Dengan bismillah kalam bermula. Dengan sholawat salam dibuka. Semoga nitizen bahagia sejahtera, beroleh berkah sepanjang masa.
Di era digital yang penuh dinamika dan tantangan ini, peran orangtua sebagai pendidik utama anak tidak lagi cukup dengan hanya memenuhi kebutuhan dasar. Keperluan mendesak muncul bagi orang tua untuk memiliki “Karakter Pengetahuan Parenting” – pemahaman luas, terintegrasi dan adaptif terhadap berbagai aspek kehidupan. Mencakup intelektual, teknologi, sosial budaya, serta nilai-nilai agama, akhlak dan moral. Karakter ini menjadi pondasi penting untuk membimbing anak menuju generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki integritas kemampuan bersaing positif serta memiliki rasa cinta dan penghormatan kepada orangtua.
Apa itu Karakter Pengetahuan Farenting pada Orangtua?
Karakter itu mengacu pada kemampuan Orangtua untuk :
* Memahami dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang relevan dengan pertumbuhan anak.
* Menghubungkan berbagai bidang pengetahuan dengan konteks kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan
* Mempunyai wawasan luas tentang budaya global, dinamika kehidupan masyarakat, dan tantangan masa depan yang dihadapi anak.
* Mengintegrasikan nilai-nilai agama, akhlak dan moral sebagai landasan utama dalam setiap bimbingan dan keputusan pendidikan anak
* Membangun komunikasi efektif dengan anak melalui pendekatan cinta dan kasih sayang, menumbuhkan rasa perhatian dan penghormatan anak kepada orangtua
* Menangani situasi khusus, seperti : masalah terhadap teknologi dan konflik yang mengganggu komunikasi keluarga dengan cara yang bijak dan penuh kasih.
Mengapa Orangtua Perlu Memiliknya di Era Digital?
1. Menjawab Tantangan Informasi yang Melimpah
Anak-anak kini, mudah mengakses segala jenis informasi melalui internet, baik positif maupun negatif. Orangtua dengan pengetahuan farenting dapat membantu anak memilah konten yang benar, memahami konteksnya dan menghubungkannya dengan nilai- nilai luhur, sehingga anak tidak terjebak dalam hoaks atau konten yang merusak.
2. Membimbing Anak dalam Menggunakan Teknologi dengan Bijak
Media sosial, game digital, dan flatform pembelajaran menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak. Orangtua yang memiliki wawasan yang luas dapat mengarahkan anak untuk menggunakan teknologi sebagai alat pembelajaran dan kreativitas, bukan sebagai sarana yang menghambat perkembangan, sambil tetap mengedepankan kejujuran dan penghormatan terhadap sesama.
3. Menciptakan Sinergi dengan Pendidikan Global
Kurikulum pendidikan modern semakin berorientasi pada integrasi berbagai bidang ilmu. Orangtua dengan karakter pengetahuan farenting dapat mendukung pelajaran mereka di rumah, menghubungkan materi pelajaran dengan realitas dunia serta mengintegrasikannya dengan nilai-nilai universal yang sesuai dengan perkembangan zaman.
4. Mengembangkan Karakter Anak yang Komprehensif.
Generasi unggul tidak hanya cerdas dari segi akademik, tetapi juga baik dalam akhlak dan ketrampilan sosial. Orangtua yang memiliki wawasan multi dimensi dapat membantu anak mengembangkan kemampuan beradaptasi, kreativitas, dan rasa cinta terhadap bangsa dan negara serta warisan budaya yang luhur.
5. Menyiapkan Anak untuk Masa Depan yang Dinamis
Dunia kerja dan kebutuhan masyarakat global akan terus berkembang. Orangtua dengan pengetahuan farenting dapat membantu anak mengembangkan kemampuan beradaptasi, kreativitas, dan pemecahan masalah yang komprehensif, sehingga anak siap menghadapi tantangan masa depan dengan percaya diri.
