Example floating
Example floating
Banner Infozone
Pemerintah

Gubernur Maluku: Festival MAFERA Ajang Melestarikan Tradisi dan Buka Peluang UMKM Tumbuh

24
×

Gubernur Maluku: Festival MAFERA Ajang Melestarikan Tradisi dan Buka Peluang UMKM Tumbuh

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ambon | Kompas 1 Net – Kegiatan kolaborasi berbagai elemen atau organisasi masyarakat untuk mengisi bulan Ramadan atau Maluku Festival Ramadan (MAFERA) resmi dibuka dengan meriah di Lapangan Merdeka Ambon, Minggu malam (17/4/2022).

Usai membuka festival, Gubernur Maluku Murad Ismail melanjutkan dengan kunjungan bersama Pimpinan Forkopimda ke area bazar UMKM yang tersebar melingkari panggung utama yang ada di Lapangan Merdeka itu.

Dalam obrolan santai saat mengelilingi tenda UMKM, mantan Kakor Brimob itu mengatakan kalau festival ini dapat menjadi agenda tahunan, selain mengisi bulan suci Ramadan dan melestarikan tradisi, juga membuka peluang bagi tumbuhnya UMKM.

“Ini menjadi awal yang baik, MAFERA juga bisa turut menghibur masyarakat jelang waktu Sahur,” ujar Murad dengan senyum khasnya.

Sebelumnya, dalam laporannya saat pembukaan kegiatan, Ikhsan Tualeka selaku ketua panitia menyampaikan tema dari MAFERA 2022 ini adalah, “Mempererat Ukhuwah, Membangun Negeri.”

“Dari tema ini, terlihat ada keinginan kita semua agar ukhuwah atau persatuan perlu terus kita tingkatkan atau pererat, karena dengan demikian kontribusi yang kita berikan dalam membangun negeri akan lebih maksimal dan optimal,” jelas Direktur Beta Kreatif itu.

Dijelaskan Ikhsan, MAFERA 2022 ini diisi oleh sejumlah kegiatan, antara lain Lomba Senandung sahur yang memperebutkan Piala Gubernur Maluku dan total hadiah 60 juta rupiah, Bazar UMKM, Tausiah oleh para dai cilik dan Talkshow Milenial Kreatif yang dipusatkan di Universitas Pattimura Ambon.

“Untuk Lomba senandung sahur, ada lebih dari 50 tim yang telah mendaftar, sementara untuk UMKM ada lebih dari 50 aneka produk makanan dan puluhan produk kerajinan. Sedangkan dalam talkshow sudah tercatat lebih dari 300 Milenial Maluku tercerahkan yang mendatar”, urai Ikhsan.

Sementara dalam kata sambutannya, Ketua DPW Lasqi Provinsi Maluku Widya Pratiwi, menyambut baik MAFERA 2022 ini.

“Ini langkah maju yang perlu diapresiasi, setelah lebih dari dua tahun masyarakat tak dapat berkegiatan secara massal atau kolosal,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, dalam festival ini ada berbagai kegiatan, seperti lomba Senandung Sahur, bazar yang dapat membuat usaha kuliner warga dan UMKM lainnya terus hidup, juga Tausiah setiap malam selama festival berlangsung, serta Kreatif Talk Show yang melibatkan para Milenial sebagai pewaris masa depan Maluku.

“Kegiatan ini semacam ini perlu didukung, karena selain Ramadan dapat diisi dengan kegiatan positif, ada pula upaya untuk menjaga dan kelestarian tradisi lokal seperti senandung sahur dapat terus dilakukan”, ujar Widya.

Budaya panggil sahur atau senandung sahur yang dikompetisikan dalam MAFERA tahun ini tentu saja menjadi bagian penting dalam melestarikan budaya dan mempererat ukhuwah diantara kita sebagai satu komunitas masyarakat.

Seperti kita semua ketahui, Panggil Sahur atau Senandung Sahur adalah tradisi unik yang telah lama ada di tengah-tengah masyarakat Maluku. Menjadi budaya positif, selain untuk membangunkan warga santap sahur, juga turut mengakrabkan kehangatan sosial di masyarakat.

Panggil Sahur sendiri adalah tradisi membangunkan orang untuk santap sahur yang dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagu religi, yang diselingi pantun dan diiringi alat musik.

Tradisi ini selain memang diperuntukan untuk membangunkan warga, juga menjadi hiburan tersendiri. Kegiatan Panggil Sahur juga dapat turut meningkatkan ukhuwah antar warga atau kohesi sosial.

Selain dukungan Pemerintah Provinsi Maluku ada pula Kanwil Agama Provinsi Maluku, TP PKK Provinsi Maluku, Beta Kreatif, Laski Provinsi Maluku, Majelis Taklim Nur Aisah, Dekranasda Provinsi Maluku, Yayasan Ulil Amri, Baznas Maluku, HIPMI Perguruan Tinggi dan media massa.

