Ini adalah kisah nyata perjuangan hidupku setelah ditinggal Omak (ibu) berpulang ke rahmatullah. Dari dapur berantakan dengan periuk hitam hingga merantau jadi kuli bangunan di Pekanbaru.
Hidup sepulangnya Omak ( Ibu ) ke rahmatullah bagiku dan keluarga tidak mudah, hidup sebagai laki-laki kami bertiga tidak hanya bekerja di hutan, tapi harus bekerja ekstra di rumah, mulai dari memasak, mencuci pakaian sampai dengan membersihkan rumah.
Aku selalu ingat bagaimana Periuk dan kuali yang hitam selalu berada di tengah rumah dapur, nasi dan gulai tidak kami letakkan di dalam mangkok, tetapi begitu masak angkat dan cangkul sendiri kuali dan Periuk.
Begitu pula kondisi rumah yang tata letaknya berantakan, piring piring dapur sampai ketengan rumah dan alat-alat ditengah rumah berada di dapur, atau bahkan pakaian yang berhari hari tetap di jemuran sampai ditimpa hujan dan menunggu kering lagi baru di angkat.
Bagi aku, Abah dan adikku yang laki laki, hal ini sudah terbiasa.
Tak beberapa lama aku mulai berpikir mengadu nasib ke ibukota, tepatnya di Pekanbaru, tamat SMA dikampung ku masih bisa dihitung jari, beberapa teman teman seperjuangan ku melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, meskipun keluar kampung tidak untuk kuliah namun aku berharap bisa mencari pekerjaan yang lebih baik.
Di Pekanbaru menumpang hidup di tempat keluarga di daerah Tampan, tepatnya di rumah adik adik sepupu Omakku. Mereka ada yang bekerja pabrik, bangunan dan sebagainya, jangankan jadi pejabat tinggi, jadi pegawai rendahan saja tidak ada.
Begitupun setelah dua hari di Pekanbaru aku sudah dapat bekerja sebagai kuli bangunan, aku ingat kerjaku membangun ruko 3 tingkat di Jalan Juanda, kalau sekarang tempat aku bekerja dulu namanya apotek Juanda.
Hanya beberapa bulan kemudian aku berhenti dan bekerja pula di cucian mobil bernama Iwan Service Stasion didekat hotel mutiara merdeka, selanjutnya mengikuti orang yang bekerja membersihkan rumput rumput di halaman rumah orang, ada majikan tempat ku bekerja seorang karyawan Caltex, sudah ku buat lamaran tapi tidak pernah di panggil.
Ada yang menawarkan aku melamar jadi polisi, tetapi membutuhkan dana untuk membuat surat memenuhi syarat syarat pendaftaran, karena tidak punya uang aku pulang kampung minta kepada Abah, Abah mengatakan bahwa ianya tidak punya uang.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak tinggal di Pekanbaru, nasib baik adik Omak di Duri menerimaku untuk menumpang, aku ikut Abang ipar bekerja membeli beras dan kelapa dari teluk pulau dan dijual di di Duri, sementara itu mereka juga membantu dan aku dapat bekerja sebagai buruh harian lepas di sebuah perusahaan subkontraktor PT Caltex.
Tetapi itupun tidak lama, selain gajinya yang murah, ditambah lagi aku mulai terpanggil ingin tinggal di kampung bersama Abah. Ku anggap tidak ada tempat bekerja sesuai harapan, mana pula Abah dan keluarga sudah mulai sering menganjurkan agar aku berkeluarga,” supaya ada yang memasakkan nasi Abah dan mengurus rumah,” kata kakak- kakak dalam tutur keluarga ku.
Disini dulu, nanti ku sambung lagi.
Bersambung : Keputusan Pulang Kampung dan Anjuran Berkeluarga Agar Ada yang Masakkan Nasi Abah
Cempedak Rahuk
Ahad 25 Oktober 2026
ZURFAMI













