Example floating
Example floating
Banner Infozone
Pemerintah

Kemenkeu Raih Tiga Penghargaan Kehumasan Tingkat Dunia

60
×

Kemenkeu Raih Tiga Penghargaan Kehumasan Tingkat Dunia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, Kompas 1 net – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengharumkan nama Indonesia pada ajang kehumasan tingkat internasional bertajuk IPRA Golden World Awards (GWA) 2024. Tiga penghargaan berhasil diraih yakni pada kategori crisis management, communication research, dan public sector. Kategori crisis management dan communication research diwakili oleh Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Sekretariat Jenderal Kemenkeu, sementara kategori public sector diwakili oleh Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) yang merupakan Badan Layanan Umum di bawah Kemenkeu. 

Penganugerahan IPRA GWA 2024 dilaksanakan di Metropol Palace Hotel, Beograd, Serbia pada Jumat, 18 Oktober 2024 pukul 19.15 waktu setempat. IPRA Golden World Award (GWA) merupakan penghargaan global untuk praktik-praktik Public Relations atau kehumasan di berbagai sektor baik privat maupun publik di seluruh dunia, termasuk sektor pemerintah. Kemenkeu bersaing dengan perwakilan dari berbagai institusi termasuk dari sektor privat di negara-negara lain di dunia yang menjadi anggota IPRA.

Kategori crisis management yang diikuti oleh Kemenkeu dengan judul “Rebuilt Trust From a Crisis-Driven Viral Message” menceritakan kilas balik kemenkeu dalam menghadapi krisis yang dihadapi pada tahun 2023 dari sisi komunikasi. Sementara pada kategori communication research dengan judul “Research-Powered Campaign Enhances Understanding” menceritakan perjalanan riset komunikasi melalui program Employee Advocacy. Lalu di kategori terakhir yaitu public sector, dengan judul “Collaborate to Innovate: Assets Manager Challenge”, LMAN menceritakan inovasinya dalam kolaborasi untuk mengatur aset negara.

Penghargaan global ini menjadi apresiasi atas kinerja kehumasan di Indonesia khususnya di Kemenkeu, dan juga sebagai penyemangat agar Kemenkeu selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

IPRA atau The International Public Relations Association merupakan jejaring global terkemuka bagi para professional Public Relations (PR) di dunia. Organisasi yang didirikan pada tahun 1955 ini bertujuan untuk memajukan komunikasi dan praktik humas dalam lingkup global salah satunya dengan cara mengadakan kompetisi kehumasan di tiap tahunnya. Pada tahun 2024, IPRA menyelenggarakan GWA 2024 dengan 38 kategori yang diikuti oleh seluruh negara di dunia diantaranya Turki, Hungaria, UAE, Jepang, dan Singapura. (rap/al)

Sumber: Humas Kemenkeu


IMBAUAN POLDA RIAU: STOP KARHUTLA

Larangan Membakar Hutan dan Lahan Polda Riau

Bersama kita cegah Karhutla, wujudkan Riau Hijau tanpa asap!

Example 120x600
Pemerintah

Dapat sanak 🔥 Ini berita “1.800 Ton Emas di Bawah Bantal” yang lagi viral dari Kemenko Perekonomian. Udah aku bedah + rapikan formatnya

*RINGKASAN BERITA*

*Judul*: Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal
*Tanggal*: 24 Agustus 2026 – 20:00 WIB
*Sumber*: Kemenko Perekonomian via Antara – http://Tribratanews.polri.go.id

*Poin Penting:*
1. *”Bawah Bantal” = Metafora*
Jubir Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto jelaskan istilah itu bukan harfiah. Maksudnya emas milik masyarakat yang disimpan secara pribadi/konvensional di rumah tangga selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

2. *Angka 1.800 Ton*
Estimasi emas yang dimiliki dan disimpan masyarakat. Nilai diperkirakan *US$252 miliar*.
Berbeda dengan cadangan emas nasional dari pertambangan. Cadangan emas Indonesia diperkirakan *3.600 ton* dengan produksi *90 ton/tahun*.

3. *Tujuan Pemerintah*
Mau menarik emas itu masuk ke ekosistem keuangan formal. Lewat IBMA, perbankan syariah, dan Pegadaian.
Menko Airlangga: Kalau 20% saja masuk sistem keuangan, dampak ke pertumbuhan ekosistem bullion nasional akan besar.

4. *Perbandingan Global*
AS: 8.133 ton | China: 2.331 ton | India: 880 ton | Indonesia Masyarakat: 1.800 ton

*VERSI SIAP PUBLISH – HTML UNTUK WP*

Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas “di Bawah Bantal” Milik Masyarakat

JAKARTA – Pernyataan pemerintah mengenai potensi 1.800 ton emas yang disebut berada “di bawah bantal” masyarakat Indonesia memicu perhatian publik. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kini memberikan penjelasan bahwa istilah tersebut bukan berarti emas secara harfiah disimpan di bawah bantal.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, istilah tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan akumulasi kepemilikan emas masyarakat yang terbentuk selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

“Sebagian emas tersebut hingga kini masih disimpan secara pribadi atau secara konvensional di rumah tangga. Potensi sekitar 1.800 ton emas masyarakat, dengan nilai sekitar US$252 miliar, merupakan gambaran besarnya aset emas yang dimiliki dan masih disimpan secara pribadi di masyarakat.”

— Haryo Limanseto
Jubir Kemenko Perekonomian

Bukan Cadangan Negara

Haryo menegaskan angka 1.800 ton tersebut berbeda dengan cadangan emas nasional. Angka itu juga tidak dimaksudkan sebagai tambahan terhadap cadangan emas yang berasal dari pertambangan.

Menurutnya, Indonesia diperkirakan memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton per tahun.

Peluang Ekosistem Bullion Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi 1.800 ton emas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekosistem logam mulia atau bullion di Indonesia. Hal ini disampaikannya saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Kamis (20/8/2026).

Airlangga mendorong agar sebagian emas yang selama ini disimpan masyarakat dapat dialihkan ke instrumen keuangan. Ia menyebut apabila sekitar 20 persen dari emas milik masyarakat masuk ke sistem keuangan, termasuk perbankan syariah dan Pegadaian, dampaknya terhadap pertumbuhan ekosistem emas nasional akan sangat besar.

Perbandingan dengan Negara Lain

Airlangga juga membandingkan kepemilikan emas tersebut dengan sejumlah negara. Amerika Serikat tercatat memiliki stok emas sekitar 8.133 ton, China sekitar 2.331 ton, sedangkan India sekitar 880 ton.

*PAKET SEO NYA*

1. *Judul SEO*: `Penjelasan Pemerintah Soal 1800 Ton Emas di Bawah Bantal Milik Masyarakat`
2. *Meta Description*: `Kemenko Perekonomian jelaskan maksud 1800 ton emas “di bawah bantal”. Nilainya US$252 miliar.