Example floating
Example floating
Ekonomi

Permintaan Masih Lemah, Harga CPO Kembali Tertekan

95
×

Permintaan Masih Lemah, Harga CPO Kembali Tertekan

Sebarkan artikel ini

Foto : Ilustrasi

 

NASIONAL – Harga minyak sawit dunia (crude palm oil/CPO) ditutup melemah pada akhir pedagangan Jumat (23/09) d bursa berjangka Malaysia.

CPO turun untuk hari kedua setelah adanya prediksi penurunan harga lebih lanjut pada akhir tahun ini seiring tingginya pasokan tetapi permintaan melemah.

Tercatat harga CPO berjangka di Malaysia untuk kontrak Oktober 2022 ditutup melemah 88 poin atau 2,34% dari penutupan sebelumnya RM3.761/ton ke level RM3.673/ton. 

Untuk kontrak November 2022, harga CPO berjangka di Malaysia juga menurun 87 poin atau 2,29% dari RM3.797/ton ke level RM3.710/ton.

Adapun, harga CPO berjangka untuk kontrak Desember 2022 terkoreksi 90 poin atau 2,35% dari RM3.826/ton ke RM3.736/ton

Mengutip Reuters,analis terkemuka Dorab Mistry pada konferensi Globoil di Agra, India, memperkirakan harga minyak sawit dapat jatuh ke 2.500 ringgit ($547,29) pada akhir Desember.

Tekanan harga tersebut terbebani oleh peningkatan produksi, lemahnya permintaan, serta perlambatan ekonomi utama.

Kontrak sawit telah naik ke rekor tertinggi pada Maret 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina dan memicu kekurangan minyak nabati global. Harganya pun jatuh hampir 50% semenjak itu. 

Kegelisahan atas potensi resesi global turut mempengaruhi pergerakan harga. Kekhawatiran makroekonomi membayangi ekuitas global dan pasar komoditas sehari setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk ketiga kalinya.

Ini merupakan target kenaikan suku bunga ke level tertinggi sejak 2008.  Sementara itu, minyak sawit menghentikan kenaikan yang terjadi pada dua hari perdagangan sebelumnya di tengah kekhawatiran resesi global.

Adapun, nilai ekspor minyak sawit Indonesia akan melonjak pada paruh kedua tahun ini setelah pungutan ekspor dihapuskan.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia  memperkirakan total ekspor secara tahunan berpotensi turun dari posisi tahun lalu sebanyak 33,7 juta ton. 

Sementara itu, kontrak minyak kedelai teraktif Dalian Commodity Exchange turun 1,1% dan kontrak harga kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 1,9%.

Minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak terkait karena mereka bersaing untuk mendapatkan bagian di pasar minyak nabati global.

 

 

 

 

 

 

Sumber : Dataindonesia.id

.

Example 120x600
Ekonomi

Jakarta 07/10/2026 Kemenkeu perekonomian Indonesia awali Triwulan IV-2026 catatan menggembirakan tengah dinamika global penuh ketidakpastian perekonomian nasional terbukti tetap resilien tercermin tiga indikator penting dirilis awal Oktober 2026 inflasi terkendali neraca perdagangan terus surplus kembalinya aktivitas manufaktur zona ekspansi Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto sampaikan inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen yoy masih dalam sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen inflasi inti melandai 2,84 persen yoy sedangkan inflasi Administered Prices AP turun 3,25 persen yoy antara lain dipengaruhi normalisasi mobilitas pascalibur sekolah dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi relatif terbatas komponen Volatile Food masih perhatian inflasi 5,03 persen yoy dipengaruhi dinamika permintaan penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem El Nino bencana alam Pemerintah terus perkuat koordinasi pusat daerah jaga pasokan kelancaran distribusi keterjangkauan harga khususnya menjelang akhir tahun jaga daya beli ketahanan pangan Pemerintah perkuat penyaluran PKH Tahap III Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan Oktober Desember 2026 percepatan SPHP beras medium Perum Bulog dilengkapi Gerakan Pangan Murah GPM optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah CBP kerja sama antardaerah penguatan produksi melalui pengelolaan air jaringan irigasi pengaturan pola tanam pemanfaatan lahan produktif pemetaan wilayah rawan Early Warning System sisi eksternal neraca perdagangan Indonesia surplus kumulatif USD7,25 miliar Januari Agustus 2026 kinerja ekspor Januari Agustus 2026 ditopang besi baja USD19,18 miliar tumbuh 4,88 persen CPO turunannya USD17,75 miliar tumbuh 6,57 persen batu bara USD16,58 miliar tumbuh 4,31 persen ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen mencerminkan kontribusi hilirisasi kinerja ekspor sisi impor bahan baku penolong barang modal dominasi masing-masing USD133,38 miliar USD36,74 miliar total 91,3 persen impor peningkatan impor mesin peralatan mekanis 15,26 persen mesin perlengkapan elektrik 22,94 persen menunjukkan meningkat kebutuhan input produksi barang modal sejalan aktivitas produksi investasi domestik penguatan aktivitas manufaktur tercermin PMI Manufaktur September 2026 meningkat 52,4 dari 49,8 Agustus kembali berada zona ekspansi perbaikan didukung peningkatan pesanan baru produksi pertumbuhan pesanan ekspor masuknya proyek baru membaiknya daya beli September 2026 pesanan baru tumbuh laju tercepat sejak Februari 2026 sementara pesanan ekspor pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022 samping itu penyerapan tenaga kerja pembelian persediaan input kembali meningkat sisi biaya inflasi harga input output melambat level terendah enam bulan sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi 12 bulan depan tetap tinggi ke depan kebijakan Pemerintah tetap diarahkan jaga daya beli dorong investasi produksi tingkatkan daya saing industri nasional dengan fondasi stabilitas terjaga aktivitas ekonomi kembali menguat kita ingin pastikan momentum ini berlanjut memberikan manfaat semakin luas bagi masyarakat pungkas Juru Bicara Haryo ekon dm al Kemenkeu.`