Example floating
Example floating
Artikel

Episode 4 – “Langkah yang Tak Bisa Ditarik” Drama Angling Darma – Kisah Arul Raksa

47
×

Episode 4 – “Langkah yang Tak Bisa Ditarik” Drama Angling Darma – Kisah Arul Raksa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Langit mendung menggantung di perbatasan Malawapati. Genderang perang dipukul bertalu-talu, menggetarkan tanah dan dada para prajurit. Di barisan depan, Arul Raksa berdiri tegak, pedang Nagara Nadi di tangannya berkilau dingin.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di medan perang.
Bayangan Sundari Wulan terus hadir di benaknya.

Example 300x600

Saat pasukan mulai bergerak maju, terdengar derap kuda dari belakang barisan.

“Hentikan!”

Suara perempuan itu menggema.

Arul menoleh — dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

Sundari Wulan.

Ia mengenakan busana perang sederhana berwarna hijau gelap. Rambutnya diikat rapi, di punggungnya tergantung busur kecil, bukan sebagai senjata utama, melainkan simbol tekad.

“Kau tidak berhak berada di sini!” seru Arul tegas.

Sundari turun dari kuda dan berdiri tepat di hadapannya.

“Aku tidak datang sebagai putri Tunggulwulung. Aku datang sebagai seseorang yang memilih berjalan bersamamu.”

Arul menggeleng keras.
“Ini medan mati, Sundari!”

Sundari menatapnya tanpa gentar.
“Lalu apa bedanya dengan hidup menunggu kehilangan?”

Kata-kata itu menghantam Arul lebih dalam dari pedang mana pun.

Api di Tengah Kabut

Kabut hitam mulai menyelimuti medan. Dari balik kabut, terdengar lolongan panjang. Pasukan siluman muncul satu per satu, mata mereka menyala merah.

Pertempuran meledak.

Arul menerjang ke depan, mengayunkan Aji Sembilan Nadi. Cahaya putih menyapu pasukan siluman. Namun dari sisi kanan, seekor siluman besar melompat ke arah Sundari.

“Sundari!”

Arul berlari, tetapi terlambat.

Saat itulah Sundari mengangkat kedua tangannya, menutup mata, dan berbisik:

“Aku tidak ingin bersembunyi lagi…”

Tanah di bawah kakinya bergetar. Cahaya hijau lembut memancar, membentuk perisai cahaya yang menahan serangan siluman.

Arul terperangah.

“Kau… memiliki ilmu?”

Sundari membuka mata.

“Ini warisan ibuku. Aji Wana Citra. Ilmu penjaga kehidupan.”

Siluman itu terpental, menghilang menjadi asap hitam.

Arul berdiri terpaku. Selama ini ia melindungi Sundari karena mengira ia rapuh.
Ternyata, perempuan itu memiliki kekuatan — bukan untuk membunuh, tapi untuk bertahan dan melindungi.

Pengakuan di Tengah Perang

Di sela pertempuran, mereka berdiri saling membelakangi, menghadapi musuh dari dua arah.

“Maafkan aku…” kata Arul lirih di tengah denting senjata.
“Aku mencoba menjauhimu bukan karena aku tidak peduli… tapi karena aku terlalu peduli.”

Sundari tersenyum di tengah bahaya.

“Aku tidak butuh kau menjauh untuk melindungiku. Aku butuh kau berdiri di sisiku.”

Arul mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, hatinya tidak lagi diliputi rasa takut.

Bayangan Putih

Tiba-tiba medan perang terdiam. Kabut terbelah. Dari kejauhan, sosok berjubah putih berdiri di atas batu besar. Rambutnya terurai, wajahnya dingin.

Dewi Laksmi.

Tatapan Arul dan Sundari bertemu sejenak.

Ini bukan lagi soal masa lalu.
Ini soal pilihan.

Pedang Arul bergetar, seolah merasakan pertempuran yang lebih besar akan segera dimulai.


Bersambung…

Example 300250
Example 120x600