KATHMANDU, Kompas 1 net – Dua hari setelah banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Nepal-Tibet, ancaman baru muncul. Sebuah “danau bendungan” atau barrier lake terbentuk di perbatasan Nepal-China dan mulai meluap pada Jumat (28/8/2026).
Pembentukan danau ini membuat operasi SAR di Distrik Rasuwa sempat dihentikan sementara. Hingga kini korban tewas akibat bencana tercatat 584 orang, dengan lebih dari 2.400 orang masih hilang.
Menurut ahli, ada 2 danau baru yang terbentuk pasca bencana Rabu (27/8/2026).
- Danau Atas : Terbentuk di dekat gletser di wilayah China akibat air lelehan gletser yang tertahan.
- Danau Bawah : Jauh lebih besar dan berbahaya. Terbentuk di Sungai Lhende, Nepal, saat longsoran es, batu dan lumpur menutup lembah dan membendung sungai.
“Ini adalah danau bendungan akibat longsoran. Tumpukan batu, es dan lumpur memblokir aliran sungai, lalu air tertahan di belakangnya,” jelas Pawan Bhattarai, dosen Teknik Sipil Universitas Tribhuvan Nepal.
Lokasi danau berada di pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo, di hulu Sungai Bhotekoshi dan Trishuli yang mengalir ke Kathmandu.
Otoritas Nepal dan China memperingatkan danau ini bisa jebol kapan saja. Kementerian Sumber Daya Air China memperkirakan danau menampung 1,5 – 2 juta meter kubik air. Jumlah itu setara 1.200 kolam renang ukuran Olimpiade. Dalam 3 hari ke depan diperkirakan 3 juta m3 air lagi akan masuk.
“Bahayanya bukan hanya danau, tapi kemungkinan jebolnya bendungan alami. Di lembah curam seperti ini, jebol sebentar saja bisa menimbulkan banjir bandang berisi lumpur dan batu dengan peringatan sangat singkat,” ujar Bhattarai.
Risiko ini juga mengancam pekerja di terowongan pembangkit listrik tenaga air di hilir dan warga yang masih bertahan.
Pejabat Distrik Rasuwa, Narendra Pariyar, menyebut ketinggian air sungai sudah mulai naik. Tim SAR sempat berhenti 90 menit pada Jumat sebelum dilanjutkan kembali.
China telah mengerahkan tim 8 orang insinyur untuk survei udara dan pemodelan 3D danau. Namun akses ke lokasi sangat sulit karena medan curam dan tebing terjal.
Para ahli menyebut bencana seperti ini tidak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa dikurangi lewat pemantauan satelit, sistem peringatan dini lintas batas Nepal-China, dan evakuasi tepat waktu.
Nepal sebelumnya juga pernah mengalami fenomena serupa, seperti banjir Seti 2012 yang dipicu longsoran dan bendungan alami.
Sumber : Aljazeera. com.














