Example floating
Example floating
Artikel

Epilog Biografi Anak Negeri : 49 Tahun Dr Elviriadi, Konsisten di Garis Rakyat Oleh : Zainuddin Syafie

45
×

Epilog Biografi Anak Negeri : 49 Tahun Dr Elviriadi, Konsisten di Garis Rakyat Oleh : Zainuddin Syafie

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SEKELUMIT PESAN DAN HARAPAN 

Di tengah hiruk-pikuk kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau, di mana aroma tanah basah Riau bercampur dengan hembusan angin Melayu yang membawa cerita leluhur, berdirilah sosok Dr. Elviriadi, S.Pi., M.Si. Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan yang tak sekadar mengajar ilmu tanah dan tanaman, tapi menabur benih kesadaran di hati mahasiswa.

Example 300x600

Kesan pertamaku tentang adinda ini muncul seperti embun pagi di perkebunan kelapa sawit: segar, menyentuh, dan tak terduga. Bukan karena gelar doktoralnya yang mengilap atau jabatannya yang prestisius, melainkan karena sorot matanya yang tajam, seolah-olah setiap kuliah adalah panggung untuk membongkar lapisan-lapisan ketidakadilan lingkungan di tanah Melayu ini.

Dr. ElFiriadi bukanlah dosen biasa; ia adalah penjaga gerbang antara ruang kelas dan medan perjuangan, di mana isu deforestasi, eksploitasi lahan, dan hak masyarakat adat menjadi napas sehari-harinya.

Bayangkan sebuah perjalanan yang dimulai dari Selatpanjang desa kecil di Riau, di mana anak muda bernama Elviriadi pertama kali menyentuh tanah liat basah dengan tangan polosnya.

Lahir di era transisi antara tradisi Melayu dan modernitas industri, ia tumbuh di antara sawah yang menyusut dan hutan yang merangkak mundur di bawah tekanan sawit raksasa. Kesan mendalam itu datang saat ia memilih jalan perguruan tinggi, meraih S.Pi. dan M.Si. dengan kegigihan yang lahir dari pengamatan langsung terhadap luka bumi Riau. Bukan mimpi kosong, tapi pengalaman nyata: melihat sungai-sungai keruh oleh limbah pabrik, mendengar keluhan petani kecil yang terjepit antara korporasi dan kemiskinan.

Di Fapertapet UIN Suska, beliau tak hanya menyampaikan teori agronomi; ia menceritakan kisah-kisah itu sebagai pelajaran hidup. Mahasiswa yang duduk di bangku kuliahnya seringkali pulang dengan hati bergetar, membawa bukan sekadar catatan, tapi amunisi untuk berbicara lantang tentang keberlanjutan.

Apa yang membuat kesan Dr. Elviriadi begitu melekat adalah transformasinya menjadi suara kritis yang tak kenal kompromi. Di balik meja kuliah yang sederhana, ia menjadi pemberontak intelektual.

Ingat saja seminar-seminarnya tentang dampak sawit terhadap ekosistem Melayu Riau— bagaimana ia mengupas data demi data, menunjukkan bagaimana hutan adat hilang, digantikan monokultur yang haus air dan tanah. Bukan sekadar kritik; ia mengajak audiens untuk bertindak.

Kesan itu semakin dalam saat beliau terlibat dalam diskusi publik, berhadapan dengan pejabat dan pengusaha, dengan bahasa yang tegas namun berakar pada nilai Islam dan adat Melayu. “Tanah ini warisan nenek moyang,” katanya suatu kali dalam sebuah forum, suaranya bergema seperti gamelan Melayu, menyatukan ilmu pengetahuan dengan roh budaya.

Di tanah Riau yang kaya minyak sawit tapi miskin keadilan sosial, Dr. Elviriadi muncul sebagai jembatan: akademisi yang tak diam di menara gading, tapi turun ke lumpur lapangan untuk membela petani, nelayan, dan hutan yang merintih.

Perjalanan biografisnya penuh liku yang meninggalkan jejak emosional. Dari mahasiswa biasa menjadi dosen, ia melewati gelar doktor dengan riset yang menusuk : studi tentang restorasi lahan pasca-sawit, di mana ia membuktikan bahwa tanah Melayu bisa bangkit jika manusia mau belajar dari alam.

