Example floating
Example floating
Artikel

Cerpen :  “Ku balas cinta dengan cinta”

7
×

Cerpen :  “Ku balas cinta dengan cinta”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Perjalanan masih di paruh kedua, usai singgah makan bus yang ditumpangi dari Riau menuju ke Sumut ini melanjutkan perjalanannya, kali ini meredah gelapnya malam. Aku merogoh HP Android di tas sandang, Kulihat jam diatas layar HP sedang menunjukkan pukul 01:30 WIB.

Perlahan-lahan mulai melanjutkan ke fitur WhatsApp, beberapa group lumayan banyak pesan yang masuk, aku fokus pada kontak kontak pribadi yang kuanggap penting. Dea mengirimkan sebuah lagu pop tahun 80 sampai 90. Covernya photo Dian Piesha. Sekali lagi aku merogoh ke tas sandang ku.

Example 300x600

Kutarik earphone dan kupasang ke HP dan ke telingaku, saatnya aku menikmati Lagu apa yang telah dikirim De. Perlahan kudengar”

Di sini setahun yang lalu

Menyatu hatiku dan hatimu

Tanpa janji-janji, tanpa kemesraan

Kau diam, aku pun membisu

 

Kau pergi dengan cita-cita

Ke kota yang jauh di sana

Pasrah sudah hati, hanya doa restu

Kutunggu dengan sabar hati

 

Siang malam hanya doa yang kupanjatkan

Tuhan, lindungilah dia yang kusayangi

Satukanlah hati kami berdua

Selamanya, selamanya

 

Siang malam hanya doa yang kupanjatkan

Tuhan, lindungilah dia yang kusayangi

Satukanlah hati kami berdua

Selamanya, selamanya. 

Beberapa bait kemudian lagu ciptaan Pance Pondaag ini tak ku simak jelas, pikiran ku malah mengenang kembali ke pengirim video si Dea. Dea kemarin dapat nomor HP ku dari messenger Facebook. Gadis yang dulu suka berambut kepang dua sewaktu di SMA.

Aku sengaja mengkonfirmasi pertemanan dengannya setelah melihat photo profil dan biodata serta galeri foto di beranda Facebooknya. Dea seperti yang pernah ku kenal dan ternyata benar. “Kita sudah berbeda Pulau sekarang, minta nomor wa nya,” ucap Dea di messenger Facebook ku.

Aku ingat Dea, pemain voli anak kelas tiga A3 (Sosial ) sewaktu kami di SMA, Tim ku dikelas A2 ( Biologi) selalu dikalahkan Timnya. Aku suka usil padanya karena sakit hati, sementara di Tim putra sebagai pemain aku juga sering di sorak Dea kalau permainanku buat kesalahan. Begitupun aku dan teman teman menang dari kelas Dea.

Tapi lama kelamaan saling ejek antara kami hanya dalam pertandingan antar kelas, diluar itu aku dan Dea mulai sering memperhatikan. Ditambah lagi usai Ujian akhir tahun kami sama sama menjadi Tim sekolah untuk bertanding merebut piala tujuh belasan.

Dea suka ceplas ceplos, kepada Susan teman sekelasku Dea mengatakan kami hubungan, akibatnya aku dijuluki cowok Dea oleh teman teman dikelasku. Teman teman bilang aku dan Dea pasangan serasi. Entah dari sudut mana teman teman ku menilai, padahal wajah ku tak sebanding, Dea cantik dan bersarana mewah kala itu, sedang aku pulang sekolah atau waktu liburan bekerja kehutan menyadap karet. Mungkin karena sama sama pemain voli.

“Tapi aku suka padamu” kata Dea sewaktu kutanya di pengumuman kelulusan. Aku tidak menjawab sebab suasananya agak hiruk pikuk, kami saling mencontreng baju seragam putih dengan cat dan meneken dengan spidol, belum lagi memulai kompoi kesana- kemari dengan kereta, aku numpang kereta teman bahkan hampir jatuh, Dea dengan keretanya membonceng teman cewek pula. Ugal ugalan kegembiraan itu berlangsung hingga aku pulangnya malam.

Aku ingat pagi itu hari Senin, kami kesekolahan sudah tidak berbaju seragam, berpakaian bebas namun rapi menjemput ijazah. Aku berjumpa Dea di Gerbang Sekolah, berbaju kaos putih dan celana jeans biru terlihat Dewasa seperti anak kuliahan. Ngobrol tentang melanjutkan sekolah aku tak menjawab.

Bagaimana dengan yang kuucapkan kemarin…? “Yang mana,” tanyaku, “aku suka kamu” kata Dea mengulangi. Aku melihat keseriusan dimatanya, itu tak pernah kulihat sebelumnya.” Aku juga,” ucapku spontan. Dea tersenyum dan berlalu menuju ke parkiran. Dan aku melanjutkan jalan kaki mengejar keiringin teman teman ku menuju pulang. Ijazahku kudekap didada.

Hingga beberapa tahun aku tak pernah bertemu Dea, sewaktu itu komunikasi tidak seperti sekarang, tahun sembilan puluhan belum ada HP. Aku sibuk mencari pekerjaan, tak pernah berpikir untuk bisa bersama Dea, aku minder pada keadaan hidup yang jauh berbeda. hingga menemukan jodoh dan aku berumah tangga, aku pernah dengar kabar dari teman Dea sudah kuliah dan bekerja.

Kemarin Dea bercerita punya anak dan menantu di WhatsApp, seperti aku juga. Aku melihat para penumpang disemua sudut pulas tertidur. Hanya aku yang berjaga dengan supir Bus, kernetpun tertidur di dekat pintu, angin subuh menghembus dingin dari jendela bus yang terbuka. Kulihat diluar bangunan bangunan bergeser dari pandanganku, Kenangan tinggallah kenangan. Lagu “Tuhan satukanlah hati kami” di HP ku pun telah lama habis, membisu.

 

Selesai !

 

Hanya Karya fiktif akhir November 2025.

ditulis : ZURFAMI.

Example 300250
Example 120x600