Pekanbaru, Kompas 1 net — Siang tadi, Senin (4/5) Riau kedatangan pejabat negara. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat disambut sejumlah pejabat dan tokoh Riau dengan gembira.
Menteri Jumhur tampak ditemani Rekannya Syahganda Nainggolan dan Filsuf Indonesia Rocky Gerung.
Serempak memasuki Gedung Pertemuan di Jalan Ronggowarsito Gobah disambut Tarian Makan Sirih.
Menanggapi kehadiran Menteri, Pakar Lingkungan Hidup Dr Elviriadi menyambut positif.
“Selamat datang pak Menteri baru, Membidangi Lingkungan Hidup. Ini lah Riau Bumi Lancang Kuning. Rakyatnya ramah, sehingga Korporasi ( perusahaan ) bebas menikmati dan menghabisi sumber daya Alam negeri. “Syurga bagi korporasi perusak hutan, yang leluasa menghisap kekayaan alam, ” ujar alumni UKM Malaysia kepada media ini , Senin malam (4/5/26).
Elviriadi yang dikenal vokal menyikapi kebijakan pemerintah itu menilai kekuatan korporasi di Riau belum tergoyahkan
“Kontestasi Politik Indonesia yang high cost menyebab transaksi ke konglomerat hitam menyandera pejabat negara. Karena itu, mustahil ada perspektif fundamental dari para teraju negara terhadap krisis ekologis, ” sebutnya.
Nah, disitu lah bang Jumhur ini dilantik jadi menteri. Ditengah menderu paham antroposentris yang melihat alam sebagai barter politik dan banjir perizinan demi hasrat pemerkosaan gambut bin karhutla,” sindir pengurus KAHMI nasional itu.
Namun demikian, akademisi yang kerap jadi ahli di pengadilan itu mengaku salut dengan Green Policing Polda Riau.
“Ya untunglah ada Pak Jendral Kita Herimen Sang Kapolda. Beliau berani mengumumkan identitasnya, keberpihakannya. Beliau menyicil kompleksitas krisis lingkungan sesuai tupoksinya. Daerah lain biar lah mereka yang ngurus. Yang penting ada dentingan kencang dari ideologi ekologi yang didemam Pak Jendral Herimen melalui green policing- nya, ” tambah Elv.
Namun begitu, kata Dr Elviriadi, harapan pelestarian lingkungan harus digelorakan.
“Walau kita tau saat ini, pemulihan lingkungan hanya parsial dan kultural, tak sanggup menyentuh akar dan aktor masalah, ya kita jangan pasrah.
Berjuang terus dari bawah, dari diri kita. Kalau elit jelas tidak punya visi dan komitmen. Peradaban ke sana masih jauh, masih dzulumat. Lelamo temakol pun meloncat ke cukong kawan petinggi. Kepunan telouw temakollaaaaah, ” pungkas peneliti gambut yang ikhlas gundul permanen demi hutan tropis.**
Editor : Redaksi









