Example floating
Example floating
Opini

Menyusun Kurikulum Pendidikan Bangsa Selaras Konstitusi dan Cita-Cita Luhur Bangsa

12
×

Menyusun Kurikulum Pendidikan Bangsa Selaras Konstitusi dan Cita-Cita Luhur Bangsa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh : M. Sangap Siregar, S.Pd. MA

Mewujudkan Manusia Indonesia Seutuhnya

Kalam bermula dengan bismillah, salam dibuka dengan sholawat. Semoga nitizen sehat wal’afiyah beroleh berkah sepanjang hayat. Aamiiin!

Pendahuluan

Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menempatkan pendidikan nadi utama kemerdekaan. “Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanah konstitusional yang tak tergantikan. Para the founding fathers Bung Karno, Bung Hatta dan Ki Hajar Dewantoro dan para pahlawan lainnya menginginkan pendidikan bukan sekedar melahirkan orang pintar, melainkan “membentuk manusia Indonesia seutuhnya” berkarakter luhur, berakhlak mulia, cerdas lahir batin dan siap melanjutkan estapet perjuangan bangsa sesuai amanat konstitusi dan semangat proklamasi.

Namun realita menunjukkan, seringkali kurikulum berubah nama seiring pergantian rezim , lebih menekankan pengetahuan semata dan melupakan fondasi karakter serta jati diri bangsa. Maka, sudah saatnya kita merancang kurikulum abadi yang berakar pada konstitusi, Pancasila dan jiwa perjuangan – agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepribadian bangsa yang teguh, cinta tanah air, bertanggungjawab, rela berkorban, mandiri dan kreatif.

Latar Belakang

Sesuai pasal 31 UUD 1945 dan UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Konsep manusia Indonesia seutuhnya mengandung makna pengembangan yang utuh dan seimbang ; aspek fisik – motorik, intelektual, emosional, spritual dan sosial – tak boleh ada yang terabaikan. Krisis karakter, lunturnya semangat kebangsaan serta hilangnya arah tujuan pendidikan terjadi karena kurikulum belum sepenuhnya menjadi alat pembentukan jiwa bangsa.

Padahal tujuan pendidikan sejati adalah membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, serta mewariskan semangat juang para pendiri bangsa kepada generasi penerus.

Uraian Materi

A. Landasan Utama Kurikulum

Kurikulum harus berlandaskan kokoh pada:

  1. Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila – sebagai sumber nilai dan arah tujuan utama
  2. Nilai-nilai luhur budaya dan kearifan lokal Nusantara – menyambung akar sejarah Sriwijaya, Majapahit hingga Kesultanan-kesultanan Islam berdaulat.
  3. Semangat Proklamasi dan amanah para the founding fathers – kemerdekaan untuk keadilan dan kesejahteraan bersama seluruh rakyat
  4. Tujuan pendidikan nasional – mengembangkan potensi manusia seutuhnya

B. Profil Output Generasi Yang Diharapkan

Kurikulum ini dirancang melahirkan manusia Indonesia yang utuh dan seimbang :

  • Cerdas fisik – motorik – sehat jasmani, kuat, lincah, trampil, tangkas dan disiplin serta semangat untuk berjuang
  • Cerdas intelektual- menguasai ilmu pengetahuan sains dan teknologi sesuai perkembangan zaman sehingga dapat merespon kebutuhan dan tantangan zaman yang terus berkembang
  • Cerdas emosional dan budi pekerti mampu mengelola diri, empati, jujur, adil, sabar dan beretika luhur
  • Cerdas Spritual dan keagamaan – beriman dan bertakwa, berakhlak mulia dan menempatkan Tuhan diatas segalanya
  • Cerdas Sosial dan Kebangsaan – cinta tanah air, menghormati keberagaman, gotong royong, peduli pada sesama dan taat pada aturan yang benar
  • Berkarakter kepribadian bangsa – teguh pendirian, tidak mudah terombang-ambing pada asing, bangga pada budaya bangsa sendiri
  • Siap melanjutkan perjuangan – bertanggungjawab, rela berkorban, mandiri, kreatif dan inovatif serta berjiwa pemimpin yang mengabdi pada negara.

C. Struktur dan Prinsip Penyusunan Kurikulum

  1. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai jiwa utama – ditanamkan secara mendalam sejak dini mulai TK hingga Perguruan Tinggi, bukan sekedar hapalan melainkan penghayatan dan pengamalan
  2. Pendidikan Agama dan budi pekerti sebagai fondasi akhlak, menguatkan nilai ketuhanan dan kebaikan luhur dalam setiap langkah
  3. Pendekatan Holistik Terintegrasi – olah raga, olah pikir, olah rasa dan olah hati berjalan bersama di setiap mata pelajaran dan kegiatan sekolah
  4. Muatan Lokal dan Sejarah Perjuangan Bangsa – memperkuat ingatan sejarah, rasa bangga dan kesadaran akan harga diri dan martabat bangsa
  5. Keseimbangan Ilmu Pengetahuan, sains dan teknologi serta Nilai-nilai luhur – maju secara ilmu namun tidak kehilangan jati diri
  6. Pembelajaran berbasis pengalaman dan keteladanan – pendidikan karakter tidak cukup lewat kata, melainkan lewat contoh riil dan aksi nyata.

D. Keberlanjutan Tanpa Bergantung Rezim

Kurikulum ditetapkan dengan Undang- Undang, sehingga :

  • Tujuan utama tidak boleh berubah meski pemerintah berganti
  • Metode dan materi bisa berkembang sesuai zaman, namun fondasi nilai tetap sama
  • Menjamin keberlanjutan pembentukan karakter anak bangsa dari generasi ke generasi

E. Kesimpulan dan Penutup

Pendidikan adalah senjata perjuangan paling ampuh untuk mengubah bangsa. Kurikulum yang selaras dengan Konstitusi dan cita-cita luhur bangsa adalah jalan pasti untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil dan sejahtera.

Kita tidak butuh Kurikulum yang terus berganti nama, melainkan Kurikulum yang teguh pada tujuan ; membentuk manusia Indonesia seutuhnya – cerdas, lahir batin, berakhlak mulia, berkarakter kepribadian bangsa dan siap melanjutkan estapet perjuangan yang diamanatkan proklamasi serta diwariskan para pendiri bangsa.

Semoga rancang bangun pendidikan ini menjadi titik balik kebangkitan generasi penerus yang tidak hanya cerdas ilmu intelektualnya, tetapi juga mulia jiwanya, teguh pendiriannya dan siap mengabdi untuk negeri tercinta menuju cita-cita luhur bangsa “BaldatunThoyyibatun Warobbun Ghofur dalam naungan Rahmat dan Redho Tuhan Yang Maha Esa insyaAllah. Wassalam.

Penulis : M. Sangap Siregar, S.Pd. MA
Dosen : Universitas Hang Tuah Pekanbaru Riau Alumni : Magister Psikologi Konseling University Kebangsaan Malaysia, 2004.

Example 120x600