Example floating
Example floating
Internasional - Luar Negeri

Perang AS-Israel vs Iran Blokir Jalur 20% Minyak Dunia, AS Butuh 6 Bulan Bersihkan Ranjau

19
×

Perang AS-Israel vs Iran Blokir Jalur 20% Minyak Dunia, AS Butuh 6 Bulan Bersihkan Ranjau

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, Kompas 1 net – Perang AS-Israel melawan Iran yang sudah berjalan 9 minggu membuat Selat Hormuz lumpuh. Padahal selat sempit ini adalah jalur 20% minyak dan gas dunia. Akibatnya, ekonomi global terguncang dan risiko resesi meningkat.

Sekitar 2.000 kapal kini terjebak di Teluk, menunggu izin lewat. Iran menutup selat itu sejak 28 Februari, setelah serangan di Teheran menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Putranya, Mojtaba Khamenei, kini gantikan posisi tersebut.

Ranjau Jadi Masalah Utama 

AS menyebut butuh 6 bulan untuk membersihkan ranjau yang diduga dipasang Iran. Ini bikin perusahaan asuransi setop menanggung “risiko perang” bagi kapal tanker sejak Maret. Kalaupun selat dibuka, premi asuransi bisa naik dari 0,25% jadi 5% dari harga kapal. Kapal seharga $100 juta yang dulu bayar premi $250 ribu, kini bisa kena $5 juta sekali lewat.

Saling Blokir 

Pembicaraan AS-Iran di Islamabad 11 April gagal. Dua hari kemudian, Presiden Trump umumkan blokade laut ke pelabuhan Iran dan Selat Hormuz. AS menangkap kapal yang terkait Iran, baik di Teluk maupun Asia-Pasifik. Iran menyebutnya “pembajakan”.

Iran awalnya masih izinkan kapal dari negara “bersahabat” seperti India, Pakistan, Turki, dan China lewat, dengan bayar tol. Tapi sekarang semua kapal asing dilarang sampai AS cabut blokade. Iran sudah terbitkan peta area yang katanya sudah dipasangi ranjau dan rute baru yang lebih dekat ke pantainya agar tanker aman.

Trump Perintahkan Tembak Kapal Pemasang Ranjau

Kamis lalu, Trump perintahkan militer AS menembak kapal apa pun yang memasang ranjau di Selat Hormuz. “Tidak ada keraguan,” tulisnya di Truth Social. Ia juga klaim sudah tenggelamkan 159 kapal Iran dan perintahkan penyapu ranjau bekerja 3 kali lebih cepat.

Dampak Terbesar dalam Sejarah 

Badan Energi Internasional menyebut ini “gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah”, lebih parah dari krisis 1970-an. AS mulai operasi sapu ranjau 11 April pakai kapal perusak USS Frank E Peterson dan USS Michael Murphy, plus drone bawah air.

Tapi Pentagon akui ke DPR AS pada 21 April: butuh 6 bulan untuk benar-benar bersih, dan itu pun hanya bisa kalau perang sudah selesai. Menhan AS Pete Hegseth bilang mereka yakin bisa, tapi analis ragu. “Membersihkan dengan kepastian penuh nyaris mustahil,” kata pakar asuransi.

Asuransi Takut, Kapal Terancam

Perusahaan asuransi bilang, mereka bisa menanggung risiko kalau bisa diukur. Tapi kalau jumlah ranjau tidak pasti, premi tidak bisa dihitung. “Pasar bisa jamin volatilitas, tapi sulit jamin ketidakpastian,” kata Oscar Seikaly, CEO NSI Insurance Group.

Bahkan setelah damai, rute kapal akan terbatas dekat Iran dan Oman. Jalur itu sempit, tidak muat untuk volume normal kapal lewat Hormuz, kata BIMCO, asosiasi pemilik kapal dunia.

Insiden 18 April jadi bukti: kapal tanker India Sanmar Herald sudah dapat izin Iran, tapi tetap ditembaki militer Iran. Kaptennya terdengar panik di radio: “Anda beri saya izin! Kenapa menembak sekarang!”

Syarat Selat Bisa Normal Lagi

Penjamin asuransi minta 6 hal sebelum berani meng-cover kapal lagi:

1. Gencatan senjata tahan lama

2. Jaminan keamanan angkatan laut

3. Bebas navigasi konsisten

4. Tidak ada penyitaan kapal baru

5. Pembersihan ranjau yang kredibel

6. Aturan militer yang jelas di kawasan

“Kalau satu insiden bisa memicu perang lagi, risikonya terlalu besar,” kata Seikaly. Sebelum perang, premi hanya 0,25%. Sekarang bisa 1% sampai 5%, bahkan lebih tergantung bendera dan muatan kapal.

 

Sumber: Al Jazeera, 24 April 2026

 

Example 120x600