Example floating
Example floating
Opini

Ketum PW KAMMI Riau: Gerakan Mahasiswa Terjerat Isu Populis, Lupakan Isu Strategis Riau

16
×

Ketum PW KAMMI Riau: Gerakan Mahasiswa Terjerat Isu Populis, Lupakan Isu Strategis Riau

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PEKANBARU, Kompas 1 net – Ketua Umum PW KAMMI Riau, Febriansyah, menyoroti arah gerakan mahasiswa di Riau yang dinilai mulai kehilangan tradisi berpikir kritis.

Menurutnya, banyak organisasi mahasiswa saat ini lebih sibuk merespons isu viral dan menggelar acara seremonial, ketimbang mengkaji persoalan strategis yang berdampak langsung pada masa depan Riau.

“Gerakan mahasiswa saat ini tengah mengalami kebingungan tujuan. Kita terlalu cepat bereaksi terhadap isu yang sedang populer, tetapi lambat dalam menganalisis masalah besar yang akan mempengaruhi masa depan daerah,” ujar Febriansyah di Pekanbaru, Kamis 31 Juli 2026.

Febriansyah menyebut ada sejumlah persoalan besar di Riau yang seharusnya menjadi fokus kajian, riset, dan advokasi mahasiswa:

1. Pengelolaan Blok Rupat : Sektor energi masa depan Riau yang belum banyak dikaji dampaknya
2. Dana Bagi Hasil (DBH) : Keterlambatan transfer DBH yang menekan kemampuan fiskal daerah dan APBD Riau
3. Angka Putus Sekolah : Masih tinggi di Riau, tapi minim penelitian dan pendampingan dari mahasiswa
4. Kerusakan Lingkungan : Hutan, karhutla, degradasi konservasi, pencemaran sungai, dan penurunan kualitas lingkungan
5. Ketahanan Pangan : Dominasi sawit membuat sektor pangan lemah. Alih fungsi lahan, minimnya regenerasi petani, dan ketergantungan pangan dari luar provinsi

“Di mana kajian yang dilakukan mahasiswa mengenai pengelolaan Blok Rupat ke depan? Mengapa tidak ada tulisan akademik yang membahas keterlambatan dalam DBH dan pengaruhnya terhadap APBD? Kenapa ruang-ruang diskusi di kampus tidak lagi dipenuhi dengan diskusi tentang arah ekonomi Riau?” tanyanya.

Ia menilai mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi pengamat kebijakan, tapi menjadi penghasil ide, policy brief, dan naskah akademik yang memengaruhi arah pembangunan.

“Ketika harga pangan melonjak kita baru bersuara. Padahal masalah utamanya adalah ketahanan pangan daerah yang masih lemah. Mahasiswa seharusnya meneliti bagaimana Riau menguatkan produksi pangan lokal,” tegasnya.

Selain mengkritik internal mahasiswa, Febriansyah juga menyoroti minimnya dukungan pemerintah terhadap organisasi mahasiswa di Pekanbaru.

“Sangat disayangkan, tempat publik yang dapat digunakan oleh mahasiswa semakin sedikit. Organisasi terpaksa berpindah-pindah, menyewa tempat, bahkan kesulitan untuk kaderisasi. Sudah saatnya pemerintah daerah menyediakan tempat kegiatan mahasiswa dan kepemudaan yang terbuka, representatif, dan gratis,” katanya.

Di akhir, Febriansyah mengajak seluruh aktivis mahasiswa di Riau untuk menghidupkan kembali ruang diskusi, riset, dan tradisi menulis.

“Kita perlu gerakan mahasiswa yang kembali mencintai perpustakaan, ruang diskusi, penelitian, dan tradisi menulis. Jangan biarkan gerakan mahasiswa kehilangan jati dirinya sebagai kekuatan moral dan penjaga kebijakan publik. Riau perlu mahasiswa yang berani berpikir besar, bekerja berdasarkan data, dan hadir dengan solusi,” pungkasnya.

Sumber: PW KAMMI Riau

 

Example 120x600