Matahari pagi menyinari halaman istana Malawapati. Para prajurit berlatih, pedang beradu menghasilkan suara logam yang menggema. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, Arul Raksa berdiri sendirian di bawah pohon beringin tua. Matanya kosong, pikirannya kacau.
Sejak kemunculan sosok misterius yang mirip Dewi Laksmi, hatinya terguncang.
Luka lama yang sudah lama ia kubur kini terbuka kembali.
Tiba-tiba langkah ringan terdengar mendekat. Sundari Wulan hadir dengan wajah yang sulit ditebak — antara lembut dan terluka.
“Arul…”
Suara itu pelan, seperti takut merusak sesuatu yang rapuh.
Arul tidak menoleh.
“Jika kau datang untuk menanyakan tentang tadi malam… aku tidak punya jawaban.”
Sundari diam sejenak sebelum berkata:
“Bukan jawaban yang kuinginkan. Aku hanya ingin tahu…”
Ia menelan rasa sakit di dadanya.
“…apakah di hatimu masih ada ruang untuk orang lain selain masa lalu?”
Arul memejamkan mata. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras dari serangan siluman mana pun.
“Aku tidak bisa menghapus Laksmi begitu saja, Sundari. Dia mati karena aku tidak mampu menjaganya.”
Sundari menghela napas panjang — bukan marah, tetapi patah.
“Aku tidak ingin menggantikan siapa pun. Aku hanya ingin berada di sampingmu sebagai diriku sendiri.”
Arul terdiam. Tangannya mencengkeram gagang pedang.
“Aku takut jika aku membiarkan hatiku terbuka lagi… aku akan kembali kehilangan orang yang kucinta. Dan kali ini aku mungkin tidak akan sanggup berdiri lagi.”
Air mata menggenang di mata Sundari, tapi ia tetap tersenyum.
“Arul, mencintai adalah keberanian. Jika kau menolak cinta karena takut kehilangan, maka sebenarnya kau sudah kalah sebelum berperang.”
Arul akhirnya menatapnya — untuk pertama kalinya benar-benar menatap.
Ada ketulusan yang tak bisa diingkari, kehangatan yang selama ini ia hindari.
Namun sebelum ia sempat menjawab, bunyi terompet perang menggema dari menara penjaga.
Prajurit berlari tergesa.
“Tuan Arul! Laporan penting! Pasukan Tunggulwulung terlihat bergerak menuju perbatasan! Kami melihat bendera hitam dan lambang kepala serigala!”
Arul mengangkat wajahnya, sorot matanya kembali tajam.
Sundari menatapnya dengan kecemasan.
“Itu lambang pasukan siluman… siapa yang memimpin mereka?”
Prajurit terengah-engah menjawab:
“Komandan mereka seorang perempuan berjubah putih… rambut panjang terurai… wajahnya pucat seperti mayat.”
Arul terpaku.
Sundari memandangnya, wajahnya pucat.
“Arul… apakah itu Dewi Laksmi?”
Arul tidak menjawab, tetapi tangan kanannya gemetar memegang pedang.
Di antara deru genderang perang, suara hatinya bergetar:
“Jika itu benar… aku harus menemuinya. Entah sebagai musuh… atau sebagai seseorang yang dulu kucinta.”
Sundari menunduk, menahan air mata.
“Kalau begitu… apa aku harus melepaskanmu?”
Angin dingin bertiup. Perang di luar menunggu — dan perang yang lebih dahsyat sedang terjadi di dalam hati Arul.
Arul menatap Sundari, suara lirih namun tegas:
“Jika aku kembali… dan aku masih hidup…”
Ia berhenti sejenak, matanya penuh pergulatan.
“…kau akan menjadi jawabannya.”
Sundari menutup mata, menahan tangis — antara harapan dan ketakutan.
Dan Arul melangkah pergi menuju medan perang, meninggalkan jembatan cinta yang belum selesai dibangun.
—
bersambung…













