Example floating
Example floating
Artikel

” KHOMEINI DARI NEGERI MELAYU “

46
×

” KHOMEINI DARI NEGERI MELAYU “

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

DR Elviriadi & Penulis: Handiro Efriawan, SH., M.Si./ Foto 

Ada manusia yang lahir, hidup, lalu hilang, seperti bayang-bayang yang sekilas singgah di dinding waktu. Namun ada manusia yang kehadirannya tidak selesai pada tubuhnya. Ia menjelma menjadi gema, menjadi arah, menjadi nyala yang berpindah dari satu jiwa ke jiwa yang lain. Dalam barisan yang langka itulah, Dr. Elviriadi berdiri. Ia bukan sekadar nama dalam catatan akademik. Ia bukan sekadar suara di forum-forum intelektual. Ia adalah denyut nurani yang memilih untuk tidak diam, ketika dunia mulai kehilangan maknanya.

Lahir dari Kemelayuan yang Lembut, Tangguh laksana Farsi

Negeri Melayu seringkali disalahpahami. Ia dilihat lembut, seolah tidak memiliki daya. Padahal di balik kelembutan itu, tersimpan kekuatan yang tidak berisik, keteguhan yang tidak mudah retak, dan budi yang lebih tajam daripada pedang. Sebagaimana diingatkan Raja Ali Haji: “Kalau hendak mengenal orang berbangsa, lihat pada budi bahasa.” Dan pada diri Dr. Elviriadi, budi itu bukan sekadar hiasan, ia adalah senjata. Ia berbicara tanpa merendahkan.

Ia mengkritik tanpa menghina. Ia melawan tanpa kehilangan kemuliaan. Seperti air yang tampak lembut, namun mampu mengikis batu, perlahan, pasti dan tak terhentikan. Tangguh laksana bangsa Farsi/Parsa yang merupakan keturunan Bangsa Arya, penguasa beberapa kerajaan yang membentuk kekaisaran-kekaisaran yang kuat pada zamannya.

Khomeini dari Negeri Melayu

Merekonstruksi sosok seorang tokoh yang hidupnya sarat makna tentu bukan pekerjaan yang sederhana. Dibutuhkan ingatan, kedekatan batin, serta keberanian untuk menyusun kembali serpihan-serpihan keteladanan yang pernah hadir dalam pengalaman hidup dan ruang perenungan. Uraian kalimat sederhana ini merupakan ikhtiar untuk menyusun ulang mozaik jati diri Ayatollah Ali Khomaini dalam versi kemelayuan, semoga tidak nir-makna.

Merangkai kembali remah-remah kepribadian Dr. Elviriadi sebagai figur yang bagi saya (apabila diperkenankan sebagai junior sekaligus kader ideologis), layak direpresentasikan sebagai teladan yang khas. Dalam konteks tertentu, beliau layak dinisbatkan sebagai “Khomeini dari Negeri Melayu”, sebuah metafora moral yang hendak menegaskan keteguhan prinsip, keberanian intelektual, dan kesederhanaan hidup yang berpadu dalam satu sosok.

Metafora “Khomeini dari Negeri Melayu” menjadi lebih dari sekadar ungkapan simbolik. Ia adalah jalan untuk memahami keberanian moral yang berpijak pada ilmu, iman, dan kesederhanaan. Tentu, ini bukan penyamaan tokoh secara harfiah, melainkan penandaan atas satu watak yang langka: watak yang tidak mudah tunduk kepada tekanan, tidak mudah lunak oleh kepentingan, dan tidak mudah diam ketika kebenaran dipertaruhkan. Di tengah arus zaman yang gaduh, Dr. Elviriadi tampak seperti karang: diam dalam bentuknya, tetapi kukuh dalam pendiriannya.

Negeri Melayu, sejak lama, membesarkan manusia-manusia yang tahu bahwa kemuliaan tidak hanya terletak pada kepandaian, tetapi juga pada adab. Banyak tokoh telah terlahir dan menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan negeri melayu, diantaranya: Ongah Prof. Tabrani Rabb, Tengku Nasaruddin Said Effendy (Sri Budaya Junjungan Negeri), Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, Rusli Zainal (Datuk Setia Amanah), drh. Chaidir, dan Datuk Sri H. Al-Azhar. Tentu masih teramat banyak deretan nama tokoh-tokoh melayu lainnya yang tak tersebutkan. Karena itu, tokoh seperti beliau terasa akrab dengan inti kebudayaan ini. Sebagaimana ungkapan Tenas Effendy, “apa tanda orang bertuah, budinya halus bahasanya indah” . Dan pada sosok Dr. Elviriadi, kehalusan budi dan keindahan bahasa itu tidak hadir sebagai hiasan, melainkan sebagai watak. Kritiknya tajam, tetapi tidak kasar. Sikapnya tegas, tetapi tidak kehilangan santun. Pikirannya melangit, tetapi kakinya tetap menjejak tanah tempat rakyat dan alam menanggung luka.

