Example floating
Example floating
Ekonomi

Rahman Sabon: Viral Beras Sintetis Beracun Eks Bulog Tantang Integritas Kemenhan dan Bais TNI di Era Perang Asimetris

256
×

Rahman Sabon: Viral Beras Sintetis Beracun Eks Bulog Tantang Integritas Kemenhan dan Bais TNI di Era Perang Asimetris

Sebarkan artikel ini

Keterangan photo : Rahman Sabon Nama berbatik bersalaman dengan pemilik pabrik beras terbesar di Vietnam baju putih.

Jakarta, Kompas 1 Net– Dr. Rahman Sabon Nama Ketua Umum APT2PHI (Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Holtikultura Indonesia) menyoroti serius berita yang beredar viral di medsos soal ditemukan beras Bulog yang beracun.

Beras impor asal China itu ditemukan berlogo Bulog, terbuat dari bahan sintetis, bisa diontal-ontal menyerupai bola pingpong. Di Provinsi Aceh, seperti beredar di medsos, ada ibu-ibu sekarat lantaran mengkonsumsi beras impor sintetis asal China.

Berita mengejutkan seperti mimpi di siang bolong itu menyulut reaksi  Rahman. “Berita yang sudah meluas menjadi konsumsi publik itu patut menjadi perhatian Kementerian Pertahanan dan Bais TNI, karena berkolerasi kuat dengan perang non militer dan terkait pertahanan negara di era perang asimetris,” kata Alumnus Lemhanas RI itu, Senin (9/10/2023).

Pemerhati masalah pangan dan pertahanan ini tergelitik heran dalam tanya: memangnya Ìndonesia ini sudah menghadapi kelaparan seperti di Ethopia? Apa dan bagaimana sih peran Bulog? Kok begini jadinya negeri agraris tongkat kayu dan batu jadi tanaman ini?

Rahman mengatakan, suburnya tanah di negeri ini (Indonesia) bisa menghasilkan padi minimal 5-6 ton tiap satu hektar (Ha) sawah. Dengan keluasan areal sawah saat ini 10 juta Ha, maka seharusnya produksi padi dalam negeri 50-60 juta ton gabah.

Rahman mengkalkulasi, jika pada 2023 jumlah penduduk Indonesia 278 juta orang, sementara kebutuhan konsumsi perkapita 150 kg pertahun (Data BPS), maka  kebutuhan beras perkapita untuk 278 juta orang pertahun 41, 3 juta ton. Artinya, masih surplus stok  8,7.juta ton gabah.

Akan tetapi, tanya Rahman, mengapa pemerintahan Joko Widodo tidak optimal melakukan pengadaan pembelian gabah dan beras petani dalam negeri, namun justru terus mengimpor setiap tahun?

Menurut Rahman, impor beras terus-menerus di era pemerintahan Jokowi, lantaran persoalan beras sebagai kebutuhan vital terkait “perut rakyat” sudah bermetamorfosis menjadi komoditas politik untuk cari untung: cuan.

Itu sebabnya pula, kata Rahman, pemerintah Jokowi tidak fokus dan tidak seriusi upaya meningkatkan produksi beras dalam negeri, kendati beras jelas pasarnya yang tentunya memberi keuntungan cukup bagi petani Indonesia.

“Selama 9 tahun berkuasa, mungkin Presiden Jokowi beranggapan, untuk apa harus susah payah memproduksi (beras) sendiri, yang, akhirnya mengambil jalan pintas mengimpor yang dianggapnya lebih murah,” kata Rahman.

Dengan nada sesal dia mengatakan, pada awal Oktober 2023 pemerintah memutuskan menunjuk Bulog mengimpor satu juta ton _long grain white rice_ dari China seperti dinyatakan oleh Presiden Jokowi.

APT2PHI, kata dia, menemukan tiga indikator sumber  politisasi beras di era pemerintahan Jokowi yang membuat kehidupan petani padi tidak berubah, dan langgeng menjadi petani Gurem. Tiga indikator tersebut yaitu: Pertama, sektor produksi yang membuat ekonomi biaya tinggi  karena masalah pupuk mahal, irigasi tidak dirawat dengan baik dan lahan pertanian berkurang, dialihfungsikan untuk industri dan perumahan.

Kedua, sektor konsumsi dimana pemerintah tidak mampu menstabilkan harga eceran yang terjangkau rakyat ,harga melambung tinggi dan operasi pasar Bulog gagal . Ketiga, sektor pemasaran terkait politisasi harga  ditentukan mafia pangan yang seharusnya diaplikasikan dalam harga dengan lembaga negara Perindag/Bulog. “Tiga indikasi faktor ini di luar kekuasaan petani produsen,” kata Rahman Sabon.

Ketua Umum Partai Daulat Kerajaan Nusantara ini, pun merasa heran, bahwa menjelang Pemilu 2024 ditemukan beras sintetik plastik berlogo  Bulog di berbagai daerah Pulau Jawa dan di Aceh, Pulau Sumatera.

