Example floating
Example floating
Ekonomi

KSSK: Ekonomi Indonesia Tetap Stabil di Tengah Tekanan Global

19
×

KSSK: Ekonomi Indonesia Tetap Stabil di Tengah Tekanan Global

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, Kompas1.Net — Hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan bahwa stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga baik sepanjang triwulan III-2026, didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara pada Konferensi Pers KSSK di Jakarta pada Selasa (03/11).

Meski tekanan global kembali meningkat pada bulan Oktober 2026, perekonomian domestik dinilai masih tunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan yang solid. Eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi global, serta kebijakan moneter negara-negara maju yang cenderung ketat turut pengaruhi pasar keuangan. Di dalam negeri, pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham dan tekanan nilai tukar juga dorong peningkatan arus modal keluar dari pasar saham.

KSSK Terus Cermati Risiko Global

“KSSK yang terdiri atas Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua DK OJK, dan Ketua DK LPS akan terus mencermati dan lakukan assessment yang bersifat forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan, serta kami akan terus perkuat kerjasama dengan semua pemangku kepentingan untuk antisipasi dampak rambatan risiko global,” ungkap Menkeu.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat di tengah tekanan global, terutama ditopang oleh permintaan domestik, investasi, konsumsi pemerintah, dan kinerja ekspor. Menkeu sebut, pemerintah terus optimalkan APBN sebagai peredam gejolak ekonomi melalui subsidi, kompensasi, bantuan sosial, stabilisasi harga pangan, serta berbagai program penciptaan lapangan kerja.

Penjualan Mobil Naik 28,1 Persen, PMI 54

Sejumlah indikator ekonomi juga tunjukkan tren positif, termasuk penjualan mobil yang tumbuh 28,1 persen (yoy) dan sepeda motor sebesar 15,4 persen (yoy) di bulan September 2026. Selain itu, PMI Manufaktur meningkat dari 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan capai 5,4–5,5 persen.

“Untuk pertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan BI, serta kolaborasi pemerintah dan Danantara melalui pendekatan two arms of the state, terus diperkuat untuk jaga stabilitas dan dorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi,” jelas Menkeu.

Pendapatan Negara Rp2.341,5 Triliun

Menkeu lanjutkan, perkembangan realisasi APBN hingga triwulan III-2026 dorong pertumbuhan ekonomi dan pencapaian agenda pembangunan nasional. Dari sisi fiskal, realisasi pendapatan negara hingga akhir triwulan III-2026 capai Rp2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5 persen (yoy). Sementara itu, belanja negara tercatat sebesar Rp2.660,5 triliun, meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Menkeu katakan bahwa pembiayaan anggaran dukung pengelolaan APBN yang kredibel dan akuntabel. Hingga triwulan III-2026, realisasi pembiayaan anggaran capai Rp462 triliun atau tumbuh sebesar 0,4% (yoy). Realisasi ini didukung antara lain oleh pembiayaan utang yang dikelola secara prudent dan terukur, serta perhatikan likuiditas pemerintah.

“Pengelolaan pembiayaan juga didukung oleh pembiayaan investasi yang dikelola untuk perbaikan kesejahteraan masyarakat dalam dukung akselerasi pangan, pertanian, perumahan, pendidikan, dan infrastruktur,” pungkas Menkeu.

Sumber: Kemenkeu RI, Jakarta 03/11/2026 18.50 WIB
Penulis: ZURFAMI

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekonomi

Jakarta 07/10/2026 Kemenkeu perekonomian Indonesia awali Triwulan IV-2026 catatan menggembirakan tengah dinamika global penuh ketidakpastian perekonomian nasional terbukti tetap resilien tercermin tiga indikator penting dirilis awal Oktober 2026 inflasi terkendali neraca perdagangan terus surplus kembalinya aktivitas manufaktur zona ekspansi Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto sampaikan inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen yoy masih dalam sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen inflasi inti melandai 2,84 persen yoy sedangkan inflasi Administered Prices AP turun 3,25 persen yoy antara lain dipengaruhi normalisasi mobilitas pascalibur sekolah dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi relatif terbatas komponen Volatile Food masih perhatian inflasi 5,03 persen yoy dipengaruhi dinamika permintaan penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem El Nino bencana alam Pemerintah terus perkuat koordinasi pusat daerah jaga pasokan kelancaran distribusi keterjangkauan harga khususnya menjelang akhir tahun jaga daya beli ketahanan pangan Pemerintah perkuat penyaluran PKH Tahap III Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan Oktober Desember 2026 percepatan SPHP beras medium Perum Bulog dilengkapi Gerakan Pangan Murah GPM optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah CBP kerja sama antardaerah penguatan produksi melalui pengelolaan air jaringan irigasi pengaturan pola tanam pemanfaatan lahan produktif pemetaan wilayah rawan Early Warning System sisi eksternal neraca perdagangan Indonesia surplus kumulatif USD7,25 miliar Januari Agustus 2026 kinerja ekspor Januari Agustus 2026 ditopang besi baja USD19,18 miliar tumbuh 4,88 persen CPO turunannya USD17,75 miliar tumbuh 6,57 persen batu bara USD16,58 miliar tumbuh 4,31 persen ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen mencerminkan kontribusi hilirisasi kinerja ekspor sisi impor bahan baku penolong barang modal dominasi masing-masing USD133,38 miliar USD36,74 miliar total 91,3 persen impor peningkatan impor mesin peralatan mekanis 15,26 persen mesin perlengkapan elektrik 22,94 persen menunjukkan meningkat kebutuhan input produksi barang modal sejalan aktivitas produksi investasi domestik penguatan aktivitas manufaktur tercermin PMI Manufaktur September 2026 meningkat 52,4 dari 49,8 Agustus kembali berada zona ekspansi perbaikan didukung peningkatan pesanan baru produksi pertumbuhan pesanan ekspor masuknya proyek baru membaiknya daya beli September 2026 pesanan baru tumbuh laju tercepat sejak Februari 2026 sementara pesanan ekspor pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022 samping itu penyerapan tenaga kerja pembelian persediaan input kembali meningkat sisi biaya inflasi harga input output melambat level terendah enam bulan sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi 12 bulan depan tetap tinggi ke depan kebijakan Pemerintah tetap diarahkan jaga daya beli dorong investasi produksi tingkatkan daya saing industri nasional dengan fondasi stabilitas terjaga aktivitas ekonomi kembali menguat kita ingin pastikan momentum ini berlanjut memberikan manfaat semakin luas bagi masyarakat pungkas Juru Bicara Haryo ekon dm al Kemenkeu.`