Example floating
Example floating
Ekonomi

Pedagang Keluhkan Suplai Minyak Goreng Kurang 80 Kg Dari Produsen Swasta dan Distributor BUMN Pangan

16
×

Pedagang Keluhkan Suplai Minyak Goreng Kurang 80 Kg Dari Produsen Swasta dan Distributor BUMN Pangan

Sebarkan artikel ini

Jakarta | Kompas 1 Net- Pedagang Minyak Goreng Curah di Pasar Kramat Jati, Haji Sidik mengeluhkan adanya kekurangan sebanyak 80 Kg dari jumlah 5000 Kg atau 5 Ton, yang dipesan olehnya pada minggu lalu dari Apical Group selaku Produsen dan BUMN PT Rajawali Nusindo selaku distributor, Rajawali Nusindo merupakan anak perusahaan dari BUMN Holding Pangan RNI ID Food.

“Ada kekurangan sebesar 80 Kg. Padahal jumlah sebesar itu sangat menguntungkan bagi kami agen maupun pedagang kecil,” kata Sidik, kepada wartawan, Senin (18/4).

Dia menuturkan jika tangki minyak goreng mengalami kebocoran, mungkin hanya sebesar 10 sampai 20 Kg. Namun jika dalam jumlah yang mencapai 80 Kg dirinya pun menyangsikan hal tersebut.

“80 Kg itu jumlah yang sangat banyak. Buat kita para pedagang tentunya sangat berarti,” jelasnya.

Diketahui sebelumnya, Haji Sidik mendapatkan suplai minyak goreng dari distributor Holding BUMN Pangan ID Food, melalui anak perusahaannya yakni PT Rajawali Nusindo dalam pemesanannya yang tertera 5000 KG di surat jalan dari produsen minyak goreng apical group, namun kenyataannya berkurang sebanyak 80 Kg.

“Dihitung dari tangki masuk ke drigen, dari 5000 kg kurangnya 80 kg jadi totalnya 4920 kg bukan 5000 kg, seperti ini yang rugi saya yang kumpulkan pedagang untuk beli minyak goreng, mau stabilkan stok dan harga minyak goreng malah dirugikan, harus ketat pengawasan dan pengawalan minyak goreng saat pengisian ke mobil tangki dari produsen, jangan hanya distributor cuma sewa mobil tangki, terus tidak ada yang kawal dari distributor, masa distributor BUMN Rajawali Nusindo tidak bisa bayar orang untuk kawal mobil tangki dan bisa pengawasan agar tidak ada kurang timbangan isi minyak goreng di mobil tangki”. Tegas.

 

Supriyadi

Example 120x600
Ekonomi

Jakarta 07/10/2026 Kemenkeu perekonomian Indonesia awali Triwulan IV-2026 catatan menggembirakan tengah dinamika global penuh ketidakpastian perekonomian nasional terbukti tetap resilien tercermin tiga indikator penting dirilis awal Oktober 2026 inflasi terkendali neraca perdagangan terus surplus kembalinya aktivitas manufaktur zona ekspansi Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto sampaikan inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen yoy masih dalam sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen inflasi inti melandai 2,84 persen yoy sedangkan inflasi Administered Prices AP turun 3,25 persen yoy antara lain dipengaruhi normalisasi mobilitas pascalibur sekolah dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi relatif terbatas komponen Volatile Food masih perhatian inflasi 5,03 persen yoy dipengaruhi dinamika permintaan penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem El Nino bencana alam Pemerintah terus perkuat koordinasi pusat daerah jaga pasokan kelancaran distribusi keterjangkauan harga khususnya menjelang akhir tahun jaga daya beli ketahanan pangan Pemerintah perkuat penyaluran PKH Tahap III Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan Oktober Desember 2026 percepatan SPHP beras medium Perum Bulog dilengkapi Gerakan Pangan Murah GPM optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah CBP kerja sama antardaerah penguatan produksi melalui pengelolaan air jaringan irigasi pengaturan pola tanam pemanfaatan lahan produktif pemetaan wilayah rawan Early Warning System sisi eksternal neraca perdagangan Indonesia surplus kumulatif USD7,25 miliar Januari Agustus 2026 kinerja ekspor Januari Agustus 2026 ditopang besi baja USD19,18 miliar tumbuh 4,88 persen CPO turunannya USD17,75 miliar tumbuh 6,57 persen batu bara USD16,58 miliar tumbuh 4,31 persen ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen mencerminkan kontribusi hilirisasi kinerja ekspor sisi impor bahan baku penolong barang modal dominasi masing-masing USD133,38 miliar USD36,74 miliar total 91,3 persen impor peningkatan impor mesin peralatan mekanis 15,26 persen mesin perlengkapan elektrik 22,94 persen menunjukkan meningkat kebutuhan input produksi barang modal sejalan aktivitas produksi investasi domestik penguatan aktivitas manufaktur tercermin PMI Manufaktur September 2026 meningkat 52,4 dari 49,8 Agustus kembali berada zona ekspansi perbaikan didukung peningkatan pesanan baru produksi pertumbuhan pesanan ekspor masuknya proyek baru membaiknya daya beli September 2026 pesanan baru tumbuh laju tercepat sejak Februari 2026 sementara pesanan ekspor pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022 samping itu penyerapan tenaga kerja pembelian persediaan input kembali meningkat sisi biaya inflasi harga input output melambat level terendah enam bulan sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi 12 bulan depan tetap tinggi ke depan kebijakan Pemerintah tetap diarahkan jaga daya beli dorong investasi produksi tingkatkan daya saing industri nasional dengan fondasi stabilitas terjaga aktivitas ekonomi kembali menguat kita ingin pastikan momentum ini berlanjut memberikan manfaat semakin luas bagi masyarakat pungkas Juru Bicara Haryo ekon dm al Kemenkeu.`