Example floating
Example floating
Artikel

Dr. Elviriadi, M.Si.: Pejuang Tanpa Tanda Jera, Intelektual Organik dari Bumi Lancang Kuning Oleh: Satria Antoni, PhD (Praktisi Migas)

19
×

Dr. Elviriadi, M.Si.: Pejuang Tanpa Tanda Jera, Intelektual Organik dari Bumi Lancang Kuning Oleh: Satria Antoni, PhD (Praktisi Migas)

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Prolog: Pertemuan di Negeri Jiran

Masih lekat dalam ingatan saya, pertama kali berjumpa dengan Dr. Elviriadi, M.Si. di salah satu kantin Klinik Kesihatan Kajang, Selangor Malaysia saat beliau membawa anak dan istrinya berobat di klinik tersebut. Waktu itu, tahun 2009, beliau tengah bergelut dengan disertasi doktoralnya Fakulti Sains dan Teknologi, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).

Example 300x600

Sosoknya sederhana kemeja lengan panjang yang sedikit longgar, celana bahan yang sudah mulai hitam memudar, dan sepatu yang sudah koyak yang diikat dengan tali karet kajai. Tapi matanya, ah, matanya menyala seperti bara. Di situlah letak seluruh kekayaan seorang Elviriadi: pada api semangat yang tak pernah padam meski diterpa badai kehidupan di negeri orang.

Beliau adalah potret anak rantau sejati. Bukan sendiri, ia berjuang bersama istri dan anak-anaknya di negeri jiran. Di tengah keterbatasan dana yang membuat banyak mahasiswa lain mungkin menyerah balik kampung, Elviriadi justru bertahan dengan cara yang tak biasa.

Kadang ia bercerita tentang bagaimana ia berpuasa Senin Kamis selain menguatkan iman juga menghemat pengualaran. Pernah suatu malam, ia tunjukkan dompetnya yang hanya berisi beberapa ringgit cukup untuk membeli secangkir teh tarik di kantin fakultas.

Tapi lihatlah, esok harinya ia tetap hadir di perpustakaan lebih pagi dari siapapun, tetap menyelesaikan draf bab demi bab disertasinya dengan penuh semangat. Istrinya dengan sabar mengatur keuangan seadanya, anak-anaknya tumbuh dalam kesederhanaan yang justru mengajarkan arti ketangguhan sejak dini.

“Yang penting niat dulu, Adinda,” katanya suatu sore. “Soal rezeki, Allah yang urus. Tugas kita hanya melangkah.” Frasa itu terus bergema hingga sekarang.

Babak I:

Akar Perjuangan dari HMI Pekanbaru

Sebelum menjadi doktor dari UKM, sebelum namanya harum sebagai pakar lingkungan yang ditakuti korporat dan dihormati masyarakat adat, Bg Elev yang biasa dipanggil adalah aktivis kampus Universitas Riau (UNRI).

Kami sama-sama alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pekanbaru. Di sanalah ia ditempa menjadi pribadi yang hari ini kita kenal: kritis, lantang, tapi tetap rendah hati.

HMI era 1990-an hingga awal 2000-an di Pekanbaru adalah kawah candradimuka yang melahirkan banyak pemikir muda Riau. Di forum-forum diskusi semi-formal, di sekretariat yang pengap dan minim ventilasi, di bawah lampu penerangan seadanya, Elviriadi belajar merumuskan gagasan. Ia tak hanya pandai bicara, tapi juga tekun membaca.

Teman-teman seangkatannya mengenang, koleksi buku Elviriadi di sekretariat HMI selalu paling banyak, dan juga tulisan beliau yang diterbitkan di media masa di Riau.

“Dulu kami diskusi sampai subuh,” kenang seorang senior HMI Pekanbaru. “Elev itu kalau debat, argumentasinya tajam, tapi tidak pernah merendahkan lawan bicara. Ia punya prinsip, ilmu harus mengajarkan kita rendah hati, bukan sombong.”

Prinsip itu terbawa hingga kini. Di tengah gemerlap jabatan dan pengakuan sebagai ahli, Dr. Elviriadi tetap bisa duduk lesehan di warung kopi bersama mahasiswa bimbingannya, mendengar keluh kesah mereka, dan memberi nasihat dengan tulus. Bahkan setelah malang-melintang di dunia kebijakan nasional, ia tak pernah berubah: tetap rendah hati, tetap dekat dengan kader-kader HMI yang meminta motivasi dan bimbingan.

