Example floating
Example floating
Banner Infozone
Pemerintah

Harga Sawit Petani Anjlok, Hasbi Sayang kan Sikap Bupati Rokan Hulu

24
×

Harga Sawit Petani Anjlok, Hasbi Sayang kan Sikap Bupati Rokan Hulu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Rokan Hulu | Kompas 1 Net –Sabtu, 30 April 2022.Anjlok nya Harga sawit ditingkat Petani Kelapa Sawit menjelang seminggu akan menghadapi lebaran tahun ini, membuat Petani Kelapa Sawit menjerit.

Petani Kelapa Sawit Anto yang berada di Kotalama menyampaikan, Harga sawit nya Anjlok yang sangat signifikan, biasa harga Sawit yang di terima Anto selaku Petani diangka Rp.3200/ Kilogram nya, Kini harga sawit pembelian Tandan buah segar (TBS) hanya dihargai Rp.1300/Kg nya, Anto sangat merasa ini menjadi pukulan yang sangat terasa, karena Anjlok nya harga Sawit Petani tersebut tidak diikuti turun nya harga pupuk dan kebutuhan pokok lainnya, dimana harga-harga tersebut justru terus naik, ditambah lagi sekarang masyarakat akan menghadapi lebaran.

Muhammad Hasbi Assidiqie, Anggota DPRD Rokan Hulu Tutut merasa prihatin atas tekanan Anjlok nya harga Sawit Petani dimana masyarakat dihadapkan dengan tinggi Nya harga kebutuhan pokok dan pupuk yang juga tak pernah turun, Kejadian ini menjadi perhatian serius dari Tokoh politisi muda Kunto Darussalam ini, Beliau Selaku legislatif salah satu sebagai pengontrol pemerintah dalam hal ini PEMDA Rokan Hulu, Menyayangkan Sikap Bupati yang terindikasi diam dan tidak mengambil langkah apapun dalam membela Petani.

Hasbi yang juga Alumni Rumpun Pemuda Pelajar Mahasiswa Rokan Hulu (RPPM-ROHUL), Seharusnya Bupati Rokan Hulu mengambil langkah cepat dalam membela masyarakat, khususnya petani Kelapa Sawit ini, Karena sebelum nya sudah ada Pergub Provinsi Riau Tentang ketetapan harga beli TBS, dimana tetap mempertahankan harga beli TBS diatas Rp.3000/Kg. Bupati dalam hal ini lalai, sehingga Rokan Hulu yang notabene Petani Kelapa Sawit, harga hasil produksi Petani justru dipermainkan oleh perusahaan nakal dan pemerintah diam.

Hasbi juga menegaskan, Seharusnya Bupati Ambil langkah cepat dan lakukan tindakan terhadap perusahaan nakal tersebut yang menurunkan harga beli TBS secara sepihak, bisa saja Bupati membuat teguran keras dan langsung buat satgas khusus, sehingga ada yang membela masyarakat, dan Dewan Perwakilan Rakyat, akan menjadi pendukung penuh. Ucap Tokoh muda Rokan Hulu tersebut.

Disisi lain, Pihak Disnakbun Kabupaten Rokan Hulu sudah mengeluarkan Surat edaran kepada seluruh perusahaan untuk tidak menurunkan harga beli TBS secara sepihak sesuai harga yang Telah di tetapkan oleh pemerintah.

 

(Laks HR)


IMBAUAN POLDA RIAU: STOP KARHUTLA

Larangan Membakar Hutan dan Lahan Polda Riau

Bersama kita cegah Karhutla, wujudkan Riau Hijau tanpa asap!

Example 120x600
Pemerintah

Dapat sanak 🔥 Ini berita “1.800 Ton Emas di Bawah Bantal” yang lagi viral dari Kemenko Perekonomian. Udah aku bedah + rapikan formatnya

*RINGKASAN BERITA*

*Judul*: Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal
*Tanggal*: 24 Agustus 2026 – 20:00 WIB
*Sumber*: Kemenko Perekonomian via Antara – http://Tribratanews.polri.go.id

*Poin Penting:*
1. *”Bawah Bantal” = Metafora*
Jubir Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto jelaskan istilah itu bukan harfiah. Maksudnya emas milik masyarakat yang disimpan secara pribadi/konvensional di rumah tangga selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

2. *Angka 1.800 Ton*
Estimasi emas yang dimiliki dan disimpan masyarakat. Nilai diperkirakan *US$252 miliar*.
Berbeda dengan cadangan emas nasional dari pertambangan. Cadangan emas Indonesia diperkirakan *3.600 ton* dengan produksi *90 ton/tahun*.

3. *Tujuan Pemerintah*
Mau menarik emas itu masuk ke ekosistem keuangan formal. Lewat IBMA, perbankan syariah, dan Pegadaian.
Menko Airlangga: Kalau 20% saja masuk sistem keuangan, dampak ke pertumbuhan ekosistem bullion nasional akan besar.

4. *Perbandingan Global*
AS: 8.133 ton | China: 2.331 ton | India: 880 ton | Indonesia Masyarakat: 1.800 ton

*VERSI SIAP PUBLISH – HTML UNTUK WP*

Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas “di Bawah Bantal” Milik Masyarakat

JAKARTA – Pernyataan pemerintah mengenai potensi 1.800 ton emas yang disebut berada “di bawah bantal” masyarakat Indonesia memicu perhatian publik. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kini memberikan penjelasan bahwa istilah tersebut bukan berarti emas secara harfiah disimpan di bawah bantal.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, istilah tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan akumulasi kepemilikan emas masyarakat yang terbentuk selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

“Sebagian emas tersebut hingga kini masih disimpan secara pribadi atau secara konvensional di rumah tangga. Potensi sekitar 1.800 ton emas masyarakat, dengan nilai sekitar US$252 miliar, merupakan gambaran besarnya aset emas yang dimiliki dan masih disimpan secara pribadi di masyarakat.”

— Haryo Limanseto
Jubir Kemenko Perekonomian

Bukan Cadangan Negara

Haryo menegaskan angka 1.800 ton tersebut berbeda dengan cadangan emas nasional. Angka itu juga tidak dimaksudkan sebagai tambahan terhadap cadangan emas yang berasal dari pertambangan.

Menurutnya, Indonesia diperkirakan memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton per tahun.

Peluang Ekosistem Bullion Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi 1.800 ton emas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekosistem logam mulia atau bullion di Indonesia. Hal ini disampaikannya saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Kamis (20/8/2026).

Airlangga mendorong agar sebagian emas yang selama ini disimpan masyarakat dapat dialihkan ke instrumen keuangan. Ia menyebut apabila sekitar 20 persen dari emas milik masyarakat masuk ke sistem keuangan, termasuk perbankan syariah dan Pegadaian, dampaknya terhadap pertumbuhan ekosistem emas nasional akan sangat besar.

Perbandingan dengan Negara Lain

Airlangga juga membandingkan kepemilikan emas tersebut dengan sejumlah negara. Amerika Serikat tercatat memiliki stok emas sekitar 8.133 ton, China sekitar 2.331 ton, sedangkan India sekitar 880 ton.

*PAKET SEO NYA*

1. *Judul SEO*: `Penjelasan Pemerintah Soal 1800 Ton Emas di Bawah Bantal Milik Masyarakat`
2. *Meta Description*: `Kemenko Perekonomian jelaskan maksud 1800 ton emas “di bawah bantal”. Nilainya US$252 miliar.