Example floating
Example floating
Internasional - Luar Negeri

“Pasar Minyak Tak Akan Sama Lagi”: Perang Iran Guncang Energi Dunia

17
×

“Pasar Minyak Tak Akan Sama Lagi”: Perang Iran Guncang Energi Dunia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, Kompas 1 net – Perang yang diluncurkan AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 telah mengguncang sektor energi global. Dampaknya diprediksi bersifat jangka panjang, bahkan permanen.

Harga minyak dunia sempat melonjak ke level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina 2022, sebelum kembali mendekati level pra-konflik empat bulan kemudian.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis

Sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati Selat Hormuz saat damai. Namun setelah Iran memperketat jalur itu, negara-negara penghasil energi berebut mencari rute alternatif.

Pasar minyak tidak akan sama lagi setelah konflik ini,” kata Adi Imsirovic, trader minyak senior dan dosen Universitas Oxford kepada Al Jazeera, 1/7/2026.

Ia memprediksi akan ada pembangunan pipa baru, skema keamanan baru, dan negara pembeli minyak akan mencari diversifikasi.

Meski AS dan Iran meneken nota kesepahaman pada 17 Juni untuk menjaga keamanan kapal, lalu lintas di Selat Hormuz tetap tidak stabil. Setelah sempat tembus 70 kapal pada 24 Juni, jumlahnya anjlok akhir pekan lalu buntut serangan dua kapal komersial.

Negara Beralih ke Jalur Darat

Untuk mengurangi risiko, eksportir meningkatkan pengiriman lewat Jalur Pipa Timur-Barat Arab Saudi, Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi UEA, dan Pipa Irak-Turki. Namun kapasitas ketiganya masih jauh di bawah 20 juta barel per hari yang biasa lewat Selat Hormuz.

Selama rezim Iran saat ini tetap berseberangan dengan AS dan Israel, selalu ada potensi ketegangan memuncak dan selat ditutup,” ujar Dan Marks, peneliti keamanan energi RUSI London.

Akselerasi Energi Terbarukan

Konflik ini juga mempercepat transisi ke energi terbarukan. UN menyebut perang ini “memacu ledakan energi terbarukan global”.

Kapasitas energi non-fosil 2025 sudah tembus rekor, dengan porsi 86% dari total penambahan kapasitas listrik.

Pasca perang ini, sedikit orang akan memilih mobil mesin pembakaran. Kenapa, kalau ada alternatif EV?” kata Imsirovic. “Ini akan mengakhiri monopoli minyak di transportasi darat.”

China, AS, dan Qatar Diuntungkan

China diprediksi jadi pemenang terbesar karena mendominasi 80% ekspor turbin angin, panel surya, dan baterai penyimpan energi dunia, menurut Wood Mackenzie.

“AS memperkuat posisinya sebagai pemasok LNG. Qatar mengukuhkan diri sebagai mitra kontrak jangka panjang yang andal,” kata Mohamed Elheddad, dosen ekonomi University of Lancashire.

 

[Sumber: Al Jazeera | Foto: Yasser al-Zayyat/AFP]`

 

Example 120x600