6. Membangun Hubungan yang Hangat dan Kokoh dengan Anak
Melalui komunikasi efektif dan pendekatan cinta, orangtua dapat menciptakan ruang aman bagi anak untuk menyampaikan pikiran dan perasaan. Hal ini, menjadikan anak merasa diperhatikan, dicintai, dan secara alami tumbuh rasa hormat serta kesediaan untuk menerima arahan orangtua.
7. Mengatasi Tantangan Khusus dengan Bijak
Ketika anak menghadapi masalah terkait teknologi – seperti kecanduan game, terpapar konten negatif atau menjadi korban cyberbullying – atau mengalami konflik yang membuat komunikasi sulit. Orangtua dapat menangani situasi tersebut tanpa menyalahkan atau membuat anak merasa tersisih. Pendekatan yang tepat akan membantu anak keluar dari masalah dan memperkuat hubungan keluarga.
Bagaimana Membangun Karakter Pengetahuan Farenting pada Orangtua?
1. Selalu meningkatkan Pengetahuan Sendiri
Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kursus daring, buku, atau komunitas orangtua global. Belajar tentang nilai-nilai agama dan moral yang relevan dengan zaman, serta mengkomunikasikannya kepada anak dengan mudah dipahami. Memahami keragaman budaya dan bagaimana mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.
2. Mengintegrasikan Nilai dalam Kehidupan Sehari-hari
Saat memberi anak berita atau konten digital, ajak anak untuk menganalisisnya dengan landasan agama dan moral serta menghubungkannya dengan kondisi masyarakat global. Saat melakukan aktivitas bersama seperti berkebun atau mengelola sampah ajarkan anak tentang pentingnya menjaga alam sebagai tanggungjawab bersama.
3. Membangun Komunikasi Harian yang Efektif dengan Pendekatan Cinta dan Kasih Sayang
* Tetapkan Waktu Berkualitas Setiap Hari
Luangkan minimal 15 – 30 menit setiap hari untuk berbicara dengan anak tanpa gangguan. Misalnya : Saat makan malam atau sebelum tidur ; tanyakan tentang aktivitas hariannya dengan cara yang hangat dan mendukung, seperti : “Apa yang membuatmu senang hari ini nak?” Atau “Apakah ada sesuatu yang ingin ananda ceritakan ke mama?”.
* Dengarkan dengan hati yang tulus
Jangan terburu-buru memberikan nasehat atau menilai. Dengar secara penuh perhatian, tunjukkan bahwa kamu benar-benar peduli dengan apa yang mereka rasakan dan alami. Gunakan bahasa tubuh yang mendukung seperti menatap kedua matanya dan memberikan sentuhan yang lembut yang menunjukkan kasih sayang dan perhatian yang seksama.
* Gunakan bahasa positif dan mendukung
Hindari kata-kata yang menyakitkan atau merendahkan. Jangan berkata : “Kamu selalu salah” tapi katakanlah “Kita bisa belajar bersama untuk mengatasi hal ini ya sayang!”. Dan beri pujian yang sesungguhnya ketika mereka melakukan hal yang baik, sehingga merasa dihargai dan termotivasi.
* Hargai Pendapat dan Perasaan Anak.
Anak juga memiliki pikiran dan perasaan yang layak diapresiasi. Dengarkan pendapat mereka dalam hal-hal yang berkaitan dengan diri mereka, kemudian berikan panduan dengan penuh cinta. Hal ini akan membuat anak merasa dihargai dan secara bertahap belajar untuk menghormati pendapat orangtua.
* Jadikan Komunikasi sebagai Sarana Berbagi Nilai
Saat berkomunikasi, hubungkan pengalaman anak dengan nilai-nilai agama, akhlak, moral dan budaya universal. Misalnya : jika anak bercerita tentang pertengkaran dengan temannya, ajak mereka untuk memahami perasaan teman dan mencari solusi yang sesuai dengan ajaran tentang saling menghormati dan saling menyayangi.
4. Menangani Situasi Khusus dengan Pendekatan yang Bijak dan Penuh Kasih Sayang
* Ketika Anak Menghadapi Masalah dengan Teknologi
. Jangan langsung melarang atau memarahi anak – cari tahu dulu penyebab anak menggunakan teknologi secara berlebihan atau terpapar konten yang tidak sesuai. Tanya dengan lembut “Apakah ananda merasa ada hal yang membuatmu lebih nyaman berada berlama-lama di depan gedget dari pada melakukan aktivitas lain?”.