Nampak hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua DPRD Azis Sangkala, Anggota DPRD Maluku Aziz Hentihu, Danrem 151 Binaiya Brigjen TNI Maulana Ridwan, Plt Kakanwil Kemenag Maluku, H. Yamin, Rektor Universitas Pattimura M. J. Sapteno, tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya.(red)

 

Editor: RB. Syafrudin Budiman SIP


IMBAUAN POLDA RIAU: STOP KARHUTLA

Larangan Membakar Hutan dan Lahan Polda Riau

Bersama kita cegah Karhutla, wujudkan Riau Hijau tanpa asap!

Example 120x600
Pemerintah

Dapat sanak 🔥 Ini berita “1.800 Ton Emas di Bawah Bantal” yang lagi viral dari Kemenko Perekonomian. Udah aku bedah + rapikan formatnya

*RINGKASAN BERITA*

*Judul*: Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal
*Tanggal*: 24 Agustus 2026 – 20:00 WIB
*Sumber*: Kemenko Perekonomian via Antara – http://Tribratanews.polri.go.id

*Poin Penting:*
1. *”Bawah Bantal” = Metafora*
Jubir Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto jelaskan istilah itu bukan harfiah. Maksudnya emas milik masyarakat yang disimpan secara pribadi/konvensional di rumah tangga selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

2. *Angka 1.800 Ton*
Estimasi emas yang dimiliki dan disimpan masyarakat. Nilai diperkirakan *US$252 miliar*.
Berbeda dengan cadangan emas nasional dari pertambangan. Cadangan emas Indonesia diperkirakan *3.600 ton* dengan produksi *90 ton/tahun*.

3. *Tujuan Pemerintah*
Mau menarik emas itu masuk ke ekosistem keuangan formal. Lewat IBMA, perbankan syariah, dan Pegadaian.
Menko Airlangga: Kalau 20% saja masuk sistem keuangan, dampak ke pertumbuhan ekosistem bullion nasional akan besar.

4. *Perbandingan Global*
AS: 8.133 ton | China: 2.331 ton | India: 880 ton | Indonesia Masyarakat: 1.800 ton

*VERSI SIAP PUBLISH – HTML UNTUK WP*

Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas “di Bawah Bantal” Milik Masyarakat

JAKARTA – Pernyataan pemerintah mengenai potensi 1.800 ton emas yang disebut berada “di bawah bantal” masyarakat Indonesia memicu perhatian publik. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kini memberikan penjelasan bahwa istilah tersebut bukan berarti emas secara harfiah disimpan di bawah bantal.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, istilah tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan akumulasi kepemilikan emas masyarakat yang terbentuk selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

“Sebagian emas tersebut hingga kini masih disimpan secara pribadi atau secara konvensional di rumah tangga. Potensi sekitar 1.800 ton emas masyarakat, dengan nilai sekitar US$252 miliar, merupakan gambaran besarnya aset emas yang dimiliki dan masih disimpan secara pribadi di masyarakat.”

— Haryo Limanseto
Jubir Kemenko Perekonomian

Bukan Cadangan Negara

Haryo menegaskan angka 1.800 ton tersebut berbeda dengan cadangan emas nasional. Angka itu juga tidak dimaksudkan sebagai tambahan terhadap cadangan emas yang berasal dari pertambangan.

Menurutnya, Indonesia diperkirakan memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton per tahun.

Peluang Ekosistem Bullion Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi 1.800 ton emas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekosistem logam mulia atau bullion di Indonesia. Hal ini disampaikannya saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Kamis (20/8/2026).

Airlangga mendorong agar sebagian emas yang selama ini disimpan masyarakat dapat dialihkan ke instrumen keuangan. Ia menyebut apabila sekitar 20 persen dari emas milik masyarakat masuk ke sistem keuangan, termasuk perbankan syariah dan Pegadaian, dampaknya terhadap pertumbuhan ekosistem emas nasional akan sangat besar.

Perbandingan dengan Negara Lain

Airlangga juga membandingkan kepemilikan emas tersebut dengan sejumlah negara. Amerika Serikat tercatat memiliki stok emas sekitar 8.133 ton, China sekitar 2.331 ton, sedangkan India sekitar 880 ton.

*PAKET SEO NYA*

1. *Judul SEO*: `Penjelasan Pemerintah Soal 1800 Ton Emas di Bawah Bantal Milik Masyarakat`
2. *Meta Description*: `Kemenko Perekonomian jelaskan maksud 1800 ton emas “di bawah bantal”. Nilainya US$252 miliar.