Example floating
Example floating
Sejarah

Ungku Saliah: Ulama Legendaris dari Pariaman dan Jejak Keramat yang Tak Pernah Pudar

6
×

Ungku Saliah: Ulama Legendaris dari Pariaman dan Jejak Keramat yang Tak Pernah Pudar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Bagi siapa pun yang pernah singgah di rumah makan Padang—khususnya yang dikelola oleh perantau asal Pariaman—sosok pria tua berpeci dengan tatapan teduh dalam bingkai foto bukanlah pemandangan asing. Beliau adalah Syekh Kiramatullah Ungku Saliah, ulama besar yang kharismanya melintasi zaman dan menjadi simbol keberkahan bagi masyarakat perantau Piaman.

Lahir sekitar tahun 1887 di Kampung Sagik, Nagari Limau Puruik, Padang Pariaman, tokoh yang lahir dengan nama kecil Dawat ini adalah sosok yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mensyiarkan agama Islam dan menjadi sandaran spiritual bagi rakyatnya.

Meniti Jalan Kesalehan

Gelar “Saliah” yang melekat padanya bukanlah pemberian sembarang orang. Saat menimba ilmu tarekat kepada Syekh Muhammad Yatim di Surau Kalampalan, budi pekerti Dawat yang amat santun membuat sang guru memberinya gelar “Saliah” (anak yang saleh). Sebutan “Ungku” sendiri merupakan penghormatan masyarakat Minang untuk guru mengaji.

Perjalanan intelektualnya berlanjut hingga ke Bintungan Tinggi dan Bukittinggi, berguru kepada ulama-ulama besar tarekat. Bekal ilmu inilah yang ia bawa pulang ke Surau Ujuang Gunuang Sungai Sariak untuk mendidik ribuan murid.

Benteng Spiritual di Masa Perjuangan

Ungku Saliah bukan hanya seorang guru ngaji, ia adalah pelindung rakyat di masa Agresi Militer Belanda (1945–1949). Salah satu kisah yang melegenda adalah saat pesawat Belanda menjatuhkan mortir tepat di samping suraunya yang penuh sesak dengan rakyat yang berlindung.

Berkat zikir yang dipimpin Ungku Saliah, mortir tersebut hanya tercebur ke kolam tanpa meledak sedikit pun. Meski akhirnya ia ditangkap dan dibawa ke Markas Belanda di Sicincin, karomahnya justru semakin nyata. Konon, jeruji besi tak mampu menahannya; setiap waktu salat tiba, ia bisa keluar menembus sel tanpa membuka pintu dan kembali masuk setelah menunaikan kewajibannya.

Karomah yang Menembus Logika

Masyarakat Pariaman meyakini Ungku Saliah sebagai pemilik gelar Syekh Kiramatullah (Syekh yang diberi keramat oleh Allah). Berbagai kisah tutur menceritakan kesaktiannya:

Ramalan Cuaca: Memperingatkan pedagang di Lubuak Aluang untuk mengangkat jemuran padi tepat sebelum serangan bom Belanda melanda, meski cuaca saat itu panas terik.

Penyembuhan: Mengobati orang sakit dengan sarana apa pun yang ada di depan matanya.

Meraga Sukma: Diyakini mampu berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan.

Filosofi Keberkahan di Pasar (Balai)

Salah satu alasan mengapa foto beliau terpampang di banyak kedai nasi adalah kisah “Keberkahan Balai”. Dikisahkan, jika Ungku Saliah berbelanja di sebuah warung, pedagang yang melayaninya dengan ikhlas (meski uang Ungku kurang) akan mendapati dagangannya laris manis seketika. Sebaliknya, Ungku dikenal tidak pernah mau menerima pemberian cuma-cuma dan seringkali sengaja meninggalkan uang kembaliannya.

Inilah yang menjadi inspirasi bagi para pengusaha rumah makan Pariaman; memajang foto beliau bukan untuk disembah, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan harapan agar warung mereka selalu diliputi keberkahan seperti warung-warung yang pernah dikunjungi beliau semasa hidup.

Wafatnya Sang Pelita

Ungku Saliah berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa pada 3 Agustus 1974. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di dalam suraunya sendiri di Korong Kampung Bendang, Nagari Sungai Sariak. Makam yang kini dikenal sebagai Gubah Syekh Tuangku Saliah itu tetap menjadi magnet bagi peziarah yang datang dari berbagai penjuru nusantara.

 

Sumber: dikutip dari akun facebook Nasul Koto

Example 120x600