Example floating
Example floating
Banner Infozone
Pemerintah

Gerakan Menanti Hujan, Bupati Tuaq Ubah Hutan Tidur Wuakerong Jadi Lahan Pertanian

57
×

Gerakan Menanti Hujan, Bupati Tuaq Ubah Hutan Tidur Wuakerong Jadi Lahan Pertanian

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Lembata, WUAKERONG, Kompas 1 net – Komitmen Pemerintah Kabupaten Lembata dalam mewujudkan ketahanan pangan dan ekonomi mandiri kian terlihat nyata. Setelah mengikuti misa dan melakukan pencanangan program Lembata Bebas Rabies 2030 di Bolibean, Minggu (28/9), Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, langsung memimpin peninjauan ke Desa Wuakerong, Kecamatan Nagawutung.

​Kunjungan ini berfokus pada program vital yang digagas Pemkab Lembata: mengubah lahan hutan dan lahan non produktif menjadi kawasan pertanian yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Inisiatif ini menandai babak baru di sektor pertanian lokal. Saat ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata telah memulai langkah penggarapan bersama masyarakat Nagawutung. Lahan tidur seluas 1 hektar ini diproyeksikan segera menjadi sumber pangan dan ekonomi yang menjanjikan bagi warga.

​Bupati Tuaq menjelaskan bahwa program penggarapan ini adalah implementasi praktis dari ‘Gerakan Menanti Hujan’.

Gerakan Menanti Hujan (Gema Hujan) merupakan inisiatif strategis pemerintah daerah untuk memastikan setiap momentum musim hujan dimanfaatkan secara optimal dalam mengolah tanah dan menanam komoditas bernilai ekonomi.

Bupati menegaskan pentingnya kesadaran kolektif: “Jangan biarkan lahan kita sia-sia… Lahan tidur kita olah, lahan non produktif kita ubah jadi produktif. Dari sini kita bisa membangun kemandirian pangan dan ekonomi,” ujarnya menekankan peran aktif masyarakat guna menyukseskan program ini.

​Program ekspansi lahan produktif ini dipandang sebagai solusi strategis untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan secara berkelanjutan.

Selain menciptakan nilai tambah ekonomi, program ini secara simultan memperkuat fondasi ketahanan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan warga pada lahan-lahan sempit yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penghidupan.

Dengan membuka lahan baru, pemerintah membuka peluang baru bagi kesejahteraan masyarakat Nagawutung dan sekitarnya. Peninjauan ini sekaligus menegaskan visi pembangunan terpadu di Lembata, yakni Mewujudkan Lembata yang Maju, Lestari dan Berdaya Saing.

Bupati Tuaq menutup kunjungannya dengan pesan bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi rakyat.

“Inilah semangat yang kita dorong agar Lembata menjadi daerah yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing,” pungkasnya.

 

Rita Senak SE, Kompas 1 net melaporkan


IMBAUAN POLDA RIAU: STOP KARHUTLA

Larangan Membakar Hutan dan Lahan Polda Riau

Bersama kita cegah Karhutla, wujudkan Riau Hijau tanpa asap!

Example 120x600
Pemerintah

Dapat sanak 🔥 Ini berita “1.800 Ton Emas di Bawah Bantal” yang lagi viral dari Kemenko Perekonomian. Udah aku bedah + rapikan formatnya

*RINGKASAN BERITA*

*Judul*: Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal
*Tanggal*: 24 Agustus 2026 – 20:00 WIB
*Sumber*: Kemenko Perekonomian via Antara – http://Tribratanews.polri.go.id

*Poin Penting:*
1. *”Bawah Bantal” = Metafora*
Jubir Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto jelaskan istilah itu bukan harfiah. Maksudnya emas milik masyarakat yang disimpan secara pribadi/konvensional di rumah tangga selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

2. *Angka 1.800 Ton*
Estimasi emas yang dimiliki dan disimpan masyarakat. Nilai diperkirakan *US$252 miliar*.
Berbeda dengan cadangan emas nasional dari pertambangan. Cadangan emas Indonesia diperkirakan *3.600 ton* dengan produksi *90 ton/tahun*.

3. *Tujuan Pemerintah*
Mau menarik emas itu masuk ke ekosistem keuangan formal. Lewat IBMA, perbankan syariah, dan Pegadaian.
Menko Airlangga: Kalau 20% saja masuk sistem keuangan, dampak ke pertumbuhan ekosistem bullion nasional akan besar.

4. *Perbandingan Global*
AS: 8.133 ton | China: 2.331 ton | India: 880 ton | Indonesia Masyarakat: 1.800 ton

*VERSI SIAP PUBLISH – HTML UNTUK WP*

Ini Penjelasan Pemerintah soal 1.800 Ton Emas “di Bawah Bantal” Milik Masyarakat

JAKARTA – Pernyataan pemerintah mengenai potensi 1.800 ton emas yang disebut berada “di bawah bantal” masyarakat Indonesia memicu perhatian publik. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kini memberikan penjelasan bahwa istilah tersebut bukan berarti emas secara harfiah disimpan di bawah bantal.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, istilah tersebut merupakan metafora untuk menggambarkan akumulasi kepemilikan emas masyarakat yang terbentuk selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi.

“Sebagian emas tersebut hingga kini masih disimpan secara pribadi atau secara konvensional di rumah tangga. Potensi sekitar 1.800 ton emas masyarakat, dengan nilai sekitar US$252 miliar, merupakan gambaran besarnya aset emas yang dimiliki dan masih disimpan secara pribadi di masyarakat.”

— Haryo Limanseto
Jubir Kemenko Perekonomian

Bukan Cadangan Negara

Haryo menegaskan angka 1.800 ton tersebut berbeda dengan cadangan emas nasional. Angka itu juga tidak dimaksudkan sebagai tambahan terhadap cadangan emas yang berasal dari pertambangan.

Menurutnya, Indonesia diperkirakan memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton per tahun.

Peluang Ekosistem Bullion Nasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut potensi 1.800 ton emas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekosistem logam mulia atau bullion di Indonesia. Hal ini disampaikannya saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Kamis (20/8/2026).

Airlangga mendorong agar sebagian emas yang selama ini disimpan masyarakat dapat dialihkan ke instrumen keuangan. Ia menyebut apabila sekitar 20 persen dari emas milik masyarakat masuk ke sistem keuangan, termasuk perbankan syariah dan Pegadaian, dampaknya terhadap pertumbuhan ekosistem emas nasional akan sangat besar.

Perbandingan dengan Negara Lain

Airlangga juga membandingkan kepemilikan emas tersebut dengan sejumlah negara. Amerika Serikat tercatat memiliki stok emas sekitar 8.133 ton, China sekitar 2.331 ton, sedangkan India sekitar 880 ton.

*PAKET SEO NYA*

1. *Judul SEO*: `Penjelasan Pemerintah Soal 1800 Ton Emas di Bawah Bantal Milik Masyarakat`
2. *Meta Description*: `Kemenko Perekonomian jelaskan maksud 1800 ton emas “di bawah bantal”. Nilainya US$252 miliar.