Example floating
Example floating
Artikel

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW: Sebuah Mu’jizat yang Terjadi Secara Jaga atau Sadar, Dzahir dan Bathin ? Dibenarkan Oleh Iman Versus Ilmu Pengetahuan Sains dan Teknologi Modern  Oleh : M. Sangap Siregar, S.Pd., MA

31
×

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW: Sebuah Mu’jizat yang Terjadi Secara Jaga atau Sadar, Dzahir dan Bathin ? Dibenarkan Oleh Iman Versus Ilmu Pengetahuan Sains dan Teknologi Modern  Oleh : M. Sangap Siregar, S.Pd., MA

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Dengan bismillah bermula kalam, dengan sholawat dibuka salam. Semoga nitizen sehat dan tentram, diberkahi pemilik semesta alam. Aamiin!

Pendahuluan :

Example 300x600

Isra’ mi’raj adalah peristiwa mulia dalam sejarah Islam yang menggambarkan perjalanan nabi Muhammad SAW dari masjid Haram di Mekkah ke masjid Aqsa di Palestina (Isra’). Kemudian melanjutkan perjalanan mi’raj pertikal dari masjidil Aqsa ke langit hingga ke Sidratil Muntaha ke tempat yang paling tinggi (kehadiran Allah SWT).

Peristiwa ini, bukan hanya menjadi pijakan penting dalam ajaran Islam, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai sifat terjadinya – apakah secara jaga atau sadar, zahir dan/ atau batin – serta bagaimana posisinya dalam kaitan dengan Ilmu pengetahuan, sains dan teknologi modern.

Artikel ini bertujuan mengkaji peristiwa isra’ mi’raj dari berbagai dimensi ilmu pengetahuan sains modern, filsafat dan perspektif keagamaan, serta menjelajahi keselarasan atau perbedaan antara iman dan ilmu pengetahuan.

Uraian Materi :

1. Perspektif Keagamaan : Sifat Terjadinya Isra’ Mi’raj
Menurut ajaran Islam isra’ mi’raj adalah mu’jizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bukti kebenaran risalahnya.

Ulama beda pendapat dalam menginterpretasi sifat terjadinya :

Perspektif Zahir :
Beberapa ulama, seperti Imam Bukhori dan Imam Muslim berpendapat bahwa peristiwa ini terjadi secara fisik dan sadar. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan (diperjalankan oleh Allah SWT) bersama malaikat Jibril dengan mengendarai seekor bintang tunggangan bersayap yang bernama Buraq, bertemu dengan para nabi sebelumnya, dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT secara langsung.

Perspektif Batin :
Ulama seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa isra’ mi’raj juga memiliki dimensi spritual yang merupakan perjalanan jiwa dan kesadaran menuju kedekatan dengan Allah SWT. Perjalanan ini menggambarkan proses pembinaan diri dan peningkatan kesadaran spritual manusia.

Perspektif Gabungan :
Banyak ulama modern berpendapat bahwa peristiwa ini terjadi secara simultan – baik secara zahir (fisik) maupun batin (spritual) serta dalam kondisi sadar, sebagai bentuk mu’jizat yang melampaui batasan pengetahuan alamiah biasa.

2. Keselarasan Dengan Ilmu Pengetahuan Modern :
a. Fisika Kuantum
Fisika Kuantum menunjukkan bahwa realitas tidak hanya terbatas pada yang terlihat oleh panca indra. Konsep superposisi (partikel dapat berada di dua tempat sekaligus) dan entanglement (hubungan antara partikel yang terpisah jarak jauh) menunjukkan bahwa ada dimensi realitas yang tidak dapat dijelaskan dengan mekanika klasik.

Beberapa cendekiawan berargumen bahwa perjalanan isra’ mi’raj yang melintasi jarak jauh dalam waktu singkat dapat ditemukan paralel dengan konsep ini, dimana ruang dan waktu tidak lagi menjadi hambatan absolut.

b. Teori Relativitas (Albert Einstain)
Teori relativitas khusus menjelaskan bahwa waktu dan ruang bersifat relatif terhadap gerakan pengamat. Semakin cepat kecepatan sebuah objek, semakin lambat waktu yang dialaminya (dilatasi waktu). Teori relativitas umum juga menyatakan bahwa ruang – waktu dapat melengkung akibat adanya massa dan energi.

