Example floating
Example floating
Artikel

Ku tulis Kisah Hidup, Suka – Duka yang Indah Dikenang

10
×

Ku tulis Kisah Hidup, Suka – Duka yang Indah Dikenang

Sebarkan artikel ini

Sebuah catatan jujur tentang pelukan kasih sayang keluarga yang tak pernah hilang dari ingatan, bahagia sekaligus sedih untuk dikenang. Semoga bisa menghibur dan memberi hikmah bagi pembaca.

Ku tulis Kisah Hidup, Pelukan Kasih Sayang Keluarga yang Indah dan Sedih Dikenang

Tulisan ini kisah lalu, ku tulis karena selalu mengingatnya, dan saat kuingat ada perasaan bahagia, tapi tak jarang kadang aku sedih.

Bagi pembaca mungkin tidak demikian, setidaknya tulisan ini bisalah menghibur walaupun aku berharap dapat memberi hikmah.

Aku kecil empat bersaudara, aku anak ketiga dengan saudara sulung laki-laki, kedua perempuan dan aku punya adik laki laki.

Abahku ( Ayah ) dan Omakku ( Ibu) kerjanya dalam mencari nafkah kami menderes getah para ( latek pohon Karet ) bertani padi dan mencari ikan rawa.

Tak heran kebanyakan orang pada masa itu mencari nafkah memang dihutan, seingat ku keduanya terus kehutan bersama dan pulang sore, Omakku senantiasa mendampingi Abah dalam semua aktivitas.

Kasihannya, Omak tetap melakukan pekerjaan rumah tangga, bangun pagi sebelum berangkat, dan begitu pula sepulangnya. Ada kakak ku yang membantu tapi semuanya tetap tak selesai kalau bukan Omak.

Alkisah, aku tamat SD tahun 1985, Abah mengatakan ianya tak sanggup menyambung sekolah ku ke SMP, maklum
pada waktu itu sekolah SMP berada di Sedinginan, jadi dianggap jauh dari kamoungku di Banjar XII dan biayanya tentu lebih besar.

Tapi begitupun Abah tak melarangku sekolah, sementara Udo ku ( Abang ) yang sudah bekerja di Perusahaan PT RMI dan Kakak serta Omak tetap mendukung.

Aku putuskan melanjutkan sekolah, meskipun berjalan bersama teman teman aku pergi mendaftar ke SMP Sedinginan. Untuk biaya selain bantuan Udo, Kakak dan Omak, pada masa libur nya aku bekerja mengambil upah menderes getah.

Jika tidak ada libur, pada hari Sabtu Akupun libur sendiri untuk dapat ikut mengambil upah menderes pada Kakak Sepupu dan suaminya, uangnya aku simpan atau kubelikan keperluan sekolah atau untuk jajan.

Kondisi menyedihkan terjadi saat aku berada di awal kelas 2 SMP, Udo ku sisulung meninggal dunia dan aku kehilangan pusat bantuan, tetapi untuk makan dirumah tetap aman sebab Abahku bekerja di perusahaan menggantikan posisi Abang ku sisulung.

Oh iya, meskipun Abah bekerja di Perusahaan, Omakku tetap menderes dan kakak perempuan ku tetap membantu. Dan akhirnya aku pun tamat SMP pada 1988.

Kembali, aku harus berjuang untuk bisa melanjutkan sekolah ke SMA, dengan cara yang sama dan bantuan Omak, kakak dan Abah, aku mendaftar dan bersekolah di SMA Sesinginan.

Tapi aku sudah tidak mengambil upah menderes lagi, kalau waktu sekolah pagi, sorenya aku dan teman menderes, sebaliknya jika sekolahnya pagi maka pada sore hari akupun menderes.

Foto : Ibunda Tersayang Almarhummah Saharah Binti Muhammad Gudang

Kembali terjadi kisah sedih, sekitar Kelas 2 SMA, kakak Perempuan ku pun meninggal pula, dan ini kembali membuat keluarga kami terpukul, bagaimana tidak, Omakku yang sudah berusia 52 tahun dan juga sakit sakitan ( Asma), harus bekerja sendiri di rumah untuk memasak, mengurus rumah dan mencuci pakaian kami bertiga yang tinggal laki laki.

Kami jalani situasi sulit itu, selain Omakku yang sakit sakitan, Abahku pun sudah berhenti bekerja di perusahaan PT RMI dan kembali menderes getah, tetapi lebih banyak sendiri karena Omak kadang kadang tidak sanggup lagi.

Adikku yang laki laki lah, yang baru kelas 2 SMP berhenti sekolah dan bersama Abah bekerja menderes, sementara aku tetap menjalani kelas 3 SMA hingga tamat pada 1991.

Ku ceritakan kondisi Omakku yang sakit sakitan tanpa diurus anak perempuan dan hanya Abah, oh iya Omakku sebenarnya tidak hanya sakit fisik, tetapi sakit perasaan karena ditinggal mati oleh Udo ku yang laki-laki dan kakak perempuan ku.

Aku pernah memperhatikannya saat tidur dalam keadaan raut wajah menangis 😭 karena beban perasaannya, jangankan Omak, aku saja pun selalu teringat pada Udo dan Kakak.

Sekali waktu pada tepatnya baru 2 bulan aku tamat SMA, Kondisi sakit Omak semakin kuat, Abah menjual Tanah dan membawanya berobat ke Duri, dalam rintih sakitnya Omak mengatakan dimana telur pecah disitulah tembikar tinggal.

Kebetulan Omak punya adik di Duri dan selain dirumah sakit, saat disuruh pulang omak tetap dirumah adiknya karena disitu dia dirawat oleh Adik dan juga anak anak adiknya. Dan tepat pada Hari Jum’at, didepan mataku Omak meninggal dengan suara terakhirnya berkata sayang kepadaku.

Anakku sayang 😭,” kata Omak.

Dan Omak pun dimakamkan di Duri, tepatnya pemakaman Haji Abdul Manan, yang kemudian beberapa tahun Kemudian Adiknya bernama Hj Ino juga disemayamkan di situ.

Catatan: aku tidak bermaksud mengesampingkan jasa Abah, sebenarnya dia berkata jujur, perannya sama dengan Udo, Akak dan Omakku. Bahkan karenanya aku tumbuh mandiri. Wallahu ‘alam.

Sampai disini, nanti ku sambung lagi!

Hikmah Dari Kisah Suka Duka Bersama Omak dan Abah

Kisah di atas adalah bukti nyata perjuangan keluarga kami pada era 1980-an. Dari menderes getah para di hutan, bertani padi, hingga mencari ikan di rawa, semua dilakukan Abah dan Omak demi menyekolahkan anak-anaknya.

Kepergian Udo sulung saat penulis kelas 2 SMP dan kepergian Kakak perempuan saat kelas 2 SMA menjadi pukulan berat, terutama bagi Omak yang sudah berusia 52 tahun dan menderita asma. Namun dari situlah kemandirian itu tumbuh.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa pelukan kasih sayang keluarga adalah harta yang paling indah untuk dikenang, dalam suka maupun duka.

Penulis: ZURFAMI, Riau – Ditulis dari kisah nyata.


Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *