Langit seakan retak. Petir menyambar tanpa hujan, menyinari medan perang yang dipenuhi kabut hitam. Pasukan siluman berhenti bergerak, menunduk serempak ke arah satu sosok di atas batu besar.
Dewi Laksmi.
Gaun putihnya berkibar, namun matanya kosong—bukan mata perempuan yang pernah Arul cintai, melainkan mata yang telah direnggut kehendaknya.
Arul melangkah maju satu langkah.
“Laksmi… jika masih ada sedikit saja dirimu di sana, dengarkan aku.”
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar justru suara lain—berlapis, berat, seolah datang dari dalam tanah.
“Cinta adalah kelemahan, Arul Raksa.”
Tanah merekah. Bayangan raksasa muncul dari balik kabut: Batara Kala Murti, roh kuno pemakan duka dan penyesalan. Dialah dalang kebangkitan pasukan siluman—ia hidup dari luka masa lalu manusia.
“Aku hanya memberi kehidupan baru pada perempuan yang kau biarkan mati.”
Arul berteriak marah, namun Sundari Wulan segera menggenggam lengannya.
“Arul, dengarkan aku! Ia mengikat Laksmi dengan rasa bersalahmu!”
Duel Batin
Batara Kala Murti mengangkat tangan. Dewi Laksmi bergerak maju, pedang hitam terbentuk di tangannya.
Arul berdiri terpaku.
Pedangnya tak terangkat.
“Jika aku harus menghunus senjata pada masa laluku sendiri… maka aku benar-benar kalah.”
Sundari maju satu langkah ke depan Arul.
“Kalau begitu, izinkan aku berdiri di antara kalian.”
Cahaya hijau Aji Wana Citra memancar kuat, membentuk lingkaran kehidupan. Tanah yang hangus mulai menumbuhkan rumput. Pasukan siluman menjerit—mereka tidak tahan pada energi kehidupan murni.
Sundari menatap Dewi Laksmi dan berkata lembut:
“Kau tidak mati karena Arul. Kau mati karena kebencian. Jangan biarkan dirimu dipakai untuk menghancurkan cinta yang lain.”
Air mata mengalir dari mata Dewi Laksmi.
Pedang hitamnya retak.
Kebenaran Terungkap
Batara Kala Murti mengaum marah.
“Cukup! Aku akan memakan kalian semua!”
Saat itulah Arul akhirnya mengangkat pedang Nagara Nadi.
Ia menarik napas panjang, membuka seluruh jalur Sembilan Nadi.
“Laksmi… aku tidak menyangkal cintaku padamu. Tapi aku juga tidak akan mengorbankan masa depan karena masa lalu.”
Pedangnya bercahaya putih keemasan.
“Inilah janji terakhirku.”
Arul menghantam tanah—bukan ke arah Laksmi, tetapi ke arah Batara Kala Murti.
Cahaya menyatu dengan hijau Wana Citra.
Kehidupan dan keteguhan menyatu.
Batara Kala Murti berteriak, tubuhnya hancur menjadi debu hitam yang tersapu angin.
Dewi Laksmi jatuh berlutut, bebas dari kendali. Wajahnya kembali lembut.
“Terima kasih… Arul. Kini aku bisa beristirahat.”
Tubuhnya berubah menjadi cahaya dan menghilang ke langit.
Arul berlutut, air mata jatuh—namun hatinya terasa ringan untuk pertama kalinya.
Janji Baru
Medan perang sunyi. Pasukan siluman lenyap. Langit kembali cerah.
Sundari mendekat perlahan.
Arul berdiri dan menatapnya.
“Aku tidak tahu apa yang menanti ke depan… tapi aku tahu satu hal.”
Ia menggenggam tangan Sundari.
“Jika aku harus jatuh, aku ingin jatuh sambil memegang tanganmu.”
Sundari tersenyum di balik air mata.
“Maka aku akan berjalan bersamamu. Bukan di belakang. Bukan di depan. Di sampingmu.”
Dari kejauhan, Angling Darma memperhatikan dengan senyum bijak.
Sebuah era baru dimulai—bukan hanya untuk Malawapati, tetapi juga untuk dua hati yang akhirnya berdamai dengan takdir.
Bersambung…












