Wacana “Green Policing” bergulir tak terbendung. Menggelinding di tengah keruntuhan hutan dan luluh lantak ekosistem.
Pengasasnya, Irjend Pol Dr. Herry Heryawan, yang menjabat Kapolda Riau bergerak cepat. Hulu Hilir. Di hulu menyusun konsep, ke hilir menyapa satwa dan flora.
Narasi hijau yang digaungkan Bung Herimen Sang Jendral mengingatkan saya pada Franklin D. Roosevelt (1882-1945).
Negarawan dan Presiden Amerika Serikat itu berdiri di atas podium, satu abad sebelum isu-isu climate change diucapkan: Sebuah bangsa yang menghancurkan hutan tanahnya, berarti menghancurkan dirinya sendiri. Ucapannya, seperti menembus waktu hingga ke masa kini.
Saya coba mendekatkan Bung Jendral Herry dengan Tenas Effendi atau Budayawan Riau UU Hamidy. Alam semesta tidak harus dipandang sebagai seunit mesin, yang tersusun atas sekumpulan objek yang terpisah, melainkan sebagai sebuah keseluruhan yang harmonis. Antara manusia, alam , kebudayaan dan Tuhan tak bisa dipisah-pisahkan; melainkan satu persebatian.
Petatah Petitih Melayu yang menjadi epistemologi Green Policing, memandang flora, satwa, sungai, suak, ceruk dan rantau menjadi wilayah suci untuk dijaga, dilindungi, dan terlarang dari segala upaya penjejasan. Sebuah impian puak yang rindu ketentraman, kerimbunan jiwa dan keabadian. “Di atas pulau gambut ini, peluh kita pernah tumpah, dibawa anak sungai yang menjalar di akar-akar bakau. Sampan tua yang mengapung, di atas harapan dan doa, kita dayung menuju muara. Tempat ikan-ikan mengaji laut dengan siripnya….”
Kalam Keabadian
Kerapatan hutan nibung, tidak saja menjadi sumber ketahanan pangan pribumi, tetapi telah jadi benteng Tuanku Tambusai dan Raja Haji Fisabilillah berlawan dengan penjajah Belanda. Harimau jadi kawan seperjuangan. Beruk dan kancil jadi tamsilan. Gambut jadi markaz keriangan hewan melata yang menghias senja, tempat jejak kaki budak-budak berlari telanjang dada, menanti matahari hilang ke peraduannya. Dari alam, kata Aldo Leopold, seorang pengasas ekosentrisme, masyarakat membentuk budaya. Budaya yang segan silu penuh cinta, budaya terbuka, sikap harmoni yang tiada tara laksana siulan daun keladi di malam gulita. Kecik tapak tangan, nyiru kami tadahkan,” demikian ungkapan Melayu yang terkenal itu.
Dari tebing kebudayaan begitu rupa, Bung Jendral itu mengajak segenap Anggota Polda Menyergap para penderhaka rimba.
Dibentuk berbagai unit organis menyergap pengharu biru tanah Melayu. Ia ingin Riau Tak lagi risau. Hutan nya harus kembali hijau. Tak peduli pujian atau cacian menghadangnya. Lindungi Tuah, Pelihara Marwah. Agar Riau tak lagi berkuah. Biar rakyat tak lagi susah. Negeri makmur alam pun indah. Seluruh jagat menjadi berkah. Kepada Nabi Meminta Syafaah. Tujuan akhir ianya Ridha Allah.
Penulis : Elviriadi, Ph.D