Di Antara Para Penjaga Zaman

Sejarah selalu memiliki satu rahasia: ia tidak pernah benar-benar gelap, selama masih ada satu manusia yang menolak padam. Pada perjalanan Sejarah itu pulalah kemudian terlahir penjaga-penjaga peradaban. Dari padang pasir yang sunyi, Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan dunia bahwa peradaban tidak dibangun oleh kekuatan semata, tetapi oleh akhlak. Dari kesederhanaan lahir kekuatan, dari keteguhan lahir perubahan, dan dari kejujuran lahir kepercayaan yang melampaui zaman. Sejarah kemudian bergerak melintasi benua dan peradaban. Dari Persia, Ayatollah Ali Khamenei bangkit sebagai simbol keteguhan, yang menjadikan keyakinan sebagai poros perlawanan. Ia berdiri di hadapan kekuasaan global dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli: iman yang hidup. Ia menunjukkan bahwa manusia yang berpegang pada keyakinan tidak akan pernah benar-benar kalah, bahkan ketika ia terlihat sendirian.

Dari India, Mahatma Ghandi mengajarkan kemandirian melalui kemerdekaan jiwa. Dari Karibia, Fidel Castro menyalakan api perlawanan, membuktikan bahwa kehormatan bangsa lebih mahal daripada seluruh kenyamanan dunia. Dari Afrika, Nelson Mandela menunjukkan bahwa kesabaran yang panjang adalah bentuk keberanian yang paling bermartabat. Dan di antara bayang-bayang raksasa itu, di tanah Melayu yang tidak banyak bersuara, berdiri tegak seorang manusia yang tidak membawa tentara, tidak memimpin revolusi jalanan, tidak mengguncang dunia dengan teriakan, tetapi mengguncang sesuatu yang jauh lebih dalam : kesadaran manusia. Dr. Elviriadi.

Semangat Persia: Ketahanan dalam Tekanan

Ada satu pelajaran besar dari bangsa Persia: bahwa tekanan bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menempa. Di tengah embargo dan keterisolasian dunia, mereka membangun ilmu. Di tengah keterbatasan, mereka melahirkan kekuatan. Di tengah tekanan, mereka menjaga martabat. Falsafah itu sederhana, namun berat untuk dijalani: “Lebih baik tegak dalam kesulitan, daripada tunduk dalam kemewahan”. Dan dalam diam, falsafah itu hidup dalam diri Dr. Elviriadi. Ia tidak memilih jalan yang ramai. Ia tidak mencari panggung yang terang. Ia memilih jalan sunyi, jalan yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang telah berdamai dengan kesepian, dan bersekutu dengan kebenaran.

Satire “Jus Beruk Meranti”: Keris Imajiner

Setiap pejuang memiliki senjatanya. Sebagian mengangkat senjata. Sebagian mengangkat suara. Namun Dr. Elviriadi, mengangkat sesuatu yang jauh lebih halus,

namun jauh lebih mematikan: kesadaran yang dibungkus dalam satire. Dan senjata itu bernama: “Jus Beruk Meranti”. Di hutan yang dahulu utuh, meranti berdiri seperti pilar langit, menyambung bumi dengan rahasia semesta. Di sana, kehidupan bergerak tanpa gaduh. Beruk melompat bebas. Angin membawa doa. Tanah menyimpan keseimbangan. Lalu manusia datang. Dengan logika. Dengan angka. Dengan dalih pembangunan. Hutan ditebang. Akar dicabut. Kehidupan diubah menjadi statistik. Dan di tengah tragedi itu, Dr. Elviriadi tidak berteriak.

Masih membekas dalam ingatan tatkala kami diamanahkan untuk turut mempersiapkan salah satu buku karya beliau, “LELAKI OCU TERAKHIR”, pada cover buku tersebut tertulis sepenggal kalimat yang seolah berbisik getir : BONUS: “JUS BERUK MERANTI”. Dunia tertawa. Namun tawa itu perlahan berubah menjadi luka. Karena dalam satu kalimat itu, tersembunyi sebuah kenyataan yang tak terelakkan: Bahwa manusia modern tidak lagi sekadar merusak alam, ia telah sampai pada tahap paling tragis: meminum kehancurannya sendiri. “Jus” merupakan perasan terakhir dari kehidupan. “Beruk meranti” sebagai simbol rumah yang telah hilang. Dan tanpa disadari, kita telah menjadi makhluk yang menikmati hasil dari kehancuran yang kita ciptakan. Di sinilah letak kemuliaan seorang pejuang sejati: Ia tidak mengalahkan musuhnya dengan kekuatan. Ia membuat musuhnya tidak bisa lagi menghindari kebenaran.

