Seekor Camar Mengitari
Rupat
Berputar Menggaris Awan
Sungguh, dari jauh yang gelap Ia mengirim gumam;
“Telah kusetubuhi seluruh negeri di tubuhmu,
tapi sayang, aku tak bisa merangkai kata karena tanah dan pasir yang dulu membuncah,
kini berdesing deru mesin mesin pongah…
bagi teluk kepalsuanmu yang bisu,
bandar bengkalis yang diam-diam bengis…
dan pekanbaru- jakarta
Kami hanyalah seonggok pulau yang hampa
Tak lagi lunak pasir diinjak
dan riak gelombang singgah di perahu patah
Gundukan pasir itu semakin menggunung.
Pohon nyiur tak berdaun itu telah tumbang.
Pantai itu memakan gambut sampai hanyut dibawa ke tengah laut…
Maka sebelum pulau ini tenggelam tak dikenang
izinkan aku terbang, mencari kerikil dan batu-batu bio
mencari bukit dan gunung-gunung.
Akan aku tanam rindu peradaban Melayu
Di atas pulau gambut ini, peluh kami pernah tumpah, dibawa anak kepiting yang memanjat di akar-akar bakau. Sampan tua yang mengapung, di atas harapan nan sirna. Tuan berdasi kau puja jua…
Rupat Terbelah Gambut Merana
Di iris kanal banjirpun mendera
Kebun kebun, ialah kuburan jelata
Hapuskan memori
pada kenuduk, pada rimba, pada anak pelanduk, burung camar, dan kepak kepak elang yang patah….
Inilah Rupat Tanah duka yang terbelah patah ditengah garang si engkek pongah.
Tapiiiiiiiiiii….
Ingat Tuan Takur Rupat Tersungkur
Kami Melayu Jebat tak kenal Mundur…
“Lebih baik mati berdiri
Daripada Hidup Membungkuk
Pekanbaru tanpa bintang gemintang, 16 Februari 2023
Elviriadi penulis puisi dan cerpen. Lebih dikenal sebagai ahli lingkungan hidup dan kehutanan