Kesan pribadiku semakin kuat saat menyaksikan dedikasinya pada mahasiswa—bukan sebagai pengajar otoriter, tapi sebagai kakak yang membimbing. Ia sering mengajak mereka ke lapangan, ke perkebunan kecil di Siak atau Pelalawan, di mana angin membawa bau tanah subur dan cerita. perjuangan.

Di sana, ia berbagi bukan hanya pengetahuan, tapi visi: Riau sebagai tanah Melayu yang hijau, di mana pertanian halal berpadu dengan pelestarian adat. Kritiknya terhadap isu sosial tak pernah pudar; ia bicara tentang ketimpangan gender di sektor pertanian, hak buruh migran di pabrik sawit, dan bagaimana lingkungan yang rusak memperburuk kemiskinan masyarakat Melayu. Setiap kata-katanya seperti pohon kelapa yang kokoh, berbuah manfaat bagi generasi muda.

Namun, di balik kesan gemilang itu, ada harapan yang membuncah seperti sungai Batang Hari yang deras. Dr. ElFiriadi, dengan segala kiprahnya, layak mendapat panggung lebih luas. Harapan pertama adalah pengakuan institusional yang lebih kuat dari UIN Suska mungkin pusat riset lingkungan berbasis Islam yang dipimpinnya, menjadi mercusuar bagi universitas lain di Sumatra.

Bayangkan ia memimpin kolaborasi internasional, membawa pengetahuan Riau ke forum global seperti COP atau ASEAN, di mana suara Melayu tak lagi terpinggirkan. Harapan kedua: generasi penerus yang ia tanamkan benihnya kini harus mekar.

Mahasiswa-mahasiswanya, yang kini tersebar di lembaga pemerintah dan LSM, perlu didorong untuk membentuk jaringan alumni yang kuat, melanjutkan perjuangan melawan degradasi lingkungan. Lebih dari itu, harapan pribadi untuk beliau adalah keseimbangan: agar api kritiknya tak membakar dirinya sendiri, tapi tetap menyala dengan dukungan keluarga dan komunitas Melayu yang ia bela.

Lebih jauh lagi, harapan masa depan membentang luas seperti horizon perkebunan Riau saat fajar menyingsing. Dr. Elviriadi bisa menjadi penulis buku-buku seminal, merekam biografi tanah Melayu melalui lensa agronomi dan sosial—sebuah warisan tulis yang abadi. Aku membayangkan ia terlibat dalam kebijakan provinsi, membentuk regulasi sawit berkelanjutan yang adil, di mana petani kecil tak lagi jadi korban.

Harapan itu juga mencakup inovasi: laboratorium riset di Fapertapet yang menggabungkan teknologi drone untuk monitoring hutan dengan pengetahuan adat Melayu, menciptakan model pertanian pintar yang ramah lingkungan.

Di era digital ini, ia bisa memimpin platform online untuk edukasi masyarakat Riau, menyebarkan kesadaran melalui video dan podcast yang menyentuh hati nelayan dan petani. Dan yang terpenting, harapan agar semangatnya menular ke seluruh dosen UIN Suska, mengubah kampus ini menjadi benteng perubahan sosial-lingkungan di tanah Melayu.

Kesan tentang Dr. Elviriadi tak pernah pudar; ia seperti pohon durian legendaris di pekarangan Melayu kokoh, berbuah lebat, dan memberi naungan bagi yang lelah. Perjalanannya mengajarkan bahwa akademisi sejati bukan yang mengumpulkan gelar, tapi yang mengubah dunia dengan ilmu dan hati.

Harapan untuknya adalah puncak karier yang gemilang: mungkin rektorat suatu hari, atau penghargaan nasional atas kontribusi lingkungannya. Di tanah Riau yang penuh kontradiksi kaya sumber daya tapi rapuh ekosistem—Dr. Elviriadi adalah harapan hidup.

Ia mengingatkan kita bahwa suara kritis dari balik meja kuliah bisa mengguncang gunung, membangun masa depan di mana tanah Melayu kembali bernyanyi dalam harmoni alam dan manusia. Dan di situlah letak keabadian biografinya: bukan dalam halaman-halaman formal, tapi dalam hati-hati yang ia sentuh, dalam harapan yang ia tanamkan. Salam takjub, Zainuddin Zafiie

Example 300250
Example 120x600