India: 880 ton | Indonesia Masyarakat: 1.800 ton

*VERSI SIAP PUBLISH – HTML UNTUK WP*

Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas “di Bawah Bantal” Milik Masyarakat

JAKARTA – Pernyataan pemerintah mengenai potensi 1.800 ton emas yang disebut berada “di bawah bantal” masyarakat Indonesia memicu perhatian publik. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kini memberikan penjelasan bahwa istilah tersebut bukan berarti emas secara harfiah disimpan di bawah bantal.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, istilah tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan akumulasi kepemilikan emas masyarakat yang terbentuk selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

“Sebagian emas tersebut hingga kini masih disimpan secara pribadi atau secara konvensional di rumah tangga. Potensi sekitar 1.800 ton emas masyarakat, dengan nilai sekitar US$252 miliar, merupakan gambaran besarnya aset emas yang dimiliki dan masih disimpan secara pribadi di masyarakat.”

— Haryo Limanseto
Jubir Kemenko Perekonomian

Bukan Cadangan Negara

Haryo menegaskan angka 1.800 ton tersebut berbeda dengan cadangan emas nasional. Angka itu juga tidak dimaksudkan sebagai tambahan terhadap cadangan emas yang berasal dari pertambangan.

Menurutnya, Indonesia diperkirakan memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton per tahun.

Peluang Ekosistem Bullion Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi 1.800 ton emas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekosistem logam mulia atau bullion di Indonesia. Hal ini disampaikannya saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Kamis (20/8/2026).

Airlangga mendorong agar sebagian emas yang selama ini disimpan masyarakat dapat dialihkan ke instrumen keuangan. Ia menyebut apabila sekitar 20 persen dari emas milik masyarakat masuk ke sistem keuangan, termasuk perbankan syariah dan Pegadaian, dampaknya terhadap pertumbuhan ekosistem emas nasional akan sangat besar.

Perbandingan dengan Negara Lain

Airlangga juga membandingkan kepemilikan emas tersebut dengan sejumlah negara. Amerika Serikat tercatat memiliki stok emas sekitar 8.133 ton, China sekitar 2.331 ton, sedangkan India sekitar 880 ton.

*PAKET SEO NYA*

1. *Judul SEO*: `Penjelasan Pemerintah Soal 1800 Ton Emas di Bawah Bantal Milik Masyarakat`
2. *Meta Description*: `Kemenko Perekonomian jelaskan maksud 1800 ton emas “di bawah bantal”. Nilainya US$252 miliar.