Pekanbaru | Kompas 1 Net -Umat islam harus terus berijtihad memperbaiki nasib dan menggapai masa depan. Boleh belajar dari Barat, namun kuat dengan ikatan spiritualitas islam.
Demikian narasi yang diungkap Cendikiawan Riau Dr.Elviriadi, M.Si melalui rilis tertulis ke media ini Kamis (14/4/22).
“Kehendak bebas dan meretas keterbatasan diri, saya dan semua kita bisa belajar dari filsafat barat, semisal pemikiran F.Nietzsche. Bahwa dunia hari ini dipenuhi ketegangan yang berkepanjangan, kungkungan, kecurangan, pengelabuan, penindasan yang membawa sikap fatalis. Maka menemukan eksistensi dengan semamgat penaklukan, kehendak bebas harus jadi pilihan. Kalau tidak akan tergilas, “ucap penulis buku “Melawan Tirani Ekologis” itu.
Akademisi yang kerap jadi saksi ahli itu menambahkan prinsip eksistensialis barat dipasangkan dengan mistikus islami.
“Namun saya pribadi, selain memakai Nietzsche atau Albert Camus, saya juga kombinasikan dengan salik Naqsabandi. Bahwa lathaif (“cakra” versi timur) harus dialiri zikir nafi isbat. Supaya setiap seluruh rongga jasad dipenuhi asma Allah. Terjadi keseimbangan spirit penaklukan dan kemajuan dengan ingat pada Allah, ” beber muballigh IKMI
Pengurus Majelis Nasional KAHMI itu menegaskan disitulah rahasia metode kebangkitan umat islam.
“Ke Barat saya ketemu Nietzsche, di Timur saya menikmati zauq Naqsabandi. Dua kombinasi untuk kemajuam diri dan bangsa. Apalagi ditengah persaingan tak sehat di berbagai lini kehidupan. Kalau tak kuat melawan kungkungan struktural, alamat kepunanlah nak sukses. Kepunan telouw temakol-lah, Wak! ” pungkas peneliti gambut yang rutin 5 hari sekali gundul demi hutan Riau.***
Red.

















