JAKARTA, Kompas 1 net – Kebijakan ekspor sawit satu pintu lewat BUMN DSI bikin gaduh. Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo desak pemerintah evaluasi, soalnya harga Tandan Buah Segar alias TBS di petani langsung nyungsep.
“Pemerintah harus memahami bahwa petani adalah pihak yang paling rentan terhadap perubahan kebijakan tata niaga,” kata Firman dalam keterangan tertulis, Minggu 31 Mei 2026.
Menurut politisi Golkar itu, ada 3 biang kerok harga TBS jeblok:
1. Stok CPO numpuk di pabrik karena ekspor harus lewat satu pintu. Pabrik jadi susah nyerap hasil panen petani.
2. Biaya distribusi naik. Pengusaha khawatir margin usaha kepotong, ujung-ujungnya harga beli TBS dipangkas.
3. Pembeli luar negeri wait and see. Perdagangan melambat, ekspor ketahan, harga dalam negeri kena getah.
“Jangan sampai tujuan baik pemerintah untuk memperbaiki tata niaga sawit justru menimbulkan keresahan dan kerugian bagi petani,” tegas Firman yang juga Waketum KADIN.
Dia minta ada masa transisi. Jalur ekspor lama jangan langsung ditutup biar rantai pasok nggak kaget. DSI juga wajib transparan soal harga acuan sama biaya layanan biar petani nggak curiga.
Solusi lain? Firman dorong serapan domestik dinaikin lewat program biodiesel plus penguatan industri hilir. Biar harga TBS stabil dan petani nggak jadi korban.
“Petani membutuhkan kepastian. Negara harus hadir melindungi mereka,” tutupnya.
Sumber: DPR RI.