——————

Babak II:

Titik Balik Seorang Pemuda Miskin yang Ingin Kuliah ke Luar Negeri

Saya tak pernah lupa bagaimana Dr. Elviriadi mengubah hidup saya. Sebelum mengenalnya, kuliah ke luar negeri adalah mimpi absurd bagi anak muda miskin seperti saya. Kami terbiasa berpikir dalam kandang realitas: kuliah saja di dalam negeri sudah untung, apalagi ke luar negeri? Ongkosnya mahal, bahasanya tidak dikuasai, dan birokrasinya rumit. Anggapan itu begitu mendarah daging. Tapi Elviriadi datang dengan cara berpikir lain.

“Adinda, di luar negeri itu bukan cuma untuk orang kaya,” katanya suatu pagi di kedai kantin

Klinik Kesihatan Kajang yang merupakan punya ibu saya di Malaysia. “Kita bisa cari beasiswa. Banyak betul sekarang peluang dengan nada khas melayu. Di Australia, di Eropa, di Jepangdan Timur Tengah asal ada kemauan, pasti ada jalan. Allah sudah janjikan rezeki untuk setiap hamba-Nya yang berusaha.”

Saya hanya bisa terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi menghantam dinding-dinding ketakutan yang selama ini saya bangun. Dari situlah perubahan dimulai. Saya mulai belajar bahasa Inggris otodidak, tanpa guru, tanpa kursus mahal.

Dulu, belum ada kemudahan akses seperti YouTube atau materi daring seperti sekarang. Yang ada hanya buku-buku bekas yang saya beli dari toko buku bekas di Sudirman, Pekanbaru. Kamus Inggris-Indonesia jadul yang halamannya sudah menguning menjadi sahabat setia.

Saya baca koran berbahasa Inggris pelan-pelan, satu paragraf bisa makan waktu sejam karena harus bolak-balik buka kamus. Tapi semangat yang ditularkan Elviriadi membuat semua proses itu terasa ringan.

Kini, ketika saya bisa menuliskan kisah ini dalam bahasa yang relatif baik, saya sadar: Elviriadi bukan hanya mengubah perspektif saya tentang pendidikan, tapi juga menanamkan keyakinan bahwa kemiskinan bukan takdir. Kemiskinan hanya kondisi sementara yang bisa dilawan dengan ilmu dan kemauan.


Babak III:

Konferensi di Selandia Baru dan Pelajaran tentang Keberanian

Dari sekian banyak kisah heroik Dr. Elviriadi, satu cerita yang paling membekas adalah ketika ia nekat berangkat ke konferensi internasional di Selandia Baru tanpa kepastian biaya akomodasi.

Waktu itu, beliau mendapat undangan sebagai pembicara di sebuah konferensi bergengsi. Ini bukan undangan biasa ini adalah pengakuan internasional atas pemikirannya. Tapi kebahagiaan itu segera berhadapan dengan tembok realitas: uang tak ada.

Banyak orang akan menyerah. Bilang saja tidak bisa datang, kirim paper, atau sekadar presentasi virtual. Tapi Elviriadi bukan tipe orang yang membiarkan kesempatan emas berlalu begitu saja. Ia bergerak. Menghubungi sana-sini, mencari dana ke berbagai pihak. Akhirnya, beberapa tokoh Riau tergerak hatinya membantu biaya dan dapat beli tiket pesawat.

Tapi masalah belum selesai. Biaya hotel dan akomodasi selama di Selandia Baru masih menganga. Di sinilah letak kegigihan sejati seorang Elviriadi: ia tetap berangkat meskipun untuk hotel saja belum punya uang.

“Kalau sudah ada niat baik, Allah pasti mudahkan,” katanya sebelum terbang. Dan benar saja. Sesampainya di Selandia Baru, ia memilih tinggal di masjid selama beberapa hari pertama. Tidur beralaskan sajadah, mandi seadanya, dan terus berdoa.

Pada konferensi itu, presentasi Elviriadi menuai pujian. Jaringannya meluas. Ia bahkan mendapat penghargaan dari panitia atas kontribusinya. Semua itu diraih bukan dengan uang, tapi dengan keberanian dan keyakinan bahwa langkah kecil yang dimulai dengan niat baik akan berujung pada kemudahan dari Yang Maha Kuasa.

Pelajaran dari Selandia Baru itu sederhana namun dalam: jangan pernah menunda mimpi hanya karena kekurangan. Mulailah melangkah, dan jalan akan terbuka sendiri.