“Apakah lembaga Bulog penyedia komoditi pangan sudah tidak aman dan menjadi ancaman kesehatan bagi rakyat Indonesia?” tukas Rahman.

“Ini ‘kan masalah serius 278 juta nyawa rakyat!? Maka, saya minta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan BAIS TNI  perlu mendalami kasus ini untuk segera melakukan investigasi. Hemat saya kasus ini bukan ancaman serangan , tetapi sudah merupakan perang non militer senjata biologis.Jangan sampai ada kolusi kepentingan politik dengan mempertaruhkan nyawa rakyat Indonesia, karena kepentingan politik menjelang Pemilu 2024,” kata Rahman.

Menurutnya, dugaan tersebut mungkin saja terjadi, di tengah dengan santernya tentang berbondong-bondongnya imigran China menyerbu masuk ke berbagai wilayah Indonesia.

Kata Rahman, mudahnya para oligarki WNI China berbisnis dengan Bulog, dan menjadi pelaksana  importir beras satu juta ton dari China, merupakan cara mudah menangguk keuntungan bisnis dari impor beras  untuk membeli kekuasaan menjelang Pemilu 2024. “Pelakunya adalah importir pangan beras dari kalangan oligarki 9 cacing naga WNI China,” tandasnya.

“Hasil investigasi saya beberapa  waktu lalu di pabrik beras terbesar di Vietnam, Thailand, Kamboja dan Pakistan (Siam Rice dan Dong Thap), terkuak dan terakurasi bahwa mafia importir beras mendapatkan fee US$ 15 sampai US$20 perton.”

“Dengan begitu, importir beras China sebanyak satu juta ton pada 2023, praktis akan meraup keuntungan US$ 20 juta, ” pungkas Rahman Sabon Nama. (Rahman Sabon Nama)

Example 120x600
Ekonomi

Jakarta 07/10/2026 Kemenkeu perekonomian Indonesia awali Triwulan IV-2026 catatan menggembirakan tengah dinamika global penuh ketidakpastian perekonomian nasional terbukti tetap resilien tercermin tiga indikator penting dirilis awal Oktober 2026 inflasi terkendali neraca perdagangan terus surplus kembalinya aktivitas manufaktur zona ekspansi Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto sampaikan inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen yoy masih dalam sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen inflasi inti melandai 2,84 persen yoy sedangkan inflasi Administered Prices AP turun 3,25 persen yoy antara lain dipengaruhi normalisasi mobilitas pascalibur sekolah dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi relatif terbatas komponen Volatile Food masih perhatian inflasi 5,03 persen yoy dipengaruhi dinamika permintaan penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem El Nino bencana alam Pemerintah terus perkuat koordinasi pusat daerah jaga pasokan kelancaran distribusi keterjangkauan harga khususnya menjelang akhir tahun jaga daya beli ketahanan pangan Pemerintah perkuat penyaluran PKH Tahap III Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan Oktober Desember 2026 percepatan SPHP beras medium Perum Bulog dilengkapi Gerakan Pangan Murah GPM optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah CBP kerja sama antardaerah penguatan produksi melalui pengelolaan air jaringan irigasi pengaturan pola tanam pemanfaatan lahan produktif pemetaan wilayah rawan Early Warning System sisi eksternal neraca perdagangan Indonesia surplus kumulatif USD7,25 miliar Januari Agustus 2026 kinerja ekspor Januari Agustus 2026 ditopang besi baja USD19,18 miliar tumbuh 4,88 persen CPO turunannya USD17,75 miliar tumbuh 6,57 persen batu bara USD16,58 miliar tumbuh 4,31 persen ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen mencerminkan kontribusi hilirisasi kinerja ekspor sisi impor bahan baku penolong barang modal dominasi masing-masing USD133,38 miliar USD36,74 miliar total 91,3 persen impor peningkatan impor mesin peralatan mekanis 15,26 persen mesin perlengkapan elektrik 22,94 persen menunjukkan meningkat kebutuhan input produksi barang modal sejalan aktivitas produksi investasi domestik penguatan aktivitas manufaktur tercermin PMI Manufaktur September 2026 meningkat 52,4 dari 49,8 Agustus kembali berada zona ekspansi perbaikan didukung peningkatan pesanan baru produksi pertumbuhan pesanan ekspor masuknya proyek baru membaiknya daya beli September 2026 pesanan baru tumbuh laju tercepat sejak Februari 2026 sementara pesanan ekspor pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022 samping itu penyerapan tenaga kerja pembelian persediaan input kembali meningkat sisi biaya inflasi harga input output melambat level terendah enam bulan sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi 12 bulan depan tetap tinggi ke depan kebijakan Pemerintah tetap diarahkan jaga daya beli dorong investasi produksi tingkatkan daya saing industri nasional dengan fondasi stabilitas terjaga aktivitas ekonomi kembali menguat kita ingin pastikan momentum ini berlanjut memberikan manfaat semakin luas bagi masyarakat pungkas Juru Bicara Haryo ekon dm al Kemenkeu.`