Dari perspektif ini isra’ mi”raj yang dilakukan dalam waktu singkat dapat dihubungkan dengan konsep manipulasi ruang – waktu yang mungkin terjadi dalam kondisi yang melampaui kecepatan cahaya atau melalui jalur alam semesta yang berbeda.

c. Rambat Gelombang dan Dimensi Tambahan

Teori Gelombang menyatakan bahwa segala sesuatu dalam alam semesta memiliki sifat gelombang, termasuk materi dan energi. Beberapa teori fisika modern seperti teori string, mengusulkan adanya lebih dari 4 dimensi (3 dimensi ruang dan 1 dimensi waktu) yang tidak terlihat oleh manusia. Peristiwa isra’ mi’raj seperti diinterpretasikan sebagai perjalanan melalui dimensi tambahan dimana pergerakan tidak terbatas oleh batasan dimensi yang kita kenal.

d. Astronomi Modern
Astronomi modern telah membuktikan bahwa alam semesta sangat luas, dengan milyaran galaksi dan bintang. Perjalanan mi’raj yang mencapai Sidratul Muntaha – tempat yang berada diluar alam semesta yang terlihat – selaras dengan pemahaman bahwa alam semesta yang kita ketahui bukanlah satu-satunya realitas. Penemuan lubang hitam, quasar dan radiasi latar belakang mikro gelombang juga menunjukkan adanya fenomena yang melampaui pemahaman manusia saat ini, sama seperti mu’jizat isra’ mi’raj.

e. Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu menekankan bahwa ilmu pengetahuan memiliki batasan – tidak semua hal dapat dijelaskan dengan metode ilmiah yang ada saat ini. Konsep fenomena transenden (yang ada diluar batasan pengetahuan ilmiah) menjadi titik temu antara iman dan ilmu. Isra’ mi’raj sebagai mu’jizat adalah fenomena yang berada pada tingkat yang berbeda dari realitas alamiah, sehingga tidak dapat diuji dengan metode ilmiah konvensional. Namun tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang mengakui adanya batasan pemahaman manusia.

3. Hubungan Iman dan Ilmu Pengetahuan

Peristiwa Isra’ Mi’raj tidak bertujuan untuk menjadi teori ilmiah tetapi sebagai pesan spritual tentang kedalaman kekuasaan Allah SWT dan potensi kesadaran manusia. Iman dan ilmu pengetahuan memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi :

* Iman memberikan landasan nilai dan makna kehidupan serta menjelaskan aspek transenden dari realitas
* Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami alam semesta yang diciptakan oleh Allah SWT dan mengembangkan teknologi untuk kesejahtraan umat manusia
* Tidak ada konflik yang mutlak antara keduanya, karena ilmu pengetahuan menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja, sedangkan iman menjelaskan mengapa alam semesta ada dan apa maknanya bagi kehidupan manusia.

Kesimpulan :

Isra’ mi’raj nabi Muhammad SAW adalah peristiwa mulia yang memiliki dimensi zahir dan batin, serta terjadi dalam kondisi sadar sebagai bentuk mu’jizat yang diberikan oleh Allah SWT. Meski tidak dapat dijelaskan secara penuh dengan metode ilmiah konvensional, prinsip-prinsip ilmu pengetahuan modern seperti fisika kuantum, teori relativitas dan astronomi menunjukkan adanya keselarasan dalam hal pengakuan terhadap batasan pemahaman manusia dan adanya realitas yang melampaui dimensi yang kita kenal.

Hubungan antar iman dan ilmu pengetahuan bukanlah hubungan yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Iman memberi makna dan arah sedangkan ilmu pengetahuan membantu memahami ciptaan Allah SWT dengan lebih mendalam. Peristiwa isra’ mi’raj mengajarkan manusia untuk terus menjelajahi pengetahuan dan meningkatkan kesadaran spritual sekaligus.

Penutup :

Peristiwa isra’ mi’raj adalah salah satu tonggak penting dalam ajaran Islam yang terus menginspirasi umat untuk menggali kedalaman makna kehidupan dan hubungan dengan Sang Khaliq Pencipta. Dengan memadukan perspektif keagamaan dan pemahaman ilmu pengetahuan modern, kita dapat melihat peristiwa ini bukan hanya sebuah cerita sejarah, tetapi juga panduan untuk menghadapi tantangan zaman dan meningkatkan kualitas hidup manusia di dunia dan akhirat. Semoga artikel ini memberi sentruman wawasan baru dalam memperdalam pemahaman kita terhadap peristiwa mulia ini insyaAllah.

Wassalam.

M. Sangap Siregar, S.Pd., MA. adalah
Dosen Univ. Hang Tuah Pekanbaru Riau,
Alumni Magister Psikologi Konseling University Kebangsaan Malaysia, 2004. dan Anggota Muballigh MDI Kota Pekanbaru

 

Sumber :
Media Kecerdasan AI ; www.dola.com

Example 300250
Example 120x600