Babak IV: Multi Talenta Pakar Lingkungan, Staf Ahli Menteri, Da’i, dan Motivator

Dr. Elviriadi, S.Pi., M.Si. bukan sekadar akademisi biasa. Ia adalah sosok multi talenta yang langka. Di Provinsi Riau, namanya melambung sebagai pakar lingkungan hidup yang kritis dan vokal. Ketika banyak orang pintar memilih diam atau berpihak pada penguasa dan korporat, Elviriadi justru memilih jalan yang lebih sunyi: membela masyarakat kecil.

Pengalamannya yang luas dan integritasnya yang tak terbantahkan membawanya ke panggung nasional. Ia pernah dipercaya menjadi Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Siti Nurbaya, M.Sc. Di posisi strategis itu, ia tetap menjaga sikap kritisnya. Bukan sekadar “yes man”, ia memberi masukan ilmiah yang tajam dan berani berbeda pendapat demi kepentingan lingkungan dan masyarakat.

Pengalaman ini memperkaya wawasannya tentang kebijakan publik dan semakin mengokohkan posisinya sebagai intelektual yang tidak hanya paham teori, tapi juga dinamika kekuasaan.

Sejak masa kuliah S1, saya sudah membaca tulisan-tulisannya di media massa. Kolom-kolomnya tajam, berisi data, dan sarat keprihatinan terhadap kerusakan alam Riau. Ia tak hanya menulis untuk menggugat, tapi juga memberi solusi. Kritisisme yang ia bangun selalu konstruktif, tak sekadar hujatan kosong. Selain aktif di media, Elviriadi juga produktif menulis buku. Buku-bukunya menjadi rujukan banyak kalangan, dari mahasiswa hingga pegiat lingkungan.

Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan peneliti, ia masih menyempatkan diri menulis baik karya ilmiah maupun populer. Tapi yang membuat saya semakin kagum, di luar keilmuannya yang mumpuni, Elviriadi adalah seorang da’i yang luar biasa. Di kalangan aktivis HMI dan masyarakat luas, ia dikenal sebagai  “Singa Mimbar”. Bukan sekadar pandai berceramah, ia memiliki kedalaman ilmu agama yang mumpuni.

Ia banyak menguasai dan hafal ayat-ayat Alquran, mampu mengaitkan pesan-pesan ilahiah dengan realitas sosial dan lingkungan hidup. Ceramah-ceramahnya selalu dinanti, karena ia mampu menyampaikan nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil ‘alamin dengan cara yang menyejukkan namun tetap tegas.

Sebagai sesama kader HMI, saya juga merasakan langsung perannya sebagai motivator. Bagi adik-adik HMI di Pekanbaru dan berbagai cabang, Dr. Elviriadi adalah teladan hidup. Ia tak pernah lelah memberikan semangat, berbagi pengalaman, dan menunjukkan bahwa kader HMI bisa berkarier di mana saja tanpa kehilangan idealismenya.

Rumahnya yang sederhana selalu terbuka untuk diskusi, ruang tamunya sering berubah menjadi kelas informal tempat gagasan-gagasan besar dipertukarkan.

———————

Babak V: Zuhud di Tengah Hiruk-Pikuk Zaman

Di tengah gaya hidup konsumtif yang merangsek ke berbagai lini kehidupan, Dr. Elviriadi hadir sebagai sosok yang mengingatkan kita pada makna kesederhanaan. Ia hidup dalam kondisi yang boleh dibilang zuhud tidak silau oleh gemerlap dunia, tidak tergoda oleh iming-iming materi.

Banyak orang terkejut ketika tahu bahwa seorang pakar sekaliber beliau yang pernah menjadi staf ahli menteri, yang sering menjadi saksi ahli di pengadilan, yang namanya haram di mata korporat tinggal di rumah kecil yang sangat sederhana, Honda Astrea-grand butut yang sangat tua dan tetap setia pada penampilan apa adanya. Tapi bagi Elviriadi, semua itu bukanlah soal kekurangan. Justru itulah kekayaan sejati: ketika seseorang tidak lagi diperbudak oleh harta.

“Saya tidak mau dibayar untuk diam,” katanya suatu kali. “Kalau saya ambil uang mereka, lidah saya kelu untuk membela kebenaran.”

Keteguhan itu yang membuatnya dihormati, bahkan oleh mereka yang berseberangan secara ideologis. Di zaman ketika banyak intelektual terjebak pragmatisme, Elviriadi adalah oase yang menyegarkan pengingat bahwa ilmu sejati adalah yang membebaskan, bukan yang menjual diri.

