Example floating
Example floating
Ekonomi

Mengatasi Kenaikan Harga Pangan

70
×

Mengatasi Kenaikan Harga Pangan

Sebarkan artikel ini

Warga membeli beras murah dalam operasi pasar bertajuk Gerakan Pangan Murah di Pinang Merah, Alam Barajo, Jambi, Rabu (6/3/2024). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Kompas 1 Net- Berbagai langkah dilakukan demi mengantisipasi melambungnya harga bahan-bahan pokok, khususnya di momen Ramadan dan Idulfitri 1445 H. Bahan pokok (utamanya pangan) tersedia dengan harga terjangkau. Begitulah harapan masyarakat, baik itu pada saat hari biasa dan terlebih pada periode hari besar keagamaan nasional (HBKN) di tanah air. Harapan besar masyarakat itulah yang menjadi fokus perhatian pemerintah.

Oleh karena itu, berbagai strategi dijalankan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dan menjaga harga bahan pokok tetap stabil. Satu di antaranya, khususnya menjelang Ramadan 2024 dan Hari Raya Idulfitri 1445 H ini, Kementerian Perdagangan meluncurkan Gerakan Pangan Murah (GPM).

“Masyarakat jangan khawatir bahwa kami dari pemerintah siap untuk peningkatan ketersediaan bahan pangan baik di pasar tradisional, pasar modern, maupun melalui Gerakan Pangan Murah yang dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota dan provinsi,” jelas Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan Isy Karim dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) dengan tema ‘Persiapan Ramadan, Kondisi Harga Bahan Pokok’, Senin (4/3/2024).

Jaminan ketersedian bahan pangan, khususnya beras, mendapat dukungan penuh semua pihak yang terkait. Hal itu diungkap Direktur Distribusi dan Cadangan Makanan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Rachmi Widiriani, dengan mengutip hasil rapat koordinasi yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri di Jakarta, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA  Jadi Narasumber di Studio iNewstv Medan, Lucyantini : Mengendalikan Inflasi Tugas Bersama

“Keputusan rapat koordinasi juga mencakup penggiatan gerakan pangan murah di seluruh provinsi dan kabupaten/kota dengan mitra asosiasi dan BUMN yang menawarkan harga lebih terjangkau,” ujar Rachmi dalam FMB9 sebagaimana disimak www.indonesia.go.id.

Sejauh ini, ketersediaan bahan pokok, khususnya beras dipastikan aman. Berdasarkan pemantauan di aplikasi Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), jelas Dirjen Isy Karim, cadangan beras nasional lebih dari 1,2 juta ton beras cadangan, ditambah dengan cadangan untuk keperluan komersial menjadi 1,4 juta ton.

Penyebab Lonjakan Harga

Kenaikan harga beras menjelang puasa 2024, tidak lepas dari adanya ketakseimbangan supply dan demand. Permintaan naik, tapi ketersedian beras turun. Salah satu penyebabnya adalah dampak badai El Nino yang melanda Indonesia sejak pertengahan 2023 yang membuat para petani banyak mengalami gagal panen. Oleh karena itu, untuk menstabilkan supply dan demand, pemerintah mengambil langkah impor.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Rachmi menguatkan fakta bahwa produksi beras nasional mengalami kontraksi dalam delapan bulan terakhir yang berada di bawah angka kebutuhan beras nasional. Untuk mengatasi situasi itu, pemerintah telah mengimpor beras sejak tahun 2023 dan menyiapkan cadangan pangan untuk intervensi sesuai dengan Perpres 125/2022.

BACA JUGA  Depo II Peti Kemas PT. Prima Mas Berau Resmi Beroperasi

“Sebagai bagian dari upaya stabilisasi, pemerintah juga memberikan bantuan pangan sebesar 10 kg per Keluarga Penerima Manfaat (KPM), kepada 22 juta penerima. Langkah ini telah terbukti berdampak pada penahanan laju inflasi, dengan 22 juta KPM tidak perlu bersaing di pasar untuk mendapatkan beras,” papar Rachmi.

Pada saat yang sama, untuk stabilisasi harga, pemerintah juga memilih untuk tidak merelaksasi harga eceran tertinggi (HET), tetapi membanjiri pasar dengan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk mengendalikan harga.

Strategi lain yang diambil bersifat jangka panjang. Yakni, menyiapkan waduk dan embung sebagai cadangan air, serta mengantisipasi kemungkinan El Nino dengan menambahkan beras dari luar negeri. Pemerintah juga akan mengoptimalkan lahan di sekitar waduk untuk budi daya.

Menjelang Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk belanja bijak dan menghindari food waste. Bantuan pangan akan terus diserahkan ke KPM sampai Juni, dan sebentar lagi akan dirilis bantuan untuk keluarga risiko stunting dengan ayam 1 kg dan telur 10 butir.

BACA JUGA  Peresmian Pasar Modren Sorek Ternyata Hanya PHP.

Strategi Kedaulatan Pangan

Di sisi lain, Dekan Pertanian Universitas Sriwijaya Ahmad Muslim menilai, menjelang Ramadan seperti saat ini, permintaan beras memang biasanya meningkat. Hal ini dikarenakan faktor psikologis masyarakat yang ingin memastikan pada waktu ini kebutuhannya aman, sehingga cenderung lebih banyak dalam membeli bahan pokok.

“Saat ini, upaya jangka pendek untuk mengatasi kekurangan beras adalah dengan impor. Namun, untuk jangka panjang, diperlukan strategi sistematis yang memanfaatkan potensi besar yang dimiliki Indonesia,” jelasnya.

Menurut Ahmad, faktor utama rendahnya produksi beras di Indonesia adalah luas lahan padi yang masih rendah, yaitu sekitar 10,2 juta hektar. Idealnya, untuk mencapai swasembada, dibutuhkan luas lahan padi 40 juta hektare dengan asumsi 500 meter persegi per kapita.

Ia juga melihat perubahan iklim menjadi salah satu faktor utama yang membuat Indonesia rentan terhadap penyakit tanaman padi. Oleh karena itu, diversifikasi beras dengan varietas yang lebih sehat juga perlu dipertimbangkan.

Pemerintah sendiri, sejauh ini sudah menetapkan beberapa program untuk menunjang kedaulatan pangan. Di antaranya, program pompanisasi, subsidi pupuk hingga Rp14 triliun, dan program-program perluasan lahan tanam.

 

Sumber: Indonesia.go.id

Penulis: Dwitri Waluyo

Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari

 

 

Example 120x600
Ekonomi

Jakarta 07/10/2026 Kemenkeu perekonomian Indonesia awali Triwulan IV-2026 catatan menggembirakan tengah dinamika global penuh ketidakpastian perekonomian nasional terbukti tetap resilien tercermin tiga indikator penting dirilis awal Oktober 2026 inflasi terkendali neraca perdagangan terus surplus kembalinya aktivitas manufaktur zona ekspansi Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto sampaikan inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen yoy masih dalam sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen inflasi inti melandai 2,84 persen yoy sedangkan inflasi Administered Prices AP turun 3,25 persen yoy antara lain dipengaruhi normalisasi mobilitas pascalibur sekolah dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi relatif terbatas komponen Volatile Food masih perhatian inflasi 5,03 persen yoy dipengaruhi dinamika permintaan penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem El Nino bencana alam Pemerintah terus perkuat koordinasi pusat daerah jaga pasokan kelancaran distribusi keterjangkauan harga khususnya menjelang akhir tahun jaga daya beli ketahanan pangan Pemerintah perkuat penyaluran PKH Tahap III Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan Oktober Desember 2026 percepatan SPHP beras medium Perum Bulog dilengkapi Gerakan Pangan Murah GPM optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah CBP kerja sama antardaerah penguatan produksi melalui pengelolaan air jaringan irigasi pengaturan pola tanam pemanfaatan lahan produktif pemetaan wilayah rawan Early Warning System sisi eksternal neraca perdagangan Indonesia surplus kumulatif USD7,25 miliar Januari Agustus 2026 kinerja ekspor Januari Agustus 2026 ditopang besi baja USD19,18 miliar tumbuh 4,88 persen CPO turunannya USD17,75 miliar tumbuh 6,57 persen batu bara USD16,58 miliar tumbuh 4,31 persen ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen mencerminkan kontribusi hilirisasi kinerja ekspor sisi impor bahan baku penolong barang modal dominasi masing-masing USD133,38 miliar USD36,74 miliar total 91,3 persen impor peningkatan impor mesin peralatan mekanis 15,26 persen mesin perlengkapan elektrik 22,94 persen menunjukkan meningkat kebutuhan input produksi barang modal sejalan aktivitas produksi investasi domestik penguatan aktivitas manufaktur tercermin PMI Manufaktur September 2026 meningkat 52,4 dari 49,8 Agustus kembali berada zona ekspansi perbaikan didukung peningkatan pesanan baru produksi pertumbuhan pesanan ekspor masuknya proyek baru membaiknya daya beli September 2026 pesanan baru tumbuh laju tercepat sejak Februari 2026 sementara pesanan ekspor pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022 samping itu penyerapan tenaga kerja pembelian persediaan input kembali meningkat sisi biaya inflasi harga input output melambat level terendah enam bulan sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi 12 bulan depan tetap tinggi ke depan kebijakan Pemerintah tetap diarahkan jaga daya beli dorong investasi produksi tingkatkan daya saing industri nasional dengan fondasi stabilitas terjaga aktivitas ekonomi kembali menguat kita ingin pastikan momentum ini berlanjut memberikan manfaat semakin luas bagi masyarakat pungkas Juru Bicara Haryo ekon dm al Kemenkeu.`