Pekanbaru, Kompas 1 net – Di saat narasi tentang anak muda sering kali terjebak dalam hiruk-pikuk dunia digital yang semu, seorang pemuda dari pelosok Desa Danau Lancang, Kecamatan Tapung Hulu, justru sedang merajut jalan sunyi menuju panggung nasional. Firman, mahasiswa UIN Suska Riau sekaligus aktivis yang dikenal vokal, kini memikul misi besar: membuktikan bahwa gagasan dari desa mampu menjawab tantangan global.
Langkah Firman terhenti sejenak di babak final Mandalika Essay Competition (MEC) 8 yang akan digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 16–18 Mei 2026 mendatang. Namun, keberangkatannya bukan sekadar mengejar trofi. Ia membawa sebuah manifesto pangan masa depan yang ia beri tajuk “CHIPSKU”.
Inovasi Pangan yang Membumi
Melalui esai bertajuk “CHIPSKU: Menerapkan Inovasi untuk Menciptakan Solusi Cemilan Sehat yang Berkelanjutan, Ramah Lingkungan, dan Berdaya Saing Tinggi di Era Transformasi Digital”, Firman menawarkan antitesis terhadap industri camilan modern yang sering kali mengabaikan aspek kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.
“Perubahan itu tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar di pusat. Ia bisa dimulai dari piring makan kita sendiri, dari apa yang kita konsumsi sehari-hari,” ungkap Firman dengan nada optimis.
Bagi Firman, “CHIPSKU” adalah jembatan antara potensi agraris Riau dengan tuntutan hidup sehat masyarakat urban. Ini adalah upaya nyata membawa produk lokal naik kelas melalui sentuhan digitalisasi dan standar ekologis yang ketat.
Tradisi Balimau Kasai sebagai Perisai Ekologi
Tak hanya soal pangan, Firman juga membawa napas budaya Kampar ke panggung “Indonesia Hebat 2035”. Ia melakukan reinterpretasi terhadap tradisi Balimau Kasai. Baginya, ritual mandi tersebut bukan sekadar pembersihan diri menjelang Ramadan, melainkan sebuah “ritus air” yang menyimpan pesan mendalam tentang pelestarian sungai dan ekosistem air di Bumi Lancang Kuning.
Perpaduan antara teknologi pangan (CHIPSKU) dan kearifan lokal (Balimau Kasai) ini menjadi daya tarik kuat yang membawa nama Riau bersinar di antara ratusan peserta dari berbagai universitas ternama di Indonesia.
Mengetuk Pintu Dukungan Pemerintah
Meski gagasan sudah matang dan tiket final sudah di tangan, tantangan logistik tetap membayangi. Sebagai representasi anak muda Kampar, Firman berharap ada tangan dingin dari Pemerintah Provinsi Riau maupun Pemerintah Kabupaten Kampar untuk memberikan dukungan nyata. “Partisipasi ini adalah investasi nama baik daerah. Saya ingin menunjukkan di Lombok nanti bahwa anak muda Kampar tidak hanya jago berteori, tapi punya solusi nyata yang berakar pada realitas daerahnya,” tambahnya.
Dukungan dari pemerintah daerah bukan hanya soal bantuan finansial keberangkatan, melainkan simbol bahwa pemerintah hadir bagi talenta-talenta muda yang sedang berjuang mengharumkan nama daerah di kancah nasional.
Simbol Kebangkitan Anak Muda Daerah
Kisah Firman adalah pengingat bahwa geografi bukan penghalang prestasi. Dari sebuah desa di Tapung Hulu, lahir pemikiran yang menembus batas-batas akademis. Kehadirannya di MEC 8 Mandalika menjadi pesan kuat bagi seluruh generasi muda di Riau: bahwa masa depan Indonesia 2035 ada di tangan mereka yang berani membawa tradisi ke dalam inovasi, dan membawa suara daerah ke panggung nasional.
Kini, publik menunggu, apakah langkah Firman di Mandalika akan menjadi awal dari gelombang baru inovasi pangan dan gerakan ekologi dari Riau untuk Indonesia..?***
Editor : Redaksi











