Jakarta, Kompas 1net – Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno mendorong pemerintah mempercepat transisi dari kompor gas ke kompor listrik. Langkah ini dinilai mendesak di tengah fluktuasi harga energi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Eddy, transisi ke kompor listrik jauh lebih murah dibanding beban subsidi impor LPG. Apalagi, harga LPG sangat bergantung pada harga minyak dunia yang fluktuatif.
“Sebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75–80 persen kebutuhan LPG yang harganya sejalan dengan harga minyak mentah,” tutur Eddy dalam Rapat Kerja dengan Menteri ESDM di Gedung DPR, Senin (15/6/2026).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengusulkan anggaran Rp 815,56 miliar dalam RAPBN 2027 untuk program kompor listrik. Tujuannya mengurangi ketergantungan impor LPG.
“Energi yang kami dorong ke depan tidak hanya tentang LPG, tetapi kompor listrik, CNG, dan macam-macam. Yang kami buat itu kompor listrik sebesar Rp815,56 miliar,” ujar Bahlil dalam raker bersama Komisi XII.
Bahlil meminta Komisi XII bantu pendataan daerah yang paling butuh kompor listrik agar program tepat sasaran.
Selain kompor listrik, Kementerian ESDM juga usulkan Rp 635,24 miliar untuk program konversi motor listrik di RAPBN 2027. Anggaran dikelola Ditjen EBTKE.
Sumber: Parlementaria DPR RI, Senin (15/6/2026). Foto: Jaka/Karisma












