JAKARTA , Kompas 1 net –Kemenangan 9-2 atas Bangladesh ternyata bukan pesta biasa bagi Timnas Indonesia. Di balik skor besar itu, ada drama kejar-kejaran gol dengan Malaysia yang bikin pemain Garuda stres berat.
Bek Borussia Monchengladbach, Kevin Diks, mengaku belum pernah merasakan malam segila itu sepanjang karirnya.
Bayangkan, sudah cetak 7 gol tapi ternyata masih belum lolos final.
“Bagi penonton di rumah ini pertandingan gila, dan kami di lapangan merasakan hal yang sama. Saya belum pernah mengalami hal seperti ini. Kita cetak begitu banyak gol, tapi ternyata masih belum cukup. Setiap kali cetak gol, selalu ada instruksi ‘satu gol lagi, satu gol lagi’. Kami sempat mikir, masa skor 7-2 masih belum cukup? Tapi ya terus dibilang satu lagi, satu lagi, satu lagi,” kata Diks kepada FIFA.
Situasi ini terjadi karena di laga lain di Stadion Si Jalak Harupat, Malaysia juga sedang pesta gol lawan Singapura. Indonesia dan Malaysia sama-sama punya 7 poin dan selisih gol +9. Penentunya adalah jumlah gol yang dicetak. Malaysia menang 6-0, jadi Indonesia wajib cetak minimal 9 gol!
Karena tuntutan itu, semua pemain Indonesia ikut menyerang. Diks yang aslinya bek kanan sampai jadi striker dadakan. Bahkan kiper Emil Audero ikut naik membantu serangan di menit akhir!
Kiper Rayo Vallecano itu mengakui timnya sengaja ambil risiko.
“Pertandingan jenis ini sangat sulit dinilai. Tim butuh cetak gol, jadi keseimbangan tim condong penuh ke depan. Wajar kalau kami tidak bertahan dengan sangat baik karena fokus utama menyerang. Anda menekan ke depan dan meninggalkan ruang di belakang. Tidak masalah, kami terima risiko itu. Yang penting kami cukup tangguh untuk cetak gol lebih banyak dari Malaysia,” ujar Audero.

Risiko itu nyata. Bangladesh sempat manfaatkan celah dan cetak gol kedua di menit 90+1, bikin skor jadi 7-2 dan Indonesia kembali terancam gagal lolos.
Namun mental Garuda yang ditempa pelatih John Herdman terbukti.
“Ini proses yang sedang kami jalani bersama Pelatih John. Kami harus selalu siap bangkit dan membalikkan situasi kapan saja. Saya sangat bangga dengan perjuangan anak-anak,” tambah Diks.
“30 menit terakhir benar-benar perjuangan berat bagi saya. Tapi saya coba bertahan dan berjuang bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk semua orang di tim,”
Hasilnya, keajaiban datang. Kevin Diks sendiri yang pecah kebuntuan di menit 90+6 lewat gol jarak dekat. Skor 8-2. Semenit kemudian Mitchell Baker menutup drama jadi 9-2 dan memastikan Indonesia unggul produktivitas gol atas Malaysia (16 gol vs 14 gol).
Indonesia kini akan menantang Thailand di final Senin mendatang.

Audero menutup wawancara dengan pesan santai tapi fokus:
“Kami sangat antusias. Tapi ini seperti laga biasa lainnya. Kami harus siap dengan fokus tinggi, tapi tidak perlu memberi tekanan berlebih. Pertama kami harus menikmatinya. Jika kami bisa menikmatinya, seperti malam ini, kami bisa tunjukkan kualitas kami yang sebenarnya.”
Sumber: http://FIFA.com


