Pekanbaru, Kompas 1 net -27 Juli 2026 – Perjalanan hidup seseorang tak ada yang tahu. Dari lelah berjuang, mengadu untung, terkadang angin bertiup kencang dan terkadang hujan menyegarkan bumi.
Begitu lah perjalanan seorang putra Selatpanjang yang berawal naik kapal jelatik kuliah ke Pekanbaru. Elviriadi yang mulai menampakkan minat pada kemanusiaan dan lingkungan alam sejak kuliah di Fakultas Perikanan Unri.
Jatuh bangun hal yang biasa , kuliah S3 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) sambil mengajar ngaji dan berjualan. Tapi sepulang kampung halaman Riau, bakat minat dan kesungguhan Elviriadi makin terasah. Terutama pada ketimpangan hak korporasi dibanding rakyat kecil. Alam yang diperkosa oleh keserakahan, Dr Elviriadi bangkit melawan.
Tepat bulan Juni 2026, Kapolda Riau Irjend Pol Dr Herry Heryawan, SH, M. Hum memilih Dr Elviriadi penerima perhargaan di bidang lingkungan.
Seakan menjadi magnit bagi kemanusiaan, kiprah pengurus PP Muhammadiyah ini makin menarik perhatian publik. Masyarakat Desa Sidomulyo Kelurahan Batu Panjang Kecamatan Rupat menghubungi Dr Elviriadi.
“Ijin pak, hasil perundingan kami masyarakat kecik ini, bapak mau kami Beri gelar adat. Dari lubuk hati kami, tak mengharapkan apo apo. Tapi dari perjuangan bapak, kami merasa terbantu, ” ucap Salikhin tokoh masyarakat Batu Panjang.
“Rencanaya penabalan gelar adat tersebut disiapkan pada Awal Agustus mendatang. Bapak kami beri Gelar Datuk Temenggung Wira Bumi, Datuk Abulizar dan Datuk yunus juga akan di kasi gelar adat. Seluruh unsur pimpinan kecamatan, Koramil, Kapolsek, Camat, Lurah, tokoh masyarakat dan tokoh adat memeriahkannya.” pungkas Solikhin***.










