Oleh : M. Sangap Siregar, MA
Dosen : Prodi Kesmas Fakultas Kesehatan Univ. Hang Tuah Pekanbaru Riau
Alumni : Magister Psikologi Konseling University Kebangsaan Malaysia, 2004
Kalam bermula dengan bismillah, salam dibuka dengan sholawat. Semoga nitizen bahagia sejahtera, hidup berkah sepanjang hayat. Aamiin!!
Pendahuluan
Penyakit jantung koroner, kini menjelma menjadi epidemi senyap dan pembunuh nomor satu di Indonesia dan dunia. Dahulu dikenal sebagai penyakit usia lanjut, kini menyerang usia produktif bahkan dibawah usia 40 tahun. Fenomena yang makin sering dijumpai adalah pemasangan ring atau stant jantung – tindakan yang dahulu dianggap langka. Kini menjadi hal yang lumrah.
Mengapa penyakit ini meluas sedemikian rupa? Akar penyebabnya bukan semata faktor usia, melainkan perubahan drastis pola hidup, makan instan, gaya hidup, kurang gerak, serta tekanan yang menggerus dinding pembuluh darah perlahan tapi pasti. Artikel ini, mengurai hakikat penyakit fenomena pasang ring, penyebab sesungguhnya, serta upaya pencegahan sejak dini.
Latar Belakang
Penyakit jantung koroner adalah kondisi penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang menyuplai oksigen ke otot jantung, akibat penumpukan plak lemak, kolestrol, dan zat lain – disebut dalam istilah kedokteran ateroskelerosis.
Data WHO mencatat penyakit ini merenggut lebih dari 17 juta jiwa setiap tahun, dan di Indonesia menempati urutan pertama penyebab kematian.
Pemasangan ring jantung atau intervensi koroner perkutan atau Percutaneous Coronary Intervention (PCI) menjadi solusi medis utama ketika penyumbatan sudah signifikan atau ketika terjadi serangan jantung akut mendadak. Namun tindakan ini bukanlah obat penyembuh total, melainkan sarana menahan aliran darah kembali lancar – sementara akar penyebab penyakit tetap ada jika gaya hidup tidak diubah.
Uraian Materi
A. Hakikat Penyakit dan Gejala Awal
Arteri Koroner yang mulanya lentur dan bersih, lama-kelamaan tergores dan menebal karena faktor resiko plak menumpuk perlahan, hingga suatu saat pecah dan membentuk gumpalan darah yang menyumbat aliran secara tiba-tiba – itulah serangan jantung.
Gejala Yang Wajib Diwaspadai :
- Nyeri dada seperti ditekan benda berat, terasa di tengah atau kiri, menjalar ke bahu kiri, leher, rahang atau punggung.
- Sesak napas meski aktivitas ringan
- Keringat dingin, mual, pusing, atau rasa lelah luarbiasa tanpa sebab.
- Bagi wanita lansia atau penderita diabets sering kali tanpa nyeri dada yang khas, hanya rasa tidak nyaman samar atau sesak
B. Fenomena Pasang Ring Jantung
Pemasangan ring (stent) adalah tindakan memasukkan selang tipis lewat pergelangan tangan atau lipat paha, mengembangkan balon untuk membuka sumbatan, lalu memasang jaring logam berlapis alat agar pembuluh tetap terbuka.
Kapan Wajib dilakukan?
- Bila serangan jantung akut tiba – semakin cepat dilakukan semakin banyak otot jantung yang terselamatkan
- Nyeri dada tak teratasi dengan obat
- Penyempitan pembuluh darah diatas 70 % yang membahayakan fungsi jantung
Realitas Yang Harus dipahami :
- Ring hanya menjaga pembuluh agar tetap terbuka, tidak menghilangkan penyebab penyakit
- Pasca pemasangan wajib minum pengencer darah bertahun-tahun agar ring tidak tersumbat kembali
- Tanpa perubahan total gaya hidup, penyumbatan akan muncul di tempat lain atau pada ring itu sendiri
C. Muasal Penyebab Utama Yang Sering Terlupakan
Penyakit ini lahir dari gabungan faktor yang bisa diubah dan yang tak bisa diubah :
- Faktor yang tak bisa diubah : Usia, jenis kelamin, riwayat keluarga
- Faktor Yang bisa diubah – inilah kunci utama ; – Hipertensi : tekanan darah tinggi lama-lama merusak dinding pembuluh darah. – Kolestrol Jahat (LDL) Tinggi ; menumpuk menjadi plak
- Kebiasaan makan : makanan instan siap saji, tinggi garam, gula, lemak jenuh, dan pengawet memicu peradangan serta pengerasan pembuluh.
- Merokok/Vape : Nikotin merusak lapisan pembuluh darah dan memicu gumpalan
- Kurang gerak, obesitas, dan diabetes : mempercepat penumpukan plak
- Stres kronik : meningkatkan hormon yang mempersempit pembuluh darah.
D. Antisipasi Preventif :
Jalan Mencegah Sebelum Terlambat
Penyakit jantung koroner 90% dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup dan pengendalian faktor resiko.
Langkah kuncinya :
- Ubah pola makan : kurangi garam, gula, lemak jenuh dan makanan olahan, perbanyak sayuran, buah2an, ikan, kacang2an dan minum air putih. Kembali ke makan makanan alami jauh lebih ampuh dari pada obat apapun.
- Berhenti merokok : resiko turun drastis setahun setelah berhenti
- Kendalikan tekanan darah, gula dan kolestrol, cek rutin meski merasa sehat. Kawal dengan pola hidup, baru obat jika sudah perlu
- Kelola stres dan tidur yang cukup : jantung butuh istirahat dan ketenangan
- Pahami gejala : jika muncul keluhan seperti kelainan, rasa nyeri, sesak napas dll. perlu segera ke dokter bawa langsung ke rumah sakit jangan ditunda.
Dan sebelumnya penting diingat dalam upaya tindakan preventif pencegahan :
Rutinkan pola penjagaan kesehatan alami, seperti kombinasi refleksologi terapi, akupresur dan Urut Tradisional adalah upaya jitu yang amat berkesan. Kenali gejala ringan gangguan pada tubuh seperti : meriang, tak enak badan, kebas2 di ujung jari, berat terasa tengkuk, sakit persendian, bahu terasa kaku, pinggang dan punggung terasa berat dan payah bergerak. Semua itu adalah sinyal-sinyal penanda bahwa badan butuh bantuan terapi preventif menandakan ada aliran darah yang kurang lancar, ada gumpalan2 lemak yang mengganggu. Saat kondisi gangguan masih ringan, saat itulah upaya tindakan preventif dilakukan agar gejala tidak bertambah berat.
Pembiaran atas gejala ringan adalah bentuk tabungan akumulatif gejala dari semasa ke semasa, sehingga kena jantung koroner atau penyakit kronik lainnya menuju komplikasi gangguan antar organ.
Kesimpulan dan Penutup
Jantung koroner bukan takdir yang tiba2 bisa datang tanpa sebab, melainkan ia adalah buah kebiasaan yang terakumulasi seiring perjalanan waktu.
Fenomena makin banyaknya pemasangan ring adalah cerminan pola hidup yang kian jauh dari gaya hidup alami. Ring memang menyelamatkan nyawa saat kondisi darurat tiba dengan serangan jantung akut mengunci. Namun ia bukanlah tameng abadi.
Tanpa perubahan total gaya hidup, pola makan dan kebiasaan sehari-hari penyakit ini akan kembali dalam bentuk lain pada jaringan tubuh yang lain biasanya dia menyerang sel tubuh yang lemah. Maka pencegahan adalah investasi paling berharga, antisipasi ketika gejala masih ringan, kendalikan yang bisa dikendalikan, hindari yang bisa merusak.
Periksakan diri secara berkala, jaga kesehatan organ sebelum parah, karena kalau sudah dioperasi, luka operasinya saja sudah menjadi keluhan tambahan yang amat mendera keuzuran diri. Oleh sebab itu tindakan preventif lebih baik dari pengobatan insyaAllah. Wassalam***
