. Bantu anak membuat aturan penggunaan teknologi yang jelas dan bersama-sama menyepakatinya. Seperti batas waktu bermain game atau jam penggunaan media sosial. Berikan contoh positif dengan mengurangi penggunaan gadget sendiri saat bersama dengan anak.
. Jika anak menjadi korban cyberbullying atau terpapar konten negatif, berikan rasa aman dan dukungan penuh. Bantu anak untuk menangani masalah tersebut, seperti upaya mendapatkan bantuan dari pihak yang kompeten dan berwenang untuk memblokir sumber konten yang tidak baik. Ajarkan anak untuk tidak menyebarkan atau merespon konten negatif dengan cara yang sama.
* Ketika Terjadi Konflik yang Mengganggu Komunikasi
. Jangan biarkan emosi menguasai diri, – jika perlu berhenti sejenak untuk menenangkan diri sebelum bicara dengan anak. Ingat, bahwa tujuan utama adalah menyelesaikan masalah, bukan memenangkan argumen.
. Ajukan permintaan maaf jika anda salah. Karena hal ini akan menunjukkan kepada anak bahwa membuat kesalahan adalah hal yang wajar dan penting untuk bertanggungjawab. Hal ini juga akan membuka pintu komunikasi yang lebih baik.
. Gunakan pendekatan kolaboratif. Ajak anak untuk bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Misalnya : jika anak tidak puas dengan aturan yang dibuat, ajak mereka untuk mengusulkan alternatif lain diskusikan bersama untuk menemukan kesepakatan.
5. Bangun Komunikasi Terbuka dan Kolaboratif
Bekerjasama dengan berbagai pihak yang kompeten, seperti guru, tokoh agama, dan komunitas masyarakat untuk memperoleh dukungan dan ide dalam mendidik anak. Menjadi teladan bagi anak dengan mengamalkan nilai- nilai yang diajarkan, seperti kejujuran dalam pekerjaan, kasih sayang terhadap keluarga dan cinta terhadap warisan budaya. Jangan ragu untuk mencari bantuan dari konselor atau ahli pendidikan, jika menghadapi kesulitan dalam menemukan solusi.
6. Manfaatkan Sumber Daya yang Tersedia
Menggunakan flatform pembelajaran untuk orangtua yang disediakan di sekolah atau lembaga pendidikan global. Mengikuti kegiatan lokakarya tentang pendidikan anak di era digital dan tehnik komunikasi efektif dengan anak. Manfaatkan konten positif dari berbagai sumber sebagai media pembelajaran dan ajang pelatihan untuk dapat berkomunikasi yang baik dengan anak.
Kesimpulan:
Karakter pengetahuan farenting pada orangtua adalah kunci utama dalam mencetak generasi unggul di era digital. Dengan memiliki wawasan luas, terintegrasi, dan mengedepankan nilai agama, akhlak dan moral – diimbangi dengan komunikasi harian yang efektif melalui pendekatan cinta dan kasih sayang, serta kemampuan menangani situasi khusus dengan bijak – orangtua dapat membimbing anak untuk menjadi individu yang cerdas, kreatif, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Generasi muda yang dibina dengan cara dan strategi pendekatan ini tidak hanya unggul secara global, tetapi juga memiliki rasa penghormatan dan pengabdian mendalam kepada orangtua, dengan pegangan landasan nilai dan pedoman hidup yang kuat untuk menghadapi segala dinamika dan problematika kehidupan insyaAllah. Wassalam.
M. Sangap Siregar S.Pd., MA. adalah
Dosen : Fakultas Kesehatan Prodi Kesmas Univ. Hang Tuah Pekanbaru Riau
Alumni : Magister Psikologi Konseling University Kebangsaan Malaysia, 2004.
Sumber :
Media Kecerdasa AI : www.dola.com