———————

Babak VI: Kekhawatiran Seorang Anak Bangsa

Di balik ketegaran dan keberaniannya, Dr. Elviriadi menyimpan kekhawatiran mendalam tentang masa depan lingkungan hidup di Riau dan Indonesia. Ia melihat sendiri bagaimana hutan Sumatra yang dulu hijau kini berganti menjadi sawit dan tambang. Ia menyaksikan bagaimana sungai-sungai yang dulu jernih berubah warna dan bau. Ia mendengar sendiri keluhan petani yang tanahnya dirampas atas nama investasi.

Dalam berbagai kesempatan, ia tak henti-hentinya mengingatkan: “Kita sedang bermain api. Jika lingkungan hancur, anak cucu kita yang akan menanggung akibatnya.” Kata-katanya mungkin terdengar klise bagi yang tak peduli. Tapi bagi yang pernah mendengar langsung nada suaranya saat berbicara tentang sungai yang mati dan hutan yang lenyap, akan terasa betapa dalam kecintaannya pada bumi Riau. Itu bukan sekadar wacana akademik, tapi tangisan jiwa seorang anak negeri yang menyaksikan tanah kelahirannya terluka.

———————

Epilog: Warisan yang Tak Kasat Mata

Kini, ketika saya menuliskan kisah ini, Dr. Elviriadi genap memasuki usia 49 tahun. Setengah abad hampir ia lewati, tapi api perjuangannya tak pernah redup. Di usianya yang tak lagi muda, ia tetap konsisten berada di garis rakyat membela yang tertindas, menyuarakan kebenaran, dan hidup dalam kesederhanaan.

Tidak ada jabatan mentereng yang ia kejar, tidak ada kekayaan melimpah yang ia kumpulkan. Tapi warisannya justru terletak pada hal-hal yang tak kasat mata: pada ribuan mahasiswa yang tercerahkan oleh ajarannya, pada masyarakat adat yang kembali percaya pada keadilan, pada petani-petani kecil yang bebas dari jerat hukum, pada kader-kader HMI yang terus menyala semangatnya karena motivasinya, pada jamaah yang hatinya tersentuh oleh dakwahnya, dan pada saya sendiri yang dulunya takut bermimpi, kini berani melangkah ke luar negeri karena dorongannya.

Dr. Elviriadi, M.Si. adalah bukti hidup bahwa seseorang tak perlu kaya raya untuk menjadi besar. Ia adalah teladan bahwa ilmu yang paling mulia adalah yang diamalkan untuk membela mereka yang lemah. Ia adalah cermin bahwa perjuangan sejati tak pernah berakhir pada gelar atau pujian, tapi pada seberapa banyak hati yang tersentuh dan kehidupan yang berubah.

Di usia 49 tahun, ia masih tegak berdiri di garda terdepan, membela mereka yang tak bersuara sebuah konsistensi yang semakin langka di zaman serba pragmatis ini.

Di tengah zaman yang semakin pragmatis, kita butuh lebih banyak Elviriadi intelektual organik yang dekat dengan rakyat, pemberani yang tak bisa dibeli, da’i yang menyejukkan hati, dan manusia sederhana yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, tapi dari apa yang bisa kita berikan untuk sesama.

Selamat berjuang, Doktor. Riau mungkin tak akan pernah cukup berterima kasih padamu. Tapi sungai-sungai yang mengalir, hutan-hutan yang tersisa, petani-petani yang kau bela, kader-kader yang kau motivasi, dan ayat-ayat suci yang kau lantunkan mereka semua akan terus bercerita tentang seorang lelaki sederhana yang tak pernah menyerah, bahkan ketika dunia seolah berhenti berpihak.

Di usiamu yang ke-49, engkau tetap menjadi lentera di tengah kegelapan, bukti bahwa konsistensi pada kebenaran adalah bentuk perlawanan paling elegan terhadap zaman.

Biografi ini ditulis oleh seseorang yang pernah disentuh semangatnya, diubah oleh motivasinya, dan kini meneruskan perjuangannya dengan cara masing-masing. Karena kami percaya: dari satu lilin yang dinyalakan, ribuan lilin lainnya bisa ikut bercahaya. Dan Dr. Elviriadi adalah lilin itu.

Satria Antoni, PhD (Praktisi Migas) adalah: Prolog: Pertemuan di Negeri Jiran, Alumni program Doktoral Marine Geology King Abdul Aziz University

Example 300250
Example 120x600