Belakangan ini masyarakat sering dikejutkan oleh kabar tentang tokoh publik, figur moral, atau orang-orang yang selama ini dikenal baik tetapi kemudian tersandung berbagai persoalan hidup. Ada yang terjerat kekuasaan, harta, popularitas, konflik kepentingan, hingga berbagai bentuk penyimpangan moral. Setiap kali peristiwa seperti itu muncul, pertanyaan yang hampir selalu terdengar adalah “Mengapa orang yang selama ini dihormati bisa terjerumus?”
Padahal dalam sejarah panjang tradisi keagamaan dan kebudayaan, persoalan seperti ini bukanlah hal baru. Para ulama, budayawan, dan tokoh kebatinan Jawa sejak dahulu justru mengingatkan bahwa ujian terbesar manusia bukan datang dari luar dirinya, melainkan dari dirinya sendiri. Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha (1860) misalnya menggambarkan bagaimana manusia sering kalah bukan oleh keadaan zaman, tetapi oleh kegelisahan dan hawa nafsunya sendiri di tengah perubahan moral masyarakat.
Sementara Ki Ageng Suryomentaram melalui ajaran kawruh jiwa pada dekade 1930-an menjelaskan bahwa penderitaan manusia sering lahir dari rasa kepemilikan diri, ambisi, dan keinginan untuk terus dipuji. Karena itu, dalam pandangan para bijak Jawa, manusia yang paling berbahaya bukanlah manusia yang kekurangan ilmu, melainkan manusia yang tidak mampu mengenali dirinya sendiri.
Yang berat bukan menjadi sosok terhormat, melainkan menjaga hati setelah manusia merasa dirinya terhormat. Dalam banyak kisah klasik Islam, manusia sering kali jatuh bukan karena kurang pengetahuan, tetapi karena kalah oleh hawa nafsu, rasa aman terhadap dirinya sendiri, dan godaan dunia yang tumbuh perlahan.
Kisah tentang Barsisa misalnya, pernah ditulis oleh Thobib Al-Asyhar di Kemenag.go.id sebagai refleksi tentang bagaimana seseorang yang sangat dihormati masyarakat dapat tergelincir bukan karena kehilangan pengetahuan, melainkan karena kehilangan kewaspadaan terhadap dirinya sendiri. Dalam refleksinya itu, Thobib Al-Asyhar menulis bahwa Barsisa jatuh bukan karena kurang ibadah, tetapi karena merasa aman terhadap dirinya sendiri.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi justru di situlah inti persoalannya. Banyak manusia jatuh bukan karena tidak tahu mana yang benar dan salah, melainkan karena terlalu yakin dirinya tidak mungkin jatuh.
Selain Barsisa, tradisi Islam juga mengenal kisah Bal’am bin Ba’ura, seorang tokoh yang dalam sebagian riwayat disebut memiliki ilmu tinggi dan mengetahui nama agung Tuhan, tetapi akhirnya tergelincir karena lebih memilih kepentingan dunia dan kekuasaan. Kisah Bal’am bin Ba’ura juga pernah direfleksikan oleh Fahmi Arif El Muniry di Kemenag.go.id sebagai gambaran bahwa ilmu tanpa kejernihan hati dapat berubah menjadi petaka bagi pemiliknya sendiri.
Kisah-kisah ini penting bukan untuk menghakimi seseorang, melainkan untuk memahami bahwa semakin besar pengaruh seseorang, semakin berat pula godaan yang dihadapinya.
Kuasa, Popularitas, dan Ilusi Diri
Dalam kehidupan sosial, orang-orang yang dihormati sering ditempatkan di posisi yang sangat tinggi. Ucapannya dipercaya, perilakunya diteladani, dan pendapatnya dianggap memiliki otoritas moral. Penghormatan seperti ini pada dasarnya wajar, karena masyarakat membutuhkan figur panutan.
Namun penghormatan yang terlalu besar kadang melahirkan jebakan yang tidak disadari bahwa manusia mulai mempercayai citra tentang dirinya sendiri. Sosiolog Prancis Michel Foucault dalam Power/Knowledge (1980) menjelaskan bahwa kuasa tidak selalu bekerja melalui kekerasan, tetapi melalui penghormatan, pengaruh, dan otoritas pengetahuan. Ketika seseorang terlalu lama dipuji dan ditempatkan di posisi moral yang tinggi, ia dapat perlahan kehilangan kemampuan untuk mengkritik dirinya sendiri. Padahal manusia tetap manusia.
