NTB, Kompas 1 net – Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, M. Febriansyah, berhasil menorehkan prestasi dengan lolos ke babak final Mandalika Essay Competition 8 (MEC 8) tingkat nasional yang diselenggarakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Kompetisi ini menjadi ajang bagi generasi muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menyampaikan gagasan inovatif mengenai arah pembangunan Indonesia di masa depan.
M. Febriansyah merupakan mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara angkatan 2025 asal Kabupaten Indragiri Hilir. Pada kompetisi yang mengangkat tema “Indonesia Hebat 2035: Arah Baru Pembangunan dari Sudut Pandang Generasi Muda” tersebut, ia membawa isu mengenai ketimpangan distribusi manfaat industri sawit di Provinsi Riau.
Dalam esainya yang berjudul “Paradoks Sawit Riau: Kaya Produksi, Miskin Distribusi Manfaat dan Urgensi Skema Retensi 30% Laba Bersih,” Febriansyah menyoroti kondisi daerah penghasil sawit yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, namun belum sepenuhnya merasakan dampak kesejahteraan secara merata.
Menurutnya, besarnya produksi sawit di Riau belum berjalan seimbang dengan pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Di sisi lain, daerah penghasil juga masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kerusakan lingkungan, keterbatasan infrastruktur, hingga ketimpangan ekonomi masyarakat.
Melalui gagasan tersebut, ia menawarkan konsep retensi 30% laba bersih perusahaan sawit sebagai langkah untuk memperkuat pembangunan daerah secara lebih adil dan berkelanjutan.
Skema tersebut diharapkan mampu menjadi instrumen yang dapat menghubungkan keuntungan industri dengan kebutuhan masyarakat di wilayah penghasil, termasuk dalam sektor lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dalam keterangannya, M. Febriansyah menyampaikan bahwa ide tersebut lahir dari realitas yang ia lihat langsung di daerah penghasil sawit.
“Saya melihat daerah penghasil sawit memiliki kontribusi besar bagi perekonomian nasional, tetapi manfaat yang kembali ke masyarakat masih belum sebanding. Dari situ saya berpikir bahwa harus ada kebijakan yang mampu menghubungkan keuntungan industri dengan pembangunan daerah secara nyata,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan investasi, tetapi juga harus memperhatikan pemerataan manfaat bagi masyarakat daerah.
“Pembangunan yang baik bukan hanya soal tingginya angka produksi, tetapi bagaimana masyarakat di daerah penghasil juga bisa merasakan kesejahteraan dan dampak positif secara langsung,” tambahnya.
Keberhasilan lolos ke babak final MEC 8 menjadi capaian yang membanggakan bagi M. Febriansyah sekaligus membawa nama baik UIN Suska Riau dan Kabupaten Indragiri Hilir di tingkat nasional. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus menghadirkan karya dan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui ajang nasional tersebut, M. Febriansyah berkomitmen untuk terus mengembangkan ide-ide akademik yang kritis dan aplikatif sebagai bentuk kontribusi generasi muda dalam mendorong pembangunan Indonesia yang lebih adil dan berkelanjutan.
Editor: Redaksi












