Oleh : Elviriadi, Ph.D
Rupat, pulau kecil terluar yang bertengger di tengah alun ombak Selat Malaka. Persis di depan Rupat Utara, Berdiri Kota Megah “Port Dickson”, metropolis Bandar Malaysia.
Tetapi pulau beralas gambut itu, hampir bekecai dihantam korporasi, perusahaan perusahaan raksasa yang mengoyak negeri.
Seekor Camar Mengitari
Rupat
Berputar Menggaris Awan
Sungguh, dari jauh yang gelap Ia mengirim gumam;
“Telah kusetubuhi seluruh negeri di tubuhmu,
tapi sayang, aku tak bisa merangkai kata karena tanah dan pasir yang dulu membuncah,
kini berdesing deru mesin mesin pongah…bagi teluk korporasi mu yang pura pura bisu,
bandar bengkalis yang diam-diam bengis…
dan pekanbaru- jakarta
Kami hanyalah seonggok pulau yang hampa
Demikian seorang seniman Ekologis menuturkan secara puitis Pulau Rupat
Ditengah haru biru pulau bisu seribu malu, muncul lah budak budak Rupat anak negeri pembela jati.
Tersebutlah Salihin, guru SMK yang menyergah kaki tangan penjajah negeri. Dan Zaini, pria ceking suara nyaring jika ditantang ia melenting.
Dwitunggal Salihin-Zaini, menjadi “penunggu” yang siap malam mengawal Pulau Rupat. Salihin menjadi juru debat, mengalun argumen agar lanun dibuat tersendat. Zaini pula, bersuara lantang bila rakyat Rupat dihimpit kekuasaan sumbang.
Pernah warga Sidomulyo hendak ditangkap membawa potongan kayu untuk membuat rumah. Zaini melompat cepat, memajukan pertanyaan kilat, setiap gerak lawan dikunci dengan akal sehat. Warga yang ketakutan berubah cerah, pembelaan Zaini membuat mudah. Harusnya di bui, disuruh Zaini pulang ke rumah. Keluarga gembira, senyum bini pun merekah.
Salihin mengorganisir rakyat Rupat agar mengambil hak hak tanah, untuk berkebun agar hidup tak susah.
Jalan salihin tak mudah. Berurusan hukum hatinya tak goyah. Seperti Zaini kawan seperjuangan, Salihin membawa peta kerja dan keterangan. Disuruh pulang tak jadi ditahan. Alasannya kuat demi masa depan.
Dwitunggal Salihin-Zaini “penunggu” yang disegani. Setiap lawan berfikir 10 kali.
Setiap langkah Korporasi, di ulas Zaini. Salihin pula mengatur strategi.
Salihin Zaini makin percaya diri.
Didampingi pemangku wali negeri KKKSI. Datuk Abulizar bin Alwi Zainal serta Datuk Bandar M. Yunus nama diberi.
Apalagi diundang pula Pakar Lingkungan Dr Elviriadi. Diberi Gelar Datuk Temenggung Wira Bumi. Orangnya kharismatik budak Meranti. Pantang mundur apapun terjadi. Sudah terbiasa dicaci maki. Curiga fitnah menu sehari hari. Gertak sergah ia tak peduli. Memberi somasi bela Riadi. Halim dan Sugito ikutan jadi berani. Sebagaimana pesan Datuk Temenggung Wira Bumi Dr Elviriadi, ” lebih baik mati ditangan musuh, daripada sembunyi dibawah bantal ketakutan tanda hilang si Anak Jantan.
Selamat Berjuang Dwitunggal Salihin-Zaini. Cerdas tangkas lagi bernyali. Siap berdebat bak pendekar hukum yang mumpuni. Kearifan Melayu di junjung tinggi. Keberanian Jebat pakaian diri. Idealisme suci tak bisa di tawar tawari. Sekali cabut si Taming Sari. Kosonglah Rupat dari kejahilan korporasi. Dwitunggal Salihin-Zaini terus beraksi. Minta hutan tanah dikelola mandiri. Orang menjajah siap siap lah pergi. Jurus Seribu Badai Andalan Zaini. Sekali teriak cabut lari “tali Barut” korporasi. Ikrar gambut Rupat sumpah di Merah Padi. Pergi Berjuang sampai tiada lagi…
Pekanbaru, 25 Juli 2026.