Dalam kebijaksanaan Jawa, orang-orang tua dahulu sering mengingatkan tentang bahaya kumingsun yaitu keadaan ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih tinggi dibanding orang lain. Pada titik itu, manusia sering kehilangan kejernihan batin karena terlalu menikmati penghormatan dunia. Karena itu para sesepuh Jawa selalu menekankan pentingnya andhap asor, yakni sikap rendah hati dan tidak silau oleh kemuliaan lahiriah. Orang yang benar-benar matang justru biasanya semakin tenang, tidak haus pujian, dan tidak sibuk mempertontonkan dirinya.
Ada pula ungkapan Jawa, “sepi ing pamrih, rame ing gawe” bekerja sungguh-sungguh tanpa sibuk mengejar penghormatan. Sebab ketika manusia mulai terlalu menikmati pengaruh dan pujian, saat itulah ia sering tanpa sadar mulai berkompromi dengan dirinya sendiri.
Kisah-kisah tentang su’ul khatimah dalam tradisi Islam sebenarnya berbicara tentang hal ini. Kehancuran moral jarang terjadi secara mendadak. Ia tumbuh perlahan melalui rasa aman terhadap diri sendiri, kesalahan kecil yang dibiarkan, dan kenikmatan tersembunyi ketika dihormati manusia. Orang Jawa menyebut keadaan seperti ini sebagai kepilut dening kamulyan yaitu terlena oleh kemuliaan dan penghormatan.
Setan, dalam banyak kisah klasik, tidak langsung menggoda manusia menuju jurang besar. Ia memulai dari celah kecil yaitu rasa bangga terhadap diri sendiri, keyakinan bahwa dirinya tidak mungkin salah, atau anggapan bahwa dosa dapat diperbaiki nanti. Dan justru orang-orang yang memiliki pengaruh besar sering menghadapi godaan paling berat karena mereka hidup dalam lingkungan yang terus-menerus memuliakan mereka.
Menjaga Kejernihan Hati
Fenomena jatuhnya sebagian figur publik hari ini seharusnya tidak membuat masyarakat kehilangan hormat kepada lembaga, nilai-nilai moral dan agama. Sebab kesalahan manusia tidak pernah bisa dijadikan alasan untuk meremehkan nilai-nilai kebaikan itu sendiri. Yang perlu dirawat justru kesadaran bahwa tidak ada manusia yang kebal dari ujian.
Filsuf Jerman Erich Fromm dalam To Have or To Be? (1976) menjelaskan bahwa manusia modern sering terjebak pada hasrat untuk “memiliki” yaitu memiliki pengaruh, penghormatan, dan pengakuan sosial. Ketika identitas seseorang terlalu bergantung pada penghormatan manusia lain, maka ia perlahan kehilangan kebebasan batinnya sendiri. Pada titik itulah manusia sering mulai takut kehilangan citra, takut kehilangan pujian, dan akhirnya tanpa sadar mulai berkompromi dengan hati nuraninya sendiri.
Mungkin karena itu, perjalanan spiritual yang paling berat sesungguhnya bukanlah bagaimana manusia dipandang mulia oleh orang lain, tetapi bagaimana ia tetap jujur terhadap dirinya sendiri ketika tidak ada yang melihat.
Pada akhirnya, berbagai peristiwa yang melibatkan figur berpengaruh hari ini seharusnya menjadi cermin bersama bahwa jabatan, popularitas, penghormatan sosial, bahkan citra moral dapat berubah menjadi cobaan jika tidak disertai kerendahan hati dan pengendalian diri. Karena itu, yang perlu terus dirawat dalam kehidupan bukan hanya pencapaian lahiriah, tetapi juga kejernihan batin. Sebab banyak orang mampu menaklukkan dunia, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mampu menaklukkan dirinya sendiri.
Penulis : Fahmi Arif El Muniry (Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak)
Sumber : kemenag.go.id.