Keberanian yang Mengakar, Tidak Berisik

Jika Khomeini mengguncang dunia dengan revolusi, jika Castro membakar semangat dengan pidato, maka Dr. Elviriadi menempuh jalan yang lebih sunyi: Revolusi Kesadaran. Ia tidak memanggil massa. Ia memanggil akal. Ia tidak menggerakkan emosi sesaat. Ia membangun kesadaran yang bertahan lama. Di ruang akademik, ia menyalakan pikiran. Di ruang publik, ia menegakkan keberanian. Di ruang batin, ia menjaga kejujuran. Seperti kata Albert Einstein: “Great spirits have always encountered violent opposition from mediocre minds”. Dan ia memilih tetap berdiri tanpa kehilangan ketenangan, tanpa kehilangan arah.

Pertemuan Dua Peradaban: Melayu dan Persia

Dalam dirinya, dua arus besar bertemu: Melayu yang mengajarkan adab, Persia yang mengajarkan keteguhan. Dalam dirinya, Melayu menemukan bentuk terbaiknya. Bukan Melayu yang lemah, tetapi Melayu yang tahu bahwa kekuatan tidak selalu harus keras. Sebagaimana petuah Raja Ali Haji “Kalau hendak mengenal orang berbangsa, lihat pada budi bahasa”. Dr. Elviriadi membuktikan bahwa: budi adalah kekuatan tertinggi. Ia bisa tegas tanpa kasar. Ia bisa tajam tanpa merendahkan. Ia bisa menggugat tanpa kehilangan adab. Ia adalah pertemuan antara kelembutan Melayu dan keteguhan Persia sesuatu yang langka: ketegasan yang beradab.

Keabadian ; Sosok yang Tidak Bisa Dihentikan oleh Zaman

Tokoh besar tidak diukur dari seberapa keras suaranya, tetapi dari seberapa lama nyalanya bertahan, bahkan mereka tidak akan pernah benar-benar mati. Mereka hanya berpindah bentuk. Dari tubuh, menjadi gagasan. Dari suara, menjadi gema. Dari manusia, menjadi arah. Sejarah mencatat tokoh-tokoh yang tidak bisa dihentikan: Mandela tidak bisa dibungkam. Castro tidak bisa ditundukkan. Khomeini tidak bisa dipatahkan. Dan dalam jalannya sendiri Dr. Elviriadi tidak bisa diabaikan. Ia adalah nyala itu. Ia bukan hanya manusia. Ia telah menjadi arah. Ia bukan hanya suara. Ia telah menjadi gema. Ia bukan hanya sosok. Ia telah menjadi kesadaran yang hidup.

Dan seperti semangat Persia yang tidak pernah tunduk, seperti akhlak Rasulullah yang tidak pernah pudar, seperti keberanian para pejuang dunia yang tidak pernah padam, nyala itu akan terus berpindah. Dari satu jiwa ke jiwa yang lain. Dr. Elviriadi, ia tidak hanya berbicara ia menanam. Ia menanam keberanian dalam pikiran. Ia menanam kesadaran dalam generasi. Ia menanam kegelisahan yang akan tumbuh menjadi perubahan. Ia tidak lagi sekadar hadir dalam ruang. Ia hadir dalam kesadaran. Ia hidup dalam keberanian orang lain. Ia tumbuh dalam kegelisahan generasi baru. Dan suatu hari nanti, ketika dunia kembali kehilangan arah, akan ada seseorang yang berdiri, tanpa tahu dari mana datangnya keberanian itu, namun tetap memilih untuk berkata benar, tetap memilih untuk melawan ketidakadilan, tetap memilih untuk menjaga bumi, dan di sanalah, dalam diam yang mulia, Dr. Elviriadi akan selalu hidup dalam keabadian.

Akhirnya, ada usia yang sekadar bertambah. Ada pula usia yang menumbuhkan makna. Empat puluh sembilan tahun bukan hanya hitungan waktu bagi Dr. Elviriadi, ia adalah jejak perjalanan batin, jejak keberanian, dan jejak kesetiaan pada nilai yang tidak selalu mudah dipertahankan. Dalam rentang itu, hidup tidak hanya berjalan, tetapi ditempa. Dan dari tempaan itulah lahir sesuatu yang tidak semua orang miliki: keteguhan yang tenang, keberanian yang beradab, dan kesadaran yang tidak mudah dibungkam. Sebuah perpaduan antara kearifan Melayu, keteguhan peradaban Persia, dan kecerdasan satire, yang menjelma dalam satu sosok: Dr. Elviriadi.

Dan kelak, dalam sunyi yang panjang, namanya akan tetap bergaung:

sebagai suara nurani, sebagai penjaga bumi, sebagai cahaya yang enggan redup.

“…Alastu birabbikum…? Qaaluu balaa syahidnaa…”

Tahniah dan Syabas, Kakanda Dr. Elviriadi—“Khomeini dari Negeri Melayu.”

Barakallah.

Salam Takzim,

HANDIRO EFRIAWAN, SH., M.Si.

Hamburg-Germany, 10 Syawal 1447 H

Example